Loosing My Peace


Monday, 30 Nov -0001


Kejadiannya berawal ketika memutuskan untuk pisah dengan mantan pacar di tahun 2011, rasanya? Sangat tidak enak. Tapi, hidup harus terus bergerak, dan saya memilih bergerak maju. Sayangnya, bergerak maju ke arah yang salah. Bukannya menyelesaikan hubungan tersebut dengan sehat, malah mencari pelarian sebagai pembuktian ke mantan kalau saya bisa dapat yang lebih baik lagi dari dia. Ditambah saran beberapa teman untuk mencari jodoh orang asing melalui jaringan online. Awalnya saya skeptis dan tidak percaya, karena terlihat bodoh dan memalukan, “Se-engga laku itu kah saya sampe harus nyari di jaringan online?” Ini hal pertama yang selalu muncul kalau mendengar kata online-dating. Teman-teman saya semakin berusaha meyakinkan bahwa ide ini tidak buruk, karena ada beberapa kenalan mereka yang berhasil hingga ke jenjang pernikahan dan bahagia, ditambah salah seorang kenalan yang juga berhasil hingga ke jenjang pernikahan. Jadi, saya pikir tidak ada salahnya mencoba, saya mencoba diam-diam!

Pencarian dimulai dan saya mulai berkenalan dengan beberapa orang asing, baik dari barat maupun timur, baik yang tinggal di Jakarta, di luar Jakarta dan di luar Indonesia. Ada beberapa yang menarik, ada beberapa yang ketemu di Jakarta dan masih menjadi teman hingga sekarang. Rasanya senang sekali, punya teman baru, beberapa diantaranya tipe saya dan beberapa diantaranya berpotensi untuk jadi suami! Tapi sejujurnya, dalam hati saya sadar ini bukan cara yang benar untuk move-on, ada perasaan gelisah dan saya abaikan.

Singkat cerita, 1 orang pria asing yang tinggal di Indonesia, nyangkut. Kami mulai berkomunikasi, kesan yang ditimbulkan dari pembicaraan kami: ia adalah pria yang sopan, baik, sayang & bisa terima saya sepaket dengan masa lalu saya. Dia bilang, dia mau menikahi saya, karena saya itu tipenya dia banget, wow! “Akhirnya saya menikah, setelah sekian lama mencari!” Itu yang muncul pertama kali. Hubungan kami berjalan lancar, komunikasi lancar dan kami saling menghargai, hidup rasanya aman dan tentram. Ada yang kurang ga yah? Hmm, ada! Dari awal saya tidak pernah membahas bagaimana hati saya, perasaan saya? Setelah diselidiki, saya tidak pernah benar-benar mencintainya, boro-boro, mencintai, perasaan sayang juga ngga ada, kalau pun ada, masih “bakal” sayang. Waduh! Hal ini lalu ditentang lagi oleh pemikiran saya, “Gapapa ga usah sayang dulu, yang penting dia bisa terima kamu sepaket dengan masa lalu, nanti juga muncul sayangnya,” lalu saya tanggapi, “Iya ya, bener juga. Ya sudah, kalau begitu, dijalanin aja”. Saya mengabaikan satu hal paling penting dalam sebuah hubungan: cinta.

Saya menjalani hubungan dengan pria ini disertai rasa sayang “pura-pura”. Jika biasanya saya adalah orang paling bodoh sedunia kalau sedang jatuh cinta, bisa mengesampingkan apa pun untuk pacar tercinta, kali ini tidak. Kali ini saya bisa mengutamakan segala hal, kecuali hubungan romantis ini, berada di urutan terakhir. Saya selalu berhasil memberikan alasan yang rasional sehingga bisa diterima si pria. Saya mulai malas membalas SMS dan menjawab telephone-nya, karena sangat mengganggu konsentrasi kerja. Alasan klise ya, tapi memang begitu yang dirasakan. Ini akibatnya menjalani hubungan dengan rasa sayang palsu, menjalaninya dengan tidak ikhlas.

