Keterbatasan Bukan Alasan


Monday, 30 Nov -0001


Sumber: IfFusion.com

Masa kecilku berjalan normal seperti anak-anak lain. Banyak teman dan selalu ceria bermain bersama. Teman-teman sering datang ke rumah untuk belajar bersama karena kebetulan aku langganan jadi juara kelas. Setelah belajar, kembali kami bermain sebagaimana layaknya anak-anak. Aku beruntung, orangtuaku tidak pernah melarang teman datang untuk belajar dan bermain sepulang sekolah.

Seminggu masuk SMP, ayahku meninggal mendadak akibat serangan jantung saat bertugas di Riyadh, Saudi Arabia. Keluargaku sangat terpukul namun untunglah ibuku seorang wanita yang tegar dan gagah perkasa. Dengan kondisi kaki sakit hingga harus berada di kursi roda, ibuku mulai berdagang baju yang dititipkan ke oom, tante dan teman-temannya. Juga menjahit dan membuat aneka kerajinan tangan. Kami anak-anaknya harus kreatif, bisa menjahit dan merajut. Hal yang begitu berharga untuk masa depan kami. Ibu mengajari kami menjadi orang yang tetap tegar dan tidak menyerah pada keadaan. Tidak ada alasan, karena life must go on. Bahkan ketika harus duduk di kursi rodapun, tidak ada alasan untuk mengeluh.

Kelas 2 SMP, aku mulai memperhatikan ada yang tidak beres pada tubuhku. Punggungku sering sakit dan ibu juga berkata, tulang belakangku mulai terlihat miring. Bengkok ke kiri di bagian pinggang dan makin lama makin miring. Kamipun kontrol ke dokter tulang. Diagnosa dokter, aku menderita skoliosis, tulang belakang yang bengkok. Ini ternyata keturunan karena ibukupun menderita sakit yang sama meskipun tidak separah aku. Karena bengkoknya sudah parah dan dikhawatirkan makin parah dari waktu ke waktu, maka dokter menyarankan operasi secepat mungkin.

Tidak butuh waktu lama, aku menjalani operasi skoliosis. Di sepanjang tulang belakang dipasang pen besi. Dan itu mengakibatkan sakit yang amat sangat dalam waktu lama setelah operasi dan untuk menjaga kondisi tubuhku setelah operasi, aku harus memakai gips sepanjang badanku selama lebih dari setengah tahun. Sangat tersiksa dan berat. Gips itu dipasang dari mulai batas antara leher dan wajah, hingga ke batas pinggul dan kaki. Susah sekali untuk bergerak dan seketika itupun aku menjelma menjadi robot. Beruntung, semua teman di SMP begitu perhatian dan sayang padaku selama aku memakai gips itu. Aku tetap bersyukur, bergembira dan berdamai dengan segala keadaan, dan itu memang sudah merupakan karakterku sejak kecil. Tentunya  jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada kita terus meratap, minder  dan murung. Banyak sekali teman yang menawarkan bantuan di dalam kelas dan luar kelas. Termasuk menemani aku pulang naik bis dari sekolahku di Melawai Blok M hingga rumahku. Saat semua mata penumpang bis menatap aneh padaku, kami asyik bercanda hingga aku tidak perduli pada tatapan aneh itu. Aku juga tidak menganggap keadaanku itu sebagai suatu keterbatasan. Harus tetap semangat dan ceria. Tidak ada alasan untuk menyesali keadaan walaupun cobaan terasa begitu bertubi-tubi.

Setengah tahun berlalu, tibalah saatnya gips di badanku dilepas dan diganti dengn besi penyanggah atau dikenal dengn nama brace. Panjangnya tetap sama dengn gips, dari leher sampai batas pinggul dan kaki, namun brace ini jauh lebih ringan dan dapat dilepas bila hendak mandi. Aku mulai bisa bergerak lebih bebas meskipun tidak sebebas anak lain. Tentu saja aku harus tetap menjaga agar posisi badanku tetap tegak hingga operasi di tulang belakangku tak bermasalah. Support terus menerus kudapatkan dari keluarga dan teman. Prestasi belajarku juga cukup membanggakan, aku tetap berhasil mempertahankan ranking serta NEM yang termasuk tertinggi.

Hingga sekarang dampak operasiku itu masih terasa. Aku lebih cepat capek dan sering sakit punggung, pinggul dan kaki bila terlalu banyak jalan. Itu bukan masalah besar, bukankah aku telah banyak belajar selama ini untuk berdamai dengan sakitku? Dalam berhubungan dengan orang lain, hal yang terpenting adalah penguasaan diri, kebaikan dan kemurahan hati, sehingga kita dapat berguna untuk sesama dalam segala situasi. Itu karakter yang selalu aku pertahankan.Timbal baliknya, selama sakit, banyak sekali yang membantu dan bermurah hati padaku.

Aktivitasku tetap beralan seperti biasa. Bekerja naik turun tangga utk memeriksa hasil kerja mandor dan para pekerja lapangan juga tak masalah. Sampai ada satu kejadian yang menyebabkan aku harus bed rest karena tidak bisa jalan atau bergerak. 2 minggu lebih aