Ketika Emosi Mengalahkan Logika


Monday, 30 Nov -0001


Kalau sudah emosi udah nggak ada tuh yang namanya teknik nafas dalambersabar, hitung 1 sampai 10, atau memikir dua kali sebelum bicara.  Namanya kalau  sudah emosi, ya naik darah. Semua yang baik terlupakan.  Kata-kata juga langsung otomatis pakai yang paling meyakiti.  Dan yang anehnya, kadang gampang emosi dan kadang bisa dihadang.  Pelan-pelan aku sadar mengapa bisa seperti itu. Ada banyak ranjau darat di hidup kita yang tidak kita ketahui letaknyadan orang yang paling mengerti di mana letaknya ranjau darat di hidupku, biasa adalah orang terdekatdan untuk membuat aku tetap berada di area yang terkontrol atau di manayang mereka terbiasa menghadapiku, mereka tidak akan sungkan untuk menekan tombol meledak.  Kadang aku merasa emosiku sendiri yang meng-kontrol hidupku.

Aku belajar banyak tentang mengatur emosi diridan tentunya sampai sekarang pun kadang masih nggak tahan dan meledak juga dengan keluarga karena mereka yang paling dekat, tapi aku tahu aku dalam masa penyembuhan.  Di bawah aku tuliskan cara gimana aku memproses emosi:


Step 1. Bertanya WHY?

Ketahuilah di manaletaknya ranjau darat di hidup kita.  Perasaan kita itu adalah seperti pedoman untuk mengetahui diri kita sendiri.  Misalnya, bila aku menjadi sangat marah ketika ada teman datang terlambat aku tanya diriku sendiri, kenapa hal seperti ini bisa membuatku marah?  Mungkin aku sebenarnya merasa tidak dihormati.  Itu berarti ranjau daratku adalah urusan hormat.  Bila aku sudah merasa tidak dihormati, otomatis meledak.


Step 2. Bertanya HOW?

Setalah mengetahui letaknya ranjau darat, apa yang harus dilakukan?  Ranjaunya bisa dihindari dengan cara PAY ATTENTION! Ketahuilah dengan baik ketika ada orang yang mengarah ke sana.  Harus belajar menggarisi batas-batas di hidup kita supaya orang lain tidak seenaknya menginjak.  Dan harus dihentikan sebelum kelewat meledak, karena semakin dekat semakin susah dihentikan.  Ada beberapa cara misalnya kalau masih jauh, aku biasa coba menghindari percakapan yang aku tahu akan meledakkan emosiku.  Kalau sudah lebih dekat, kadang harus mengeluarkan diriku dari ruangan itu.  Kalau sudah terlalu dekat, biasanya karena aku nggak waspada, aku meledak.  Ada juga cara lain, misalnya,dulu mamaku kadang membuka surat formalku tanpa sepengetahuan (dari bank, sekolah, dll).  Aku dulu pernah meledak parah karena dia membuka surat dari universitas untuk memberitahukan berita baik bahwa aku diterima di kampus.  Setelah itu, aku langsung mengadakan percakapan dengan mama, mengatakan bahwa aku tidak senang bila dia melakukan itu karena itu melewati garis batas prinsipku.  Mamaku mengerti dan sejak itu dia tidak pernah membuka sepucuk surat apa pun di mana namaku tertera di atasnya.  Ini bukan berarti mengeluarkan orang yang menginjak ranjau itu dari hidup kita, karena mau berapa ratus orang yang kita mau musuhi karena mereka memang tidak tahu prinsip kita?  Tapi kita belajar untuk me-manage orang-orang disekitar kita dengan cara memberitahu mereka garis batas prinsip kita.


Step 3. Bertanya THEN?

Setelah memberi garis batas kepada hal-hal yang penting di hidup kita, kita pelan-pelan belajar mengangkat ranjau-ranjau ini.  Kita akan memerlukan waktu, karena mungkin ranjau-ranjau ini sudah tertanam berpuluhan tahun.  Aku berhasil mengangkat ranjauku ego tentang kepintaran.  Aku dulu gampang tidak senang bila ada yang mempertanyakan kepintaranku atau kemampuanku.  Egoku tinggi bila sudah menyangkut dengan kepintaran dan aku selalu haus akan pengetahuan.  Maka berantem tentang isu-isu yang berkaitan dengan pengetahuan atau opini itu sudah biasa.  Aku pertama belajar Step 2.  Bila sudah ada hal-hal yang berkaitan dan aku ingin menyeletuk, aku menahan diri, dan kadang sengaja keluar dari tempat itu biar tidak mengikuti diskusi (yang pasti berakhir dengan marah-marah).  Pelan-pelan aku fokuskan diriku untuk tidak menyembah pengetahuan dan kepintaran sebagai dewa, dan memfokuskan pikiran ke pentingnya keharmonisan hubungan antara aku dan orang lain.  Sekarang aku gampang mengakui kesalahan dan gampang melihat perspektif dari orang lain, karena kepintaran diri bukan lagi dewa yang mengekang.  Ranjaunya sudah diangkat.  Di tengah orang pintar aku tidak merasa ditantang dan di tengah orang yang tidak berpengetahuan aku tidak sombong.  Tapi aku tetap harus waspada karena tempat yang pernah ada ranjau, gampang ditanam ranjau yang sama lagi.  Jadi prosesnya terus berulang-ulang kali.

 

Jangan sampai hidup kita dikendalikan emosi, karena banyak hal yang kita sesali adalah hal-hal di mana kepala kita sedang panas.  Saat kita sedang emosi, gampang membuat janji atau keputusan penting.  Alangkah baiknya bila kita bisa memakai emosi kita untuk hal-hal yang berguna, misalnya untuk mengenal diri kita, atau mengenal diri orang lain dan saling membantu mengubah diri menjadi lebih baik. Mengatur baik emosi kita akan mengubah kehidupan kita.



Cianna

No Comments Yet.