Si pria mulai tidak terima perlakuan saya. Ancaman demi ancaman mulai dilontarkan, kata-kata makian yang paling kasar juga diucapkan. Wuah! Hidup saya tidak tenang. Setiap saat HP saya berbunyi, telephone atau SMS, pasti deg-degan, dan saat namanya yang muncul, perasaan saya semakin jumpalitan, ga tenang sama sekali. Saya takut, tapi sebenarnya apa yang saya takutin? Takut dimaki-maki lagi? Ya jawab dong telephone-nya. Ga ah, males, ngobrolnya pasti lama & bertele-tele, nanti kerjaan ga selesai. Ada aja alesannya, padahal kalau benar sayang, mau sesibuk apa pun pasti akan saya jawab, atau kalau pun tidak, pasti akan segera saya telephone balik. Takut putus? Kenapa harus takut putus? Kan ga sayang sama sekali. Kalau begini, artinya bukan takut putus, lalu takut apa dong? Takut sendirian! Iya bener, takut sendirian, takut ga ada yang mau nikahin. Makanya saya bertahan. Semakin saya bertahan, hidup saya semakin ga tenang.

Hubungan kami semakin tidak sehat, si pria tidak lagi mempercayai saya, setiap hari dilalui dengan makian, saya sih yang dimaki-maki, tapi ini konsekuensi dari “sayang palsu”, hehe. Parahnya, saya juga tidak berani mengucapkan kata putus, karena alasan ke-3 itu tadi. Saya bertahan untuk sesuatu yang palsu, egois bukan? Hubungan kami semakin renggang. Kami coba rekonsiliasi, 1x, inisiatifnya datang dari si pria. Dengan ogah-ogahan mengikuti idenya.  Oh iya, saya belum bilang, kalau ternyata di tengah ribut-ributnya kami, saya mengandung anaknya! Makin runyam deh.

Setelah si pria tau saya mengandung anaknya, reaksinya sangat sangat gembira! Saya? Eneg, takut dan ngeri, karena selama ini sudah menyaksikan dan merasakan dengan mata kepala dan hati saya sendiri kalau pria ini bisa jadi sangat baiiiiiikkk sekali, tapi juga bisa jadi sangat jahaaattt sekali, ditambah posesifnya yang luar biasa. Walaupun ia mau bertanggung jawab menikahi saya, saya masih tidak bisa mengiyakan. Berbagai adegan kekerasan dalam rumah tangga mulai terputar di imajinasi saya, belum lagi posesif parahnya, wah, kalau saya jadi menikah dengan dia, bisa beneran jadi burung dalam sangkar, ngga berkembang, ngga bisa kemana-mana. Mengetahui tanggapan saya bahwa saya sangat senang kalau dia mau bertanggung jawab, tapi masih mempertimbangkan tentang menikah dengannya, si pria makin meledak!

Sejak saat itu hingga sekitar 1 bulan sebelum melahirkan, setiap hari pasti menerima SMS teror dari si pria, karena saya ga pernah mau lagi terima telephone dari dia, takut dibentak dan dimaki-maki lagi. Ia dan keluarganya menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab, beberapa kali kedua kakaknya berbicara melalui telephone dengan saya, karena mereka tinggal di benua lain. Selain itu, dirinya juga pernah tiba-tiba muncul di depan rumah saya, tanpa pemberitahuan sebelumnya, shock! Akhirnya saya histeris di depan rumah dan bertindak kasar karena mengusirnya pulang. Mungkin ini yang membawanya pada tahap antara percaya dan tidak kalau janin di dalam rahim saya itu anaknya. Mendengar keraguannya ini, saya marah dan kecewa, “Koq bisa sih bilang kaya gitu? Ya uda pasti ini anaknya lah, mau anak siapa lagi?" Sebenarnya wajar saja kalau si pria ragu, toh sikap saya sendiri yang membuatnya jadi ragu. Lalu kami sepakat untuk melakukan DNA test setelah anaknya lahir. Semakin hari, hubungan kami semakin tidak baik. 1x rekonsiliasi sebelumnya tidak berhasil.

Sejak insiden di depan rumah saya, kelakuannya semakin menjadi-jadi, karena dia tau saya takut mengakui kehamilan ini ke ayah saya. Ketakutan saya yang ini ia gunakan untuk mengancam saya beberapa kali, dengan mengatakan jika saya tidak mau menyiapkan waktu bertemu dengannya pada waktu yang sudah ditentukan, maka ia akan langsung datang ke rumah saya dan menceritakan ke tetangga-tetannga saya, supaya nantinya para tetangga menyampaikan ke ayah saya. Diancam seperti ini, saya seperti kebo dicocok hidung yang langsung menyediakan waktu, mengesampingkan semua jadwal, bahkan yang paling penting sekali pun, demi bertemu si pria. Haha, paling tidak si pria sudah berhasil membuat saya mengutamakan waktu bertemu dengannya. Tapi, sayangnya, setiap kali dia bilang menentukan waktu dan tempat bertemu, dia tidak pernah muncul, kejadian ini terulang sekitar 4 – 5 kali. Bisa dibayangkan, betapa tidak tenangnya hidup saya, semua karena “sayang palsu”. Setiap hari perang, dengan si pria.

