Melawan Rasa Tidak Percaya Diri


Monday, 30 Nov -0001


Dulu ketika kuliah, saya termasuk gadis yang selalu gugup kalau harus berhadapan dengan lawan jenis. Jujur saja secara fisik saya akui memang tidak cantik. Pada saat itu juga saya kurang paham mode berpakaian yang kekinian beberapa rekan menyebut saya “cupu” (culun punya). Kalau ngampus gaya saya casual, Pakai Jeans, flatshoes yang ringan, pakai kaos polo dan bawa tas ransel model perempuan itu pun nggak ada yang mahal.

Saya termasuk mahasiswa aktif ketika di dalam kelas, selalu bertanya pada dosen dengan pedenya. Apalagi ketika presentasi mata kuliah saya selalu ditunjuk jadi juru bicara (jubir) buat teman-teman saya yang lain, yang malas dan malu berbicara ketika presentasi berlangsung.  Tidak heran tiap semester saya selalu mendapatkan IP yang tidak mengecewakan dan ketika lulus pun IPK saya terbilang cukup tinggi. Saya bersyukur pada Tuhan karena pernah mendapatkan berkat tersebut dibalik cerita-cerita yang mengecewakan dalam hidup saya yang lain.
 

Bagus di akademik bukan berarti bagus pula dalam hal karir dan percintaan. Dulu ketika baru lulus kuliah mengambil jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik saya berharap dengan ijasah dan IPK lumayan yang saya miliki, saya bisa bekerja di dunia broadcast atau media. Tapi sayangnya saya merupakan 1 dari sekian banyak jebolan dari jurusan saya tersebut yang pada akhirnya tetap bisa bekerja tapi tidak sesuai dengan target pekerjaan impian yang diharapkan. Malang sih tidak, hanya saja mungkin belum beruntung. Lagi-lagi saya dengar kanan kiri banyak yang mengatakan, kalau mau bisa lolos bekerja di dunia broadcast atau media skill, ijasah atau IPK saja tidak cukup, modalnya musti ditambah yaitu penampilan musti menarik (menarik disini kalau saya garis bawahi mereka harus cantik atau enak dilihat, gaul, kulitnya mulus tidak harus putih, tinggi nya pun ada aturannya). Sedangkan saya?

Hmmm...makinlah saya tidak percaya diri untuk apply cv dan lamaran ke stasiun televisi majalah dan radio. Apalagi beberapa kali saya ditolak oleh salah satu rumah produksi dan majalah. Mereka menerima lagi-lagi para perempuan yang secara fisik good looking (pikir saya saat itu, yaa... mungkin juga memang belum rezeki saya) padahal lagi tertarik banget bisa bekerja di media pada saat itu.


Akhirnya 7 tahun saya habiskan waktu untuk bekerja di Organisasi Sosial dengan macam-macam jabatan, dimulai jadi administrasi, Personal Assistant untuk beberapa manager, Assistant Data&Publikasi dan jabatan terakhir saya yang cukup lama di kantor tersebut agak pas dengan jurusan saya yaitu sebagai Assistant Koordinator Web Poster&Publikasi. Walaupun bukan media hits tapi saya dipercaya untuk menulis berita, press release organisasi, Discussion/press confrence Organizer tersebut dan inisiator kreatif content web dan social media organisasi. Walau sebenarnya bekerja di kantor itu terasa berat karena harus menjalani hari-hari di bully oleh segelintir orang yang iri dan kerap berusaha menjatuhkan saya agar saya tidak betah bekerja disitu. Tapi..See! saat itu saya tough ketika mereka cukup kuat untuk menjatuhkan dan mengecilkan kemampuan saya, saya pun berusaha kuat dan bertahan walau rasa percaya diri saya sukses mereka buat down.
 

Dalam percintaan lagi-lagi pada saat itu saya masih belum beruntung. Seperti yang saya katakan di awal tulisan, dulu saya termasuk gadis pemalu, kerap grogi dan tidak percaya diri berhadapan dengan lawan jenis. Makanya di antara sahabat, saya termasuk yang memiliki sedikit pacar. Saya perempuan yang gampang suka dan percaya sama orang, jadi baru ngerasa suka aja udah “daleeem” bawaanya seperti sudah cinta, padahal laki-laki yang saya suka itu belum tentu benar-benar suka sama saya. Pernah dulu waktu kuliah karena pengen punya gebetan kaya teman-teman, saya yang memiliki kurang percaya diri pada laki-laki ini coba-coba cari gebetan via chatting. Alhasil dapatlah ceritanya gebetan buat dikenalin ke teman-teman. Ketika kopi darat di sebuah mall saya pun tidak berani muncul lebih dulu, saya “ngumpet” saya cuma lihat dari jauh ciri-ciri pakaian yang dia kenakan. “Yaaa...ampuuun kagetnya, laki-laki yang mau saya ajak ketemuan itu ternyata di luar prediksi saya, secara fisik dia tampan, putih dan tinggi, Hmmmm...mana mau dia sama saya”pikir saya saat itu. Sempat ngedroop, karena sepertinya nggak mungkin berkenalan lebih jauh, ketika ketemu saya grogi dan nggak pede.

