Ketulusan Ibu Pembersih Gudang


Monday, 30 Nov -0001


Ketika saya bersekolah di Inggris, walaupun tidak beragama pada waktu itu, saya senang ke gereja karena terkesan khotbah-khotbahnya membuat saya bisa tersenyum dan tenang. Maklum ya dalam dunia nyata yang keras sudah jarang saya mendengar tentang cinta kasih, kelembutan, ketengan, dan hal-hal yang menurut saya indah tapi yaitu cerita-cerita indah saja. Cuma lumayanlah mengisi hati perempuan saya dengan hal yang manis dan teduh.

 

Suatu pagi, saya sedang duduk-duduk tenang-tenang di gereja, seorang ibu tua menyampiri saya dan saya tentunya kaget karena saya tidak kenal siapun di gereja itu dan memang saya maunya setelah nyanyi-nyanyi dan mendengarkan khotbah saya bisa langsung pergi. Lebih herannya lagi ibu tua itu menawarkan saya untuk makan siang bersama. Melihat dia sudah tua dan begitu baiknya ya saya bilang OK. Saya pikir ini juga minggu setelah gereja saya tidak punya jadwal tertentu.Tapi ya pastinya kagok juga karenakan kita tidak benar-benar pernah kenal sebelumnya.

 

Begitu gereja selesai dia menanyakan apakah saya mau menumpang dengan salah satu keluarga yang dia ajak untuk makan siang juga. Ya boleh-boleh saja dong hehehe dari pada bayar taxi atau jalan kaki?

 

Ternyata saya baru sadar rumahnya itu jauh diluar kota!

Untungya saya ngga gengsi dan langsung masuk mobil yang ditawarkan. Setelah berkenalan dengan keluarga yang satu lagi maka kamipun masuk ke apartemen yang yah ngga bisa dibilang besar tapi kecil juga tidak. Memang meja makannya cukup untuk kita berempat.

 

Keluarga itu kebetulan punya 2 anak kecil. Sembari duduk saya melihat ibu-ibu tua itu mengeluarkan makanan dari ovennya. Wow, enak banget seperti makanan thanksgiving. Isinya ada daging kalkun, wortel rebus, kentang halus, labu rebus, dengan saus cranberry dan saus jamur. Kita juga boleh nambah lagi dan nambah lagi. Wow, saya merasa beruntung banget nih, apalagi kalau di Inggris makan siang seperti ini pastinya tidak murah.

 

Setelah makanan dibagikan saya lihat ibu tua itu menghilang dan tidak kembali lagi. Setelah saya tanya orang yang makan bersama saya ternyata ibu tua itu membawa kedua anak kecil yang ada ke taman bermain anak-anak supaya kedua anaknya bisa merasa lebih bahagia dan keduaorangtuanya bisa makan tanpa terganggu.

 

Di situ perasaan saya mulai tidak enak…

Masa ada ya orang seperti itu? Sudah dia sibuk-sibuk masak (FYI masakan dia itu adalah masakan yang harus dimasak secara perlahan supaya terasa enak dan gurih) dia sendiri tidak makan dan diantara kita semua dia yang paling tua, malah dia yang membawa anak-anak ke taman bermain. Tap iya sudahlah karena itu kan bukan kita yang memaksa atau meminta…..

 

Ketika dia kembali saya sudah senang banget hahaha maklum,,,makanannya enak banget dan banyak. Jadi saya bisa tambah sepuasnya. Apalagi kan saya hobi makan, jadi minggu itu terasa ceriaaa bangett hahahaha……Ibu tua itu pun balik dengan anak-anak kecil tersebut dan kita pun mulai berbincang-bincang. Dimulai ya dengan pertanyaan saya kenapa ibu tua tersebut mau mengundang kita-kita yang tidak dikenal ini untuk makan bersama seperti ini.

 

Ibu ini ternyata setiap hari minggu itu harus berjalan kaki dari rumahnya ke gereja supaya dia itu bisa menyisihkan gajinya cukup untuk bahan-bahan masakan yang diberikan ke kita. Dia jalan kaki itu bolak-balik kecuali ada yang mengantar. Pagi-pagi sekali dia ke pasar untuk membeli semua bahan-bahan untuk memasak, lalu dia mempersiapkan semua masakan tersebut yang akhirnya dia masukkan oven supaya bisa menjadi empuk pas ketika dia kembali. Dia harus bangun pagi sekali karena setelah berbelanja, dan masak, dia perlu bersiap-siap dan berjalan ke gereja selama1 JAM melewati jalan tol!. Di bayangan saya selain bahaya juga akan sangat sendirikan berjalan di situ.

