Let Go!


Monday, 30 Nov -0001


Apakah anda pernah merasa dikhianati? Ditinggalkan oleh orang yang anda sayangi? Dibuang dan dicampakkan ke dalam lubang terdalam? Semua itulah yang saya rasakan ketika hubungan dengan pacar pertama saya berakhir, sebuah hubungan yang berjalan hampir 7 tahun, yang dalam benak saya semuanya akan berjalan mulus hingga ke jenjang pernikahan nantinya.

Kami melewati begitu banyak tantangan bersama, dimulai dari perbedaan agama dan keyakinan, hal yang sempat membuat saya ragu untuk memulai hubungan ini pada awalnya. Namun banyak keajaiban yang terjadi pada saat itu, saat di mana saya semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memohon dan mencari tau keinginan-Nya. Dan saya sangat amat percaya bahwa Dialah yang turut bekerja di belakang layar selama kami menghadapi dan menyikapi perbedaan ini.

Dan setelah itu, kami juga dihadapi dengan berbagai hal lain. Salah satu tantangan paling besar adalah dari ayah pacar saya yang tidak menyetujui hubungan kami karena perbedaan keyakinan tersebut. Ayahnya adalah sesosok pribadi berpendirian teguh, yang memegang prinsip bahwa seharusnya wanita lah yang harus mengikuti aturan dan keyakinan keluarga pria, bukan sebaliknya seperti yang terjadi pada kami berdua. Hal ini diperparah dengan kondisi bahwa pacar saya sendiri tidak mempunyai hubungan yang baik dengan ayahnya. Hal ini berlanjut bertahun-tahun namun kami berdua saat itu tetap berkeyakinan dan berdoa bahwa kami mampu melewati semua ini.

Rencana menikah yang disusun beberapa kali tidak berjalan dengan mulus, karena dia enggan mengutarakan hal ini ke ayahnya. Dia berharap orangtuanyalah yang harus berinisiatif dan menanyakan hal ini duluan. Saya sendiri tidak setuju dengan hal ini, dan perbedaan pendapat ini sempat membuat kami beberapa kali berdebat. Namun akhirnya setelah mendapat penjelasannya, saya mencoba untuk mengerti dan memberikan dia waktu sampai dia siap melakukannya.

Waktu terus berlalu, pertanyaan kapan kami akan menikah semakin banyak berdatangan, baik dari teman maupun keluarga besar. Sementara hubungan pacar saya dengan ayahnya yang sempat membaik untuk beberapa waktu, kembali terpuruk karena pertengkaran yang lebih disebabkan oleh sifat keras kepala masing-masing dan saling tidak mau mengalah.

Kondisi ini berjalan beberapa bulan, sampai pada suatu sore, tiba-tiba dia mengajak saya untuk ketemu. Dia menyampaikan bahwa dia sudah tidak seyakin seperti dulu akan masa depan kami, dia tidak bisa memberi kepastian ke mana kami harus melangkah, dan juga konflik antara kami berdua sendiri. Kami berdua mempunyai kepribadian yang dominan, susah mengalah, di mana kepribadian tersebut kerap kali membuat kami berdua terlibat dalam perdebatan yang panjang dan pertengkaran hebat.

Saat itu, saya hanya tertegun dan mencoba bertanya kepada dia tentang prioritas dalam hidupnya, apakah hubungan ini merupakan prioritas baginya? Mengapa demi acara “menikah” yang hanya sehari harus mengorbankan seluruh hubungan ini? Dan betapa kagetnya saya ketika dia menjawab dia tidak tahu. Dan keputusan pun harus dibuat, kami berdua setuju untuk menyudahi hubungan ini.

Okt_LetGo_Christina_text

Hatiku hancur remuk saat itu, seluruh pengharapan sepertinya hilang dan saya benar-benar tidak tahu apa yang saya harus lakukan. Saya terus berdoa dan minta Tuhan untuk berikan saya kekuatan dan hikmat supaya saya tahu ke mana saya harus melangkah. Beberapa hari setelah itu, saya sempat menghubungi dia kembali dan menanyakan sebenarnya alasan apa yang membuat kami harus mengakhiri hubungan ini, saya meminta maaf dan bersedia memperbaiki sifat saya jika ini bisa membuat hubungan ini kembali. Namun dia menolak dan meminta saya untuk move on saja. Dia juga mengaku bahwa dia sudah melupakan saya dan sedang dekat dengan wanita lain. Beberapa kali, kedekatan dia dengan wanita lain ini juga dengan nyata dipertontonkan di depan saya pada acara kebersamaan karena kami berdua memang ada di suatu komunitas rohani yang sama.

Saat itu, saya sadar sepenuhnya bahwa saya harus mengambil keputusan untuk mengumpulkan kehormatanku yang tersisa dan melanjutkan hidupku. Saya semakin mendekatkan diri kepada Sang pencipta, memohon kekuatan dan pengharapan baru dari Dia untuk menata ulang visi hidup saya ke depan. Saya bersyukur dikelilingi oleh teman dan komunitas yang terus menyemangati dan menguatkan saya, orang-orang yang berdoa bareng bersama saya, orang yang menyediakan a shoulder to cry on whenever I need yang tidak jemu-jemu mengingatkan saya bahwa ada hal lebih baik yang menanti di depan dan segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Tujuh tahun memang bukan waktu yang pendek, namun saya sama sekali tidak menyesali 7 tahun yang telah saya lewati, karena setiap proses di dalamnya lah yang menjadikan saya sebagaimana adanya hari ini. Saya belajar banyak dari pria yang saya sebut dengan “mantan” sekarang, saya menjadi pribadi yang lebih dewasa, mau peduli akan orang lain, tidak hanya menuruti keinginan diri sendiri, belajar berbagi hidup saya dengan orang lain.

Apapun kondisi yang kita hadapi, there are always choices! Saya bisa memilih untuk tetap bersedih, meratapi cinta saya yang dikhianati oleh orang yang paling saya sayangi dan terus mempertanyakan dia yang dengan mudahnya berpindah hati ke orang lain. Namun sebaliknya, saya juga bisa memilih untuk bersyukur bahwa semua itu terjadi sebelum kami masuk ke dalam pernikahan, bayangkan saja jika suatu hari suami anda mengatakan bahwa dia menyerah dengan hubungan pernikahan yang telah dibangun!

Saya bersyukur bisa kembali menikmati my “singlehood”, mempunyai lebih banyak waktu untuk mengasah kembali dan explore kekuatan yang sudah diberikan Sang Pencipta untuk berkontibusi lebih lagi di dunia dan lingkungan tempat saya berada, mempunyai lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman terdekat. Saya belajar bahwa dalam membangun hubungan, komunikasi dan pengampunan yang berlimpah sangat penting. Saya memilih untuk percaya bahwa Sang Pencipta telah menyediakan sesuatu yang lebih baik daripada yang pernah saya mimpikan di depan, dan saya perlu lebih lagi meletakkan kepercayaan kepada Dia dibanding manusia.

Pilihan lain yang saya harus ambil adalah melepaskan pengampunan kepada mantan saya dan benar-benar melepaskannya. Tidak mudah, namun saya mengerti betul supaya saya bisa moving forward, I have to do that! Saya tidak mau membawa beban dan sakit hati ini terus seumur hidupku.

“Let go! For when you let go, it will really goes away – Hanna Carol”



Unknown

No Comments Yet.