Lessons from My Grandma


Monday, 30 Nov -0001


www.pixabay.com

www.pixabay.com[/caption]

Setelah saya searching di google dan membaca beberapa artikel tentang ciri – ciri wanita idaman, ternyata hampir semua artikel menyebutkan tentang sifat lemah lembut.  Namun saya tekankan kita berlatih lemah lembut bukan hanya untuk masuk kriteria wanita idaman, tapi memang sudah sewajarnya kita menjadi pribadi yang lemah lembut. Karena itu perintah dari Tuhan. So, lemah lembut tidak hanya ditunjukan untuk wanita, tapi pria juga.

Kelemahlembutan harus dimulai dari hati,  tidak bisa dibuat-buat, jika itu memang bukan dari hati, pasti akan terbongkar. Topeng kelembutan hanya muncul di awal, seiring berjalannya waktu, kepalsuan akan terkuak.  Kelemahlembutan membuat seseorang lentur dan fleksibel,  peka, mau mendengar, terbuka terhadap masukan dan kritik. Hati yang lembut akan menghasilkan ucapan dan perilaku yang diekspresikan secara lembut, tanpa arogansi.

Tentang kelemahlembutan saya belajar banyak dari nenek saya. Bagi saya ajaib tentang kisah cinta nenek dan kakek. Kakek dan nenek menikah dengan beda usia terpaut 10 tahun lebih tua nenek saya. Bayangkan mereka menikah di tahun 1940-an, era di mana usia perempuan dan laki – laki masih menjadi bahan pertimbangan. Ini anti mainstream sekali, melawan arus.  Entah apa pertimbangan kakek saya sehingga beliau memilih menikahi nenek yang bahkan notabene berstatus janda. Maybe its love is blind phenomenon? Maybe, I don’t know.

Sampai akhirnya mama menceritakan kepada saya bagaimana sosok seorang nenek. Mama selalu memuji nenek sebagai sosok perempuan sejati. Ya harus diakui nenek adalah sosok wanita yang cerdas, beliau seorang guru, ibu yang telaten mengurus anak – anaknya dan istri yang setia melayani suami. Mungkin karena latar belakang nenek yang besar di lingkungan keraton, di mana etika dan sopan santun sangat ditekankan.  Sehingga itu terbawa menjadi karakter dan beliau terapkan juga kepada anak – anaknya.

Seperti yang diceritakan mama, sebagai ibu nenek sangat jarang marah, sekali pun marah nenek tidak pernah berteriak ataupun membentak. Nenek hanya bersikap lebih tegas. Nenek tidak suka bergosip atau membicarakan kejelekan orang. Beliau lebih memilih diam. Dan yang terpenting adalah bagaimana cara nenek menjadi seorang istri.  Beliau sangat telaten melayani kakek. Contohnya saja pada saat makan, beliau akan menyiapkan dari awal, kemudian menunggu sampai kakek selesai makan. Sebuah prinsip yang selalu dipegang oleh nenek, semarah – marahnya kita terhadap pasangan, kita tidak boleh mengumbar di depan umum. Jaga wibawa pasangan kita. Dengan begitu kita juga menjaga kehormatan kita sendiri. Dengan kelemahlembutan nenek telah berhasil membuat seorang pria muda bertekuk-lutut di depannya. Pernikahan mereka langgeng sampai dipisahkan oleh kematian.  Wow, fantastic!

Well urbanesse, itulah sedikit cerita tentang kehidupan seorang wanita yang lemah lembut. Beliau merupakan pelajaran besar buat saya dan kita semua.  Berlemah lembut lah =)



Unknown

No Comments Yet.