Love, Fight & Love Back


Monday, 30 Nov -0001


We love each other, yet we still fight and love each other back at the end of the day.

“You marry because you lack of judgment, and divorce because you lack of patience, and you remarry because you lack of good memories.” Unknown

Berbicara tentang kesabaran rasanya tak akan habis-habisnya membicarakan tentang hubungan saya dan pria yang sudah mengambil tanggung jawab papa saya dari pundaknya, suami saya. Saya adalah seseorang dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Buat saya, semua hal harus rapi dan sesuai dengan urutan. Ketika masih sendiri, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi. Namun ketika menikah dan tinggal bersama dengan seseorang yang lain, pelajaran kehidupan yang sesungguhnya mulai terlihat.

Suami saya adalah sosok dominan influence lainnya, sama seperti saya. Kami memiliki kepribadian serta watak yang tidak mau mengalah dan akan mempertahankan apa yang kami yakini. Tentu saja, jika tidak ada pihak yang mau mengalah rumah tangga kami bisa dipastikan akan karam sedikit demi sedikit. Maka disinilah saya mengambil peran untuk sedikit memundurkan ego saya. Benar, ego saya. Tapi tidak sedikitpun dengan kadar OCD saya.

Suami saya bisa dibilang tidak rapi. Ia meletakkan laptop di mana saja dia suka. Membuka sabun dan tidak menutupnya lagi. Meletakkan sendok disisi manapun dari meja makan yang ia suka, bahkan jika itu harus berada di atas kotak tissue. Hal-hal sepele ini bagi orang OCD tak pernah hanya sekedar menjadi hal sepele. Ini masalah besar bagi kami. Mata dan pikiran kami seolah tak bisa berdamai ketika melihat hal ‘berantakan’ seperti ini. Dan inilah yang suka tak suka harus saya hadapi setiap hari. Di awal pernikahan ada banyak teriakan dimana-mana. Saya selalu bertanya-tanya kenapa sih hal sepele kaya gini bisa terulang terus, lagi dan lagi?

Hingga saya melihat seperti apa suami saya menahan diri dari saya yang kadang ‘gila’, tidak bisa ditebak dan sangat menjengkelkan. Saya melihat sosoknya yang tak pernah protes dan marah, apalagi membentak saya. Bahkan ditengah-tengah ketidaksabaran saya terhadap banyak hal sepele, ia tak pernah membalas saya. Hingga akhirnya saya membuat perjanjian dengan diri saya sendiri untuk tidak terlalu peduli dan tidak menjadikan hal-hal sepele seperti dimana letak sendok, ataupun sabun yang tidak tertutup sebagai prioritas saya dibandingkan sahabat dalam hidup saya.

Dengan karakter kami yang sama-sama dominan serta OCD sebagai pelengkap, prakteknya tidak semudah seperti saya menuliskannya. Butuh pengingat terus menerus, butuh genggaman serta pelukan tanpa henti untuk terus bersabar hari demi hari. Karena saya dan pasangan saya memang dua orang yang berbeda. Kami saling membuat kesal masing-masing dari kami hari demi hari. Tapi untuk cinta kami yang lebih besar, kami bersedia untuk terus bersabar hari demi hari.

Walaupun saya toh tidak janji saya tidak akan marah-marah lagi, karena suami saya juga sepertinya menjadikannya sebagai hobi untuk membuat saya ngomel-ngomel terus sepanjang hari J  Namun satu hal yang saya pelajari, tidak ada ruginya bersabar atas apapun yang dilakukan pasangan kita. I might want to kill him at one fight, but at the end of the day, I still love him a lot. And trust me; it just grows your love. Don’t worry when you fight with your partner, worry when you stop because it means there’s nothing left for you to fight for.

Picture source:

http://www.wikihow.com/Learn-Patience-in-a-Relationship



Unknown

No Comments Yet.