Rasa tidak percaya diri pun menghimpit saya lagi, ketika face to face dengan laki-laki chattingan itu dia langsung berubah, mimik mukanya jadi nggak bersahabat dan nggak seasik ketika chatting. Pikir saya “mungkin dia kecewa, oooohhh sedihnyaaa...” setelah ketemu kami pun pulang dia masih mau sih mengantar saya pulang kerumah, tapi kemudian hari berikutnya kami tidak pernah lagi komunikasi via chatting, apalagi telepon.
 

Zaman kuliah bahkan sampai ketika saya sudah bekerja rasa kurang Pede pada diri sendiri pun akhirnya juga  yang membawa saya terus mengalami kekecewaan dan kecewa dalam urusan love relationship dari mulai hanya dimanfaatin saja uang dan tenaganya sampai ditinggal nikah pun setelah di bohongi abis-abisan saya pernah mengalaminya. Saya yakini sekarang itu semua terjadi mungkin karena salah satunya faktor rasa kurang percaya dan mencintai diri sendiri yang saya miliki.


Baiklah..pada saat itu saya pikir lagi, saya harus berubah, saya tidak boleh berpikiran jelek pada diri saya sendiri. Tiap kali saya down terhadap diri saya dalam hal percintaan, tiap kali itu juga saya flashback dan mencatat lagi pencapaian-pencapaian lumayan yang pernah saya dapatkan dalam hidup, tujuannya agar lebih memotivasi dan lebih pede dalam melihat diri saya.

Saya memang tidak cantik secara fisik, saya juga tidak segaul teman-teman, tapi saya pasti punya kemampuan lain kok yang bisa saya tunjukkan saya pernah mendapat rangking satu berturut-turut ketika SMP walau di SMP gara-gara itu juga saya dibully, saya juga pernah juara 2 lomba menulis puisi dan cerpen tingkat SMA. Pada waktu kuliah dari semester 3 saya sudah tidak minta uang kuliah pada orang tua selain juga karena sambil mengajar freelance anak SD, berkah dari Tuhan juga saya mendapat beasiswa bebas biaya kuliah sampai wisuda karena memiliki IP yang selalu lumayan. Puncaknya ketika saya dinyatakan menjadi Mahasiswa terbaik di fakultas. Walau kampus saya merupakan kampus swasta di Jakarta tapi saya cukup terberkati dan harusnya hal itulah yang membuat saya Pede. Tapi mengapa saya terlahir jadi tidak pede, apa karena di kantor saya dulu juga kerap di pojokkan dan dianggap tidak memiliki kelebihan?
 

Well..dari situ saya belajar mengamati diri, saya ini harusnya bersyukur walau tidak dianugerahi kecantikan fisik, setidaknya saya sudah banyak diberkati oleh Tuhan dengan keberuntungan lain. Harusnya saya pede, tooh...orang lain tidak punya itu semua dan saya punya. Orang lain belum tentu mengalaminya, saya sudah mengalaminya. Dari pembelajaran itulah saya menemukan sedikit demi sedikit rasa percaya diri, walau sampai detik ini tetap saja sih ketika akan tampil di muka umum harus mengalami dulu yang namanya gemetaran dan gugup. Tapi atasan saya dikantor yang baru ini mengatakan “ketika kamu sedang merasa tidak percaya diri tampil di depan banyak orang, tanamkan dalam diri kamu kalau kamu bisa melakukannya, buat sugesti pikiran bahwa saya dulu pernah mengalami yang lebih berat dari ini tapi akhirnya saya bisa melewatinya apalagi hanya ini yang gampang. Kalau ada yang mengatakan saya tidak bisa itu bukan alasan tapi tuduhan. Kecemasan itu bukan dihindari tetapi harus dilawan. Tetap santai dan rendah hati..All is well. Itu akan selalu saya ingat.
 

Kini saya juga sudah menemukan laki-laki yang menjadi Sahabat hidup, Laki-laki inilah yang membuat saya percaya diri dan selalu memotivasi saya dimasa-masa sulit ketika rasa kurang percaya diri saya hinggap. Saya menerima dia apa adanya begitupun dia, kita saling mengisi di mana jika salah satu dari kita down dan keliru maka saling menambal dan mengingatkan. “Dengan mencintai dan mempercayai dulu diri sendiri maka kita akan bertahan dalam segala situasi yang menurut kita mustahil untuk kita taklukkan”.

 

 



Libra

No Comments Yet.