Konseling? Why Not...


Monday, 30 Nov -0001


Pada artikel sebelumnya, aku pernah menulis tentang proses konseling yang aku ikuti yang berhubungan dengan masalah keluarga. Dan ternyata, efek sehat secara emosi itu berkesinambungan dan semakin lama semakin nyata. Orang di sekitar aku melihat perubahan itu, dan innerku lebih balance dan damai dalam menjalani hidup. Pelan-pelan aku menjadi lebih dewasa. Aku menjadi tidak defensif, mau mengakui dan menerima kekuranganku, melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki kekurangan, dan mau menjalani proses yang tidak nyaman tapi aku sadar itu hal penting, dengan hati yang lapang dan tidak terpaksa. Itu terjadi bukan hanya di dalam isu keluarga, tapi juga di beberapa hal lainnya seperti masalah hati, hubungan pertemanan, percintaan dan masalah otak seperti akademis maupun karir.

 

Dalam urusan hati, dulu aku runcing banget ama keluarga. Aku sebel banget ketika mereka selalu melakukan perjodohan dengan standar mereka, dan menakut-nakuti aku kalau cewek lebih cepat expired, memberikan contoh wanita-wanita paruh baya yang belum menikah yang mereka anggap sebagai salah satu tanda tidak berhasil dalam hidup. Efek tindakan mereka justru malah kebalikan dari yang mereka mau. Saya jadi illfeel soal pernikahan karena kayak kewajiban, kayak kurungan. Jadinya pacaran juga sebentar-sebentar putus, soalnya jiper dan negatif duluan waktu harus kompromi dengan perbedaan. Jadi lebih suka tanpa status, karena lebih nggak mikir, yang penting saling mengisi waktu merasa kesepian.

 

Lucunya, setelah konseling, pelan-pelan aku bisa terbuka sama papa dan mama, malah breakthrough terbaru, aku bisa diskusi lebih dalam soal teman cowo ke papa, dan papa bisa respon dengan mengerti apa yang aku sampaikan. Papa juga extend deadline kawin, jadi 35 hahahaha…itu super ajaib mengingat papa sangat totok dan rata-rata  sodara aku nikah awal 20-an. Papa bilang aku beda. Selain itu, aku juga bisa dengerin pendapat dan mencoba saran dari teman-temanku yang pernikahannya sudah terbukti berjalan dengan baik. Aku mau mencoba mengenal cowo-cowo yang bukan tipeku tapi masuk kriteria dasar. Kan kita nggak  tahu orang itu bakal jadi network, teman atau pasangan hidup. Dalam usaha mengenal mereka, aku selalu berusaha untuk discerning motif, arahnya kemana, apakah pertemanan ini meaningful, mau berteman secara tulus, untuk relasi profesional atau jadi hubungan tanpa status. Aku juga bisa lebih bijak dalam membuat batasan nyata, dan menghargai hubungan orang lain, dengan tidak meladeni lebih lanjut orang yang sudah punya pacar atau istri.

 

Dalam hal akademis, dulu pas kuliah S1 aku males banget. Teman-teman bilang aku berbakat, tapi ngga tanggung jawab. Bahkan, aku bisa ngomong ke dosen minta Fail aja karena uda gak sempat bikin final project. Waktu itu, aku lagi galau urusan cinta dan memilih minum-minum sampe ga bisa kerja project. Jadi waktu selesai konseling dan aku mau ambil S2 jurusan edukasi, temen-temen S1 ku sebagian pada bengong karena imageku di mata mereka itu. Lucunya, waktu S2, aku jadi lebih rendah hati, mau belajar dengan teman yang jauh lebih muda, tapi lebih pintar dalam menulis essay. Aku jadi rajin ke perpustakaan. Aku juga mau mengikuti kelas public speaking dalam bahasa Inggris, karena aku sadar skill ini sangat beneficial buat presentasi-presentasi akademis, walaupun public speaking itu momok buatku (bahasa Indonesia aja menakutkan apalagi pakai bahasa Inggris). Puji Tuhan, usahaku berbuah hasil. Hasil akademis memuaskan, banyak-banyak Distinction, dan menulis akademis bukan lagi nightmare. Setelah tiga kali pertemuan public speaking class, teman-teman feedback positif, aku menjadi lebih santai dan bisa berbicara lebih baik.

 

Dalam hal karir, aku mengikuti pelatihan-pelatihan di luar kuliah bukan karena keharusan sekolah tapi untuk keperluan kerja. Di saat teman-teman asyik liburan, setiap hari aku bekerja di Childcare, bidang yang sesuai dengan sekolahku. Dan memang sekolah beda sama kerja. Karena aku belum lulus, dan belum punya banyak pengalaman, walaupun gelarnya Master, bukannya disuruh mengajar atau bikin kurikulum, aku diminta untuk mengerjakan hal-hal basic seperti ngelapin meja, mainan, vacuum lantai hahaha…tapi aku ridho ngerjainnya ga tau knapa. Sisi plusnya, uang nya ternyata nutup buat bayar uang sewa kamar (kaget, karena ini salah satu target aku dan ternyata tercapai). Di saat winter yang katanya sepi kerjaan casual, aku jadi banyak tawaran kerjaan dan malah bisa nolakin tawaran kerjaan karena bentrok dengan tawaran kerjaan lain.

 

Proses menjadi lebih dewasa memang tidak nyaman Ladies, Begitupun ketika menjalani konseling demi konselingnya. Tapi setelah merasakan efeknya, saya jadi berpikir the prize worth the price. Apalagi ternyata itu berdampak positif ke berbagai aspek kehidupan. Kini setelah melewati proses-proses konseling hidupku lebih baik, aku jadi lebih santai dalam memandang hidup tapi bukan berarti tidak serius namun setidaknya aku bisa menjadi perempuan yang lebih seimbang menjalani segala proses hidup, lebih sabar dan menysukuri apa-apa yang sudah aku raih sejauh ini. Kini yang aku rasakan juga semuanya nampak berjalan sesuai di jalur yang Tuhan kehendaki. Akupun mengikuti saja arahan Tuhan membawaku yang penting aku tetap berusaha jalan di jalur yang benar, karena pastinya apapun yang sudah di titikkan Tuhan untuk kita pasti itu yang terbaik. So, Yuk Ladies, sama-sama bertumbuh jadi wanita dewasa.!

 

Note :

 

Apa itu Konseling : Menurut Wikipedia  Konseling atau penyuluhan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Umumnya konseling berasal dari pendekatan humanistik dan berpusat pada klien. FYI mengikuti Konseling bukan berarti kamu memiliki masalah gangguan mental lho...Urbanesse tetapi lebih kepada merecovery pandangan hidup dan cara berpikir agar lebih positif, move on, penuh semangat dan memiliki kualitas hidup yang seimbang kedepannya.

 

Dibanding dengan psikoterapi, konseling lebih berurusan dengan klien (konseli) yang mengalami masalah yang tidak terlalu berat seperti depresi putus cinta, disakiti berulang-ulang, trauma masa lalu yang berat dan sulit dilupakan lainnya, atau kamu pernah mengalami seperti cerita kawan kita diatas dan kalian membutuhkan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan yang perlu dikonsultasikan. Naahh...Jika Urbanesse membutuhkan konseling Urban Women bisa merekomendasikan tempat kamu untuk Konseling, kamu bisa Hubungi “PERHATI Counselling” di nomer telepon  021-66607490 WA 083874209655 Email di perhati.indo@gmail.com .



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.