Kill Em With Kindness


Monday, 30 Nov -0001


Halo urbanesse, apa kabar?
Semoga selalu dalam keadaan sehat dan
feeling good ya. Tema urbanwomen kali ini seru juga. Tentang kesombongan hati. Karena saya (entah kenapa) berkali – kali hidup dengan orang yang seperti itu. Baik itu atasan, rekan kerja bahkan room mate. Meskipun mereka memiliki tingkat kesombongan yang berbeda – beda. Serba salah memang menghadapi orang – orang seperti itu. Ditanggapi kita yang sakit hati, karena tipikal seperti itu akan sangat mudah meng “underestimate” kan orang lain. Tidak ditanggapi mereka akan selalu mencari jalan, untuk menjatuhkan, bahkan kita hanya diam saja tanpa terlibat pembicaraan sekalipun.
 

Sebelum kita memasuki pembahasan kesombongan hati. Sebaiknya kita dapat membedakan antara kesombongan dengan bangga. Ketika seseorang menceritakan pencapaian yang dia peroleh dalam bentuk sharing dan dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk kita. Tanpa ada sikap yang menunjukan untuk merendahkan orang lain. Maka itu adalah bangga. Beda halnya dengan sombong. Orang sombong, bahkan tanpa ada pencapaian sekalipun dia tetap menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain. Dan pencapaian orang lain tidak ada artinya dibandingkan dengan yang sudah dia miliki.

Menurut blog yang pernah saya baca (sumber tercantum), ada beberapa jenis orang sombong, yaitu :


Sombong Permanen:
tipe ini biasanya selalu menyombongkan diri dalam berbagai hal dan merasa paling hebat, walaupun padahal kenyataannya tidak. Biasanya tipe ini selalu menyepelekan orang lain.


Sombong relatif:
sombong kok relatif? Yup, urbanesse, orang sombong ini sebenarnya tidak sepenuhnya sombong. Terkadang – kadang saja, tergantung situasi dan kondisi. Contoh orang yang tergabung dalam satu kelompok atau geng elit. Pernah bertemukan dengan orang yang ketika dia berkumpul sama teman – temannya, seperti tidak kenal kita. Jangankan say hai, melirik saja tidak. Nah beda lagi sikapnya ketika dia sendiri, sombongnya langsung hilang. Adakan yang kayak gini? Ada

 

Sombong Konsisten:
yang tipe ini adalah yang paling tetap pendiriannya. Bagus sih konsisten tapi pas lagi ngobrol menyebalkan juga. Kenapa? Karena tipe ini akan berusaha sekuat tenaga sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan pendapat bahwa yang dia milikilah yang paling bagus daripada yang dimiliki lawan bicaranya. Entah itu pekerjaan, gadget, pengalaman liburan atau bahkan pasangan. Meskipun yang kamu punya lebih oke dan kamu tahu itu. Tapi ya sudahlah, cukup di-iya-in saja.


Sombong Fake:
sombong palsu. Tipe ini biasanya orang yang suka membual. Jadi yang dia sombongkan bukan berdasarkan keyataan. Apa yang mereka ceritakan hanya sebatas pencitraan agar diakui bahwa mereka hebat. Misalkan mereka mengaku kenal dengan pejabat A, kenal dengan artis B, berasal dari keluarga menengah ke atas, punya bisnis macam – macam dan banyak lagi yang lain. Kadang saya merasa kasihan dengan orang seperti ini. Demi sebuah pengakuan mereka rela melakukan kebohongan publik. Dan apabila sudah diketahui, mereka akan menutupinya dengan kebohongan – kebohongan yang lain, yang penting masih bisa sombong.


Sombong akurat:
Nah yang ini tipe yang saya suka. Sombong elegan. Karena tipe ini memang punya kualifikasi. Apa yang mereka sombongkan itu sesuai fakta di lapangan. Misalkan dia menyombongkan diri di suatu bidang, karena memang dia berprestasi di bidang tersebut. Atau dia sombong karena pintar, wajar karena dia lulus
cumlaude. Tipe ini sangat asik untuk dijadikan teman. Kita bisa belajar banyak dari dia. Dengan syarat harus sabar dan punya mental baja. Biasanya karena sudah merasa ahli, mereka merasa paling hebat. Padahal di atas langit masih ada langit. Tapi tidak apa – apa selama kita masih bisa memperoleh ilmu darinya. 