 

Lalu saya tanya kembali kenapa dia mau berkorban seperti itu? Dia mengatakan bahwa dia itu tidak pintar dan tidak banyak kemampuan. Pekerjaan dia sehari-harinya menjadi OB sehingga uang yang dia punya terbatas. Dia lihat setiap orang yang ke gereja banyak yang membantu orang lain dalam berbagai hal seperti member sumbangan, bernyanyi, merapikan gedung, dll. Tapi dia tidak bisa semua itu. Dia hanya bisa memasak. Dan karena gaji dia sangat terbatas dia hanya bisa memasak masakan istimewa ini untuk 4 orang. Sehari-harinya pun dia tidak makan seperti itu.

 

Kepala saya langsung panas dan muka saya merah menahan air mata. Apakah saya ngga salah dengar? Kalau masalah uang saya bisa bantu, masalah transport juga tidak susah-susah amat, tinggal bayar taxi….Hati saya jadi tidak menentu…antara berterima kasih, kasihan, bingung, terharu…. Aduh campur aduk banget.

 

Lalu dia melanjutkan ceritanya…. Setiap orang memberikan yang terbaik untuk Tuhan dalam melayani orang lain tapi karena dia merasa dia tidak pintar & tidak kaya, jadi yang terbaik adalah masakan ini dengan uang yang sudah dia atur dengan baik supaya menjadi masakan terbaik bahkan lebih baik dari yang dia makan sehari-hari.

 

Setelah selesai bercerita saya sudah tidak bisa dan tidak mau tanya-tanya lagi karena perasaan saya benar-benar tidak karuan. Saya takut saya nangis. Saya kaget mendengarkan penjelasan ini. Dia sudah tua, masih mau jalan jauh, menghabiskan uangnya untuk orang lain, bahkan tidak ikut makan disaat makanan dihidangkan.

 

Mungkin ya saya terlihat lebih berpendidikan, lebih punya uang, lebih muda, dan lebih-lebih yang lain tapi secara jelas saya tidak punya hati wanita tersebut. Dan you know what? Saking saya kagetnya dan begitu tersentuhnya hati saya. Sampai saat ini saya tidak bisa lupa akan acara tersebut dan ibu itu akan selalu ada dihati saya.

 

Saya jarang bahkan sudah tidak pernah merasakan ketulusan seperti yang dilakukan ibu tersebut. Saya bahkan skeptis orang baik itu ada (pada saat itu) semua orang menurut saya egois dan kalau baik ada maunya, kecuali temen baik.

 

Dari situ saya belajar hati yang baik dan tulus terdengar sederhana tapi bisa memberi pengaruh yang jauh lebih besar dibanding orang yang pintar, orang yang kaya, dan orang-orang hebat lainnya.

 

Dia menyentuh hati dan pikiran saya hanya dengan 1 kejadian itu dan saya setelah bertemu dia lalu berusaha juga menjadi orang yang lebih baik dan tulus. Bayangkan berapa orang yang telah dia rubahkan hatinya hanya dengan sepiring makanan? Saya yakin banyak. Karena bumbunya sangat khas…. Kebaikan dan ketulusan hati…

 

Wow…. Sampai saat ini saya menulispun rasanya masih sangat kuat di hati saya……begitu banyaknya hal-hal yang saya dapat dalam dunia ini malah membuat saya egois sedangkan ibu yang hidup pas pas an itu masih mempunyai hati yang sangat besar untuk orang lain.

 

 

Menjadi tulus bukan suatu kebetulan, Tulus adalah keputusan hati. Dan tulus tidak ada hubungannya dengan kaya atau tidak. Pintar atau bodoh. Tulus ya tadi itu keputusan, berbuat baik tanpa meminta apa-apa.

 

Saya tertampar dan saya belajar dari ibu tua itu. Tulus itu sederhana tapi tulus itu jugasangat sulit dijalankan secara konsisten. Terlebih dengan memberikan yang terbaik. Tapi bisa, jika kita mau. Hasilnya? Dunia yang lebih indah seperti dunia saya yang abu-abu langsung berwarna ketika saya menerima ketulusan ibu tuatersebut.

 

 

Tulus buat saya sebuah kata yang benar-benar bermakna special merubah hati dan pikiran saya. Thank you Bu!



Priscilla

No Comments Yet.