Love Yourself


Monday, 30 Nov -0001


Berbicara tentang kepercayaan diri pasti berkaitan dengan bagaimana cara memandang diri kita sendiri (self image) dan bagaimana kita menghargainya (self esteem). Jadi jika kita tidak mempunyai kepercayaan diri maka pastilah bersumber dari diri sendiri. Jangan salahkan orang lain terlebih lagi Tuhan yang menciptakan kita.

 

Saya kelahiran Ambon, berkulit gelap ketimbang lain dan berambut keriting lalu jerawatan. Waktu SD, ketiga hal itulah yang jadi bahan cemoohan anak-anak lain, selalu diejek waktu main atau di kelas, dijauhin karena ‘jelek’. Akibatnya jadi emosional dan terkenal nakal waktu SD, ga pernah kerjain PR, malas ke sekolah dengan pura-pura sakit, melawan guru, dan sebagainya sampai orang tua dipanggil guru BK dan bisa tidak naik kelas. Pernah sampai coba minum obat-obatan yang sudah kadaluarsa dengan jumlah banyak (waktu itu pikirnya, pakai gunting sakit dan kalau baygon bau banget) eh tapi sayangnya cuma masuk RS bukan pindah dunia hehehee..

 

Sampai akhirnya saya bisa naik kelas karena ada 1 guru yang mau mengajar saya dan  menjamin kalau saya pasti bisa berubah, setidaknya tidak berulah sampai lulus SD. Lalu terulang lagi di SMP tapi efeknya bukan emosional tapi lebih menjadi pendiam dan murung. Bisa beda efeknya karena pengalaman saya dengan guru saya waktu itu dia mendidik saya dengan kebaikan hatinya dan melihat orang tua saya yang jor-jor an masukin ke SMP yang terbagus saat itu padahal ga punya uang dan anaknya ga pinter-pinter amat. Hal itu yang memicu perasaan bersalah saya muncul, jadi sejak saat itu saya memutuskan untuk lebih baik diam daripada berbuat sesuatu yang ujungnya bisa mengecewakan orang tua. Takut.

 

Rasa takut membuat saya diam saat ada pelajaran yang ga ngerti, diam saat dimanfaatkan oleh teman, diam saat diancam karena saya tahu ada guru yang berlaku curang demi mendapatkan uang tambahan, diam saat teman saya dibully oleh kakak kelas. 

Jadi saya tidak percaya sama diri saya sendiri karena saya tahu bahwa ‘dia’ (si diri) ga bisa apa-apa dan cuma bisa menyusahkan orang lain.

 

Andai saja waktu itu saya percaya diri mungkin saya bisa membuat perubahan hidup ke diri saya sendiri bahkan orang lain.

 

Puji Tuhan, pencipta saya tidak membiarkan ciptaannya terbengkalai di pinggir jalan tanpa menjadi bermanfaat buat orang lain. Proses pengembalian rasa kepercayaan diri ini bermula sejak saya pertama kali bekerja. Saya masuk menjadi staf di bagian HRD, People Development di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Seorang fresh graduate dipercaya memegang dan mengolah data-data confidential para karyawan level manager bahkan sampai ke level BOD nya (Board of Directors). Dipercaya bertemu dengan bapak-bapak hebat itu sebagai pelaksana training dan suatu project

 

Atasan saya bilang sesuatu saat dia harus mengundurkan diri, “kamu adalah anak yang baik dan kamu bisa berkembang, pokoknya kalau kamu pasti bisa”. Ada angin sejuk tiba-tiba berhembus di hati ini. 

Kalau orang lain saja bisa mencoba percaya pada diri ini yang hanya bertemu kurang dari 8 jam 5 hari, kenapa saya yang setiap waktu bersama diri ini tidak mencoba?! Perkataan atasan saya itu membuka mata saya.

 

Seperti pepatah “bisa karena terbiasa”, tentulah saya tidak langsung berubah 180 derajat jadi pribadi yang percaya diri. Tapi ada latihan-latihan kehidupan yang harus saya jalani dalam waktu yang lama dan sampai sekarang. Kadang sangat susah sampai bisa menangis tapi harus terus maju karena saya sadar saya punya guru kehidupan yang luar biasa yaitu Pencipta saya, kitab suci adalah buku panduan saya, dan pengalaman orang-orang hebat di sekitar saya merupakan motivasi hidupku.
 

Tidak mungkin seorang pencipta membuat ciptaannya tidak berkualitas. Dia harus berkualitas supaya bisa berguna untuk orang lain. Sebut saja salah satu inventor yang kita ketahui Thomas Alfa Edison penemu lampu pijar. Apakah mungkin lampu itu akan menyala jika tidak dengan bahan-bahan yang tepat dan berkualitas? ada cacat sedikit maka aliran listrik tidak akan berjalan. Lalu saat dia melakukan percobaan sampai ratusan kali dan gagal dia berkatasaya telah berhasil menemukan ratusan benda yang tidak dapat menyalakan lampu listrik”.

 

Hey! itu gambaran kita kan manusia. Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda. Ada yang pandai bernyanyi, mengubah hidup para pendengarnya. Ada yang pandai memimpin, mengubah hidup bawahannya, ada yang pandai teknologi, mengubah dunia menjadi serba cepat.  Tapi saya yakin perbedaan itu untuk satu kesamaan yaitu berguna bagi orang lain dan setiap tujuan pasti disertai dengan potensi-potensi yang berkualitas.

 

Potensi-potensi itu adalah kelebihan kita. Fokuslah pada kelebihan kita seperti Mr. Edison menemukan potensi di satu benda yang dapat menyalakan lampu pijarnya dari ratusan benda lainnya, karena mungkin ratusan benda lainnya itu mungkin memiliki potensi yang berbeda bisa  jadi untuk sebuah telepon, atau pesawat, atau yang lainnya (hehehe). 

 

Kelemahan kita bisa jadi adalah kelebihan orang lain dan kelemahan orang lain bisa jadi kelebihan kita. Jika kita terus berpikir seperti itu…maka yang manusia miliki hanyalah sebuah kelebihan kan.

 

Pemikiran itulah yang membuat saya untuk terus menjaga kepercayaan diri saya sampai saat ini. Saya ini manusia yang berkualitas diciptakan untuk berguna bagi orang lain di bidang sesuai dengan potensi yang telah diberikan oleh sang Pencipta.

 

“Rambut keriting atau lurus, tinggi atau rendah, pesek atau mancung…hmmm bukankah itu hanya sebuah hasil karya kreatif Tuhan saja yang membuat kita menjadi unik, (orang kembar pun pasti ada yang berbeda).”



Annie Claire

No Comments Yet.