Sepasang konselor pernikahan menyarankan saya untuk minta maaf, memaafkan dan melepaskan si pria dari segala macam tanggung jawab sehubungan dengan kehamilan ini. Saya menuruti sarannya, karena yang saya perlukan saat itu adalah kedamaian untuk diri sendiri dan untuk bayi dalam kandungan. Saya pikir, dengan menyatakan ini, perang akan selesai, ternyata belum selesai, malah semakin memanas. Saya tidak tau lagi harus gimana. Si pria mulai memata-matai dan mengganggu saya melalui account social media, sebagian besar teman-teman yang ada di list yang seharusnya tidak perlu tau tentang kejadian ini jadi tau, karena mereka ditanya melalui pesan elektronik, kira-kira pesannya seperti ini, “Tau ga kalau dia hamil anak saya?” atau “Dia itu hamil anak saya”. Memblok account-nya tidak menyelesaikan masalah, ada banyak jalan ke Roma bukan? Intinya, selama sekitar  hampir 1 tahun, hidup saya tidak tenang, capek banget. Selama itu pula, saya hampir menangis setiap hari, karena takut dan merasa “ini tidak akan ada ujungnya”.

Ternyata ada ujungnya, ketika saya mulai diam dan tidak melakukan konfrontasi, berupa tindakan dan kata-kata, dia pun mulai diam. Saya mulai merasa tenang dan damai. Ini yang saya perlukan. Mungkin muncul di pikiran Urbanesse, “Lalu siapa yang merawat dan membiayai anak itu?” Urbanesse, walaupun ada rasa khawatir tidak bisa membiayai dan merawat anak ini, dengan segala kekurangan saya, setiap kali rasa khawatir ini muncul, muncul juga Suara yang menguatkan dan membuat saya tenang, “Tenang, jangan takut, kamu ngga sendiri, tetap bergerak maju, kamu pasti bisa melewati semua ini, ada Saya di sini.” Seketika itu juga, perasaan damai muncul.

Gara-gara rasa sayang palsu, yang awalnya diharapkan bisa menyelesaikan masalah putus hubungan dan takut sendiri, ternyata malah menimbulkan perang besar antara kubu saya, keluarga saya dan beberapa kenalan saya melawan kubu si pria beserta kedua kakaknya. Menurut saya, hasil yang ditimbulkan dari rasa sayang palsu ini, sangat tidak menguntungkan, akibatnya sangat mengganggu kehidupan banyak orang. Jika dibandingkan antara alasan pura-pura sayang karena takut sendiri dan hasilnya, rugi BESAR, karena tindakan pura-pura sayang yang tanpa perhitungan dan pertimbangan yang matang tersebut, bukan hanya saya yang dirugikan, tapi keluarga saya, kenalan-kenalan saya, bahkan si pria dan kedua kakaknya juga mungkin merasakan kerugian.

Beberapa hal yang saya dapat dari kejadian ini:

  1. Selesaikan masalah dengan cara yang benar hingga selesai, bukannya gali lobang tutup lobang
  2. Jika dari awal sudah merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, sebaiknya dipertimbangkan lagi dengan sangat matang, atau malah tidak dijalani sama sekali, karena hasilnya bisa sangat jauh dari yang diharapkan
  3. Ingin menikah karena takut sendiri, bukanlah alasan yang tepat. Baca: Antar Perempuan, Dongeng Cinderella dan Kebahagiaan
  4. Kedamaian dapat hilang karena menganggap remeh atau enteng sesuatu
  5. Berpikir sebelum bertindak
  6. Jujur dan terbuka merupakan dua hal penting supaya tidak ada hal-hal yang bisa digunakan untuk mengancam atau disalahgunakan oleh pihak lain

Bagaimana dengan Urbanesse? Apa yang Urbanesse dapatkan dari kisah di atas ?

Sumber Gambar: John Krohn[/caption]



Unknown

No Comments Yet.