 

Seperti pengalaman saya di kantor. Saya memiliki atasan yang sering memandang saya sebelah mata. Kinerja saya tidak dianggap. Tapi tidak hanya saya saja yang diperlakukan seperti itu. Beberapa rekan kerja pun hampir sering mengeluh atas sikap yang bersangkutan. Hal yang saya tidak suka adalah ketika dia membandingkan kehidupannya “yang sempurna” dengan kehidupan teman kantor lain yang memiliki “drama”, dan tentu termasuk saya. Saya juga tidak suka ketika yang bersangkutan mulai mengungkit tentang harta benda yang dimiliki dan kemudian lagi – lagi membandingkan dengan teman kantor. Misalkan dia dapat beli mobil cash namun teman kantor saya cuma bisa beli mobil kredit atau yang second saja.

 

Hei rejeki kan Tuhan yang mengatur. Lagian selama keluarga mereka tidak keberatan, why not. sebenarnya masih banyak lagi perlakuan yang tidak menyenangkan, tapi tidak perlu saya ceritakan semua. Singkat cerita, atasan saya itu melanjutkan studi dengan 2 orang rekan kerja yang seangkatan. Seiring berjalannya waktu, 2 orang tersebut malah lulus lebih cepat dibanding dengan atasan saya tersebut. Bahkan sampai ketika saya mengajukan beasiswa dan diterima, atasan saya belum selesai juga studinya. Kabar terakhir yang saya dengar, yang bersangkutan mengundurkan diri dari perkuliahan dan tidak melanjutkan. Pesan moral yang dapat kita ambil adalah sehebat apa pun kehidupan yang kita miliki, kita tidak boleh membandingkannya dengan orang lain. Yang ada kita harusnya bersyukur dan cukuplah keluarga kita saja yang tahu. Ingatlah kehebatan yang dimiliki sekarang adalah pemberian dari Tuhan dan bisa jadi Tuhan mengambilnya saat kita tidak siap.

 

Lalu bagaimana sikap yang dapat kita ambil untuk menghadapi orang sombong seperti itu? Apakah kita harus balik sombong? Nope, big no no ladies. Api tidak bisa dibalas dengan api. Cara terbaik adalah perlakukan mereka dengan baik. Sebenarnya orang sombong sering juga mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain yang tidak suka dengan mereka. Jadi, urbanesse dapat menyapa mereka terlebih dahulu. Saya yakin mereka akan terkejut dengan perlakuan seperti itu. Tapi dilain pihak bisa jadi mereka senang karena masih ada yang mau menyapa mereka. Selain itu, urbanesse juga dapat melakukan pendekatan dengan cara mencari kesamaan minat. Orang sombong juga manusia yang memiliki kegemaran dan minat, nah dengan begitu mereka akan melihat urbanesse memiliki ketertarikan yang sama. Sehingga cara pandang mereka terhadap urbanesse akan berubah. Seperti atasan saya sekarang, setelah saya kuliah, sikapnya mulai berubah. Mungkin dia paham betapa perlu perjuangan untuk menyelesaikan studi, sehingga dia tidak bisa nyinyir lagi.  

 

Menjadi baik tidak harus membuat urbanesse rela diperlakukan apa saja oleh mereka. Tetaplah dengan standar dan prinsip urbanesse. Menjadi baik menunjukan manner dan attitude kita. Bukankah kita harus berlaku baik dengan setiap orang. Karena menurut saya, rasa sombong yang ditunjukan oleh seseorang itu hanya merupakan self defence, sebuah pertahanan diri. Mereka butuh pengakuan, itu menandakan di dalam diri mereka sendiri rapuh. Sehingga mereka butuh  perlakuan baik dari orang – orang disekitarnya. Namun, cara mereka yang salah, malah membuat orang menjadi menghindar dan tidak peduli. So urbanesse untuk menghadapi orang sombong dengan cara kill’em with kindness, go ahead, go ahead now J

 

sumber : caramenghadapi.com/cara-menghadapi-orang-sombong/



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.