Lemah Lembut Bukan Berarti Lembek


Monday, 30 Nov -0001


Banyak orang bilang aku wanita yang keras kepala dan kurang sensitif, kayak laki-laki. Aku sendiri pun merasakan hal yang sama.

 

Nah, challenge nya adalah dalam pelayanan gereja, aku ditunjuk menjadi koordinator majalah bulanan untuk anak-anak. Kedengarannya sangat menyenangkan, apalagi menggambar dan anak-anak adalah passion ku dari kecil. Tetapi pada prakteknya tidak semudah itu. Mengkoordinasi majalah anak-anak, berarti berinteraksi dengan kontributor dan desainer, bukan dengan anak-anak. Di sinilah gesekan karakter terjadi. Walaupun outputnya berupa majalah yang sangat imut, prosesnya ngga lucu seperti majalahnya.

 

Kebetulan, saya harus mengkoordinasi senior dengan attitude yang kurang terpuji, seperti ego yang tinggi, tidak patuh deadline, cenderung menginsult kontributor lain secara verbal. Sampai ada kontributor lain yang mau mengundurkan diri karena sakit hati karena ucapannya. Beberapa kontributor juga merasa tidak nyaman dengan group chat yang isi percakapannya suka menyulut emosi, biasanya tentang ego issue dan terkadang pun defense diri sendiri dengan ayat-ayat Alkitab. 

 

Saya membicarakan issue ini pada atasan. Awalnya saya ingin mengganti dia dengan orang lain. Tetapi ternyata kalau pelayanan tidak bisa dipecat, hanya bisa mengundurkan diri. Itu membuat saya bertambah kesal karena kalau bekerja profesional kan ada KPI nya. Saya bingung, senior malah berkarakter kurang baik. Bertumbuh di gereja puluhan tahun dan memiliki pengetahuan Alkitab yang banyak tidak menjamin kedewasaan seseorang.

 

Saya bisa saja berhenti dari tugas ini, tetapi saya berkomitmen untuk tetap involve dan belajar sesuatu dari ini. Ada sisi plus nya juga ketidaksensitifan saya, jadi saya bisa tidak taking things personally kalau muncul attack-attack yang tidak purposeful dan subyektif. Saya juga belajar untuk stay quiet at the right moments (asli susah banget ini kalo lagi bete) and saying the right things at the right moments (walau kadang nylekit), agar situasi tetap terkendali dan spirit volunteers yang lain tidak mundur. Saya juga belajar untuk membina hubungan personal dengan masing-masing members, dan belajar mengenal mereka di luar tugas majalah. Karena lebih mengenal background mereka, saya jadi mengerti mengapa attitude-attitude yang ngga menyenangkan itu timbul (bisa jadi karena distorsi hidup yang mereka alami). Pelan-pelan cara ini berhasil. Konflik tetap terjadi tetapi lebih terkendali, dan kalau ada apa-apa mereka, bahkan senior yg nyebelin itu, bisa share ke saya. Saya bisa menjadi jembatan, bukan musuh. 

 

 

Dari pengalaman mengkoordinasi majalah ini saya memiliki pemahaman baru tentang lemah lembut. Lemah lembut bukan berarti lembek, pasif atau selalu tersenyum dan angguk-angguk tanda setuju. Lemah lembut itu mau belajar, mau mendengar, mau berbagi, tetapi tidak selalu menurut alias firm pada value-value dasar. Prinsip-prinsip ini tidak boleh tergoyahkan walaupun pihak sana tidak melakukan hal yang sama. Lemah lembut itu adalah kekuatan yang sesungguhnya. Karena membuat kita jadi less defensive, jadi mau mengerti orang. Kita jadi bijak dalam menilai dan membuat batasan sejauh mana kita berinteraksi terhadap orang itu. Apakah hubungan itu membangun atau tidak. Apakah komunikasi yang terjadi in context atau sudah melenceng dan, lemah lembut membuat diri kita jauh lebih damai (inner peace).



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.