Lelaki (Bukan) Tujuan Akhir Hidupku


Monday, 30 Nov -0001


Dulu aku selalu mendambakan sebuah hubungan dan pasangan yang ideal. Yakni pasangan yang ganteng, mapan, dan dapat memanjakanku. Begitu pun dengan hubungannya, aku menginginkan hubungan yang awet,romantis,dan langgeng hingga ke jenjang pernikahan.

Namun apa yang diharapkan selalu berbeda dengan kenyataan.

Ketika itu usiaku baru 18 tahun, dan aku sedang kuliah semester  1. Aku kuliah sekaligus bekerja, sehingga aku mengambil kuliah kelas weekend. Di kampusku, aku bertemu dengan seorang lelaki yang lebih muda satu tahun dariku. Sebut saja namanya Tian. Dia baru berumur 17 tahun pada saat itu, dan belum bekerja namun kuliah dengan kelas weekend sama sepertiku. Awalnya kami tidak saling mengenal, karena memang dia lelaki yang pendiam di kelas. Dia baru akan masuk kelas ketika dosen sudah masuk dan akan  buru-buru keluar kelas ketika mata kuliah sudah selesai. Berbeda denganku, yang akan datang kelas lebih awal untuk sekedar ngobrol atau update gossip-gosip terbaru di kampus, dan akan pulang telat karena hangout dengan teman lainnya.


Hingga pada suatu kesempatan, ada acara olahraga futsal rutin pertama yang diadakan oleh ketua kelas kami. Semua mahasiswa/mahasiswi wajib mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun para mahasiswi tidak mengikuti olahraga tersebut, tetapi kami ikut serta untuk memeriahkan kegiatan tersebut yang akan dijadwalkan setiap hari Minggu selesai kuliah. Untuk pertama kali itu juga, aku baru melihat Tian dapat bergabung dengan para mahasiwa lain untuk ikut bermain pula. Kali itu dia memakai kaos berwarna abu-abu dan celana pendek khas seragam futsal pada umumnya. Penampilan dia ketika itu berhasil membuat aku memfokuskan pandangan hanya pada dia. Dengan kulit putihnya, dan kaos abu-abunya itu terlihat segar menurut pandanganku. Terlebih diantara mahasiswa lain, hanya Tian yang memiliki kulit putih bersih khas kulit perempuan pada umumnya.


Pertemuan – pertemuan selanjutnya, aku selalu mencuri pandang terhadap Tian. Setiap penampilan dia, selalu membuatku jatuh cinta. Apalagi didukung dengan sikapnya yang terkesan cuek, dan dingin. Menambah rasa kepenasaranku terhadapnya. Yaa, hal itu terjadi karena aku sebelumnya memiliki ekspetasi untuk memiliki kekasih yang memiliki wajah tampan dan berkulit putih. Sehingga akhirnya, setelah proses pendekatan yang bisa dibilang singkat itu, aku dan Tian resmi menjadi sepasang kekasih. Satu sampai dua bulan berpacaran, aku dan Tian masih saling jaim layaknya pacaran remaja pada umumnya. Hal itu berlangsung hingga 6 bulan waktu pacaran kami. Hingga sampai pada 1 tahun kami berpacaran, kenyamanan pun muncul dan rasa takut kehilangan Tian ada pada diriku. Aku pun mulai mengetahui semua sifat aslinya, yang menurutku dulu dia adalah sosok lelaki sempurna. Ternyata Tian yang aku kenal ketika pertama kali berbeda dengan ekspektasiku, dia menjadi benalu dalam kehidupanku. Apapun kebutuhan hidupnya selalu meminta padaku dan aku penuhi, aku pun membiayai kuliahnya. Awalnya aku berpikir “Ah nggak apalah ini hitung-hitung investasi untuk hari depan, kalau dia lulus kuliah lalu bekerja dan menikahiku pasti hasilnya aku juga akan menikmati” pikirku saat itu dengan sejuta harapan.

Karena “terlalu cinta” aku selalu berusaha menerima semua sifat buruknya. Bahkan ketika aku sendiri tersakiti pun, aku tetap merasa baik-baik saja dan hal tersebut wajar terjadi jika aku mau menerima dia apa adanya.


Namun hal tersebut hanya berlangsung selama 6 bulan saja. Nyatanya, perasaan “terlalu cinta” tidak dapat seterusnya menjadi fondasi untuk langgengnya suatu hubungan. Karena meskipun aku masih muda pada saat itu, aku sadar bahwa harga diriku sebagi wanita sudah mulai terlupakan karena perasaan “terlalu cinta” tersebut. Pada akhirnya aku tahu Tian hanya bangga memilikiku karna pada waktu itu, aku termasuk salah satu mahasiswi popular dikampus. Hal tersebut terbukti ketika aku mendengar celetuk salah seorang teman di kelasku yang berkata jika sebelumnya antara mereka pernah ada taruhan untuk mendapatkan aku. Aku marah, kecewa, dan hal lainnya yang tak bisa aku ungkapkan ketika itu. Aku pun menemui Tian, dan bertanya mengenai itu, dia tidak menjawab.


Setelah aku desak, dia mengakui semuanya itu, dia mengatakan memang tidak benar-benar mencintaiku dan aku hanya diperalat untuk dimanfaatkan saja. Aku pun meminta untuk mengakhiri hubungan kita. Meskipun dia awalnya tidak bisa menerima, namun aku tetap akan meninggalkan dia. Aku pun berpikir, ternyata memang jika hubungan diawali dengan mengikuti nafsu semata, maka balasan yang diterima pun tidak akan jauh berbeda. Aku menyukai Tian hanya karena parasnya yang tampan, dan sikapnya yang terlihat cool. Tetapi ternyata Tian tidak mencintaiku dengan tulus, dan hanya menjadikanku sebagai mesin ATM berjalannya.


Empat tahun berlalu, aku masih belum menemui kekasih hati pengganti Tian dulu. Karena menurutku, lelaki bukanlah tujuan utama dalam hidupku. Meskipun tanpa lelaki, hidupku masih tetap indah dan berwarna. Bahkan, aku bisa lebih termotivasi dalam pendidikan dan karierku.

Terbukti setelah 4 tahun “melupakan” keberadaan lelaki, aku dapat menuntaskan jenjang S1 ku dan bahkan S2 ku sudah hampir selesai. Begitu pun dengan karierku, kini aku menjadi seorang Key Account Manager di sebuah perusahaan swasta yang memproduksi makanan.


Semua ini aku dapatkan karena aku teringat ucapan kedua orang tuaku. “jangan kamu terlalu berpaku dan menjadikan lelaki sebagi tujuan akhir hidupmu. Karna tanpa lelaki pun, kamu akan dapat menjadi kamu yang kamu inginkan. Bahkan, jika kamu menjadi seorang wanita berkelas, maka lelaki yang akan mendampingi kamu pun tak kalah berkelasnya denganmu.” Perkataan Ibuku tersebut sukses menjadi motivasi untukku hingga aku menjadi seperti yang sekarang.

 

Kini, aku sedang dekat dengan seorang owner dari perusahaan asing yang pernah menjadi client dalam pekerjaanku. Hmm boleh dicoba.. ya meskipun aku sempat trauma, tetapi ekspektasi-ekspektasi hubungan dan pasangan idealku tetap tertanam. Meskipun ada beberapa hal yang aku pertimbangkan sekarang dibandingkan dulu.



Herda Ayudiana

No Comments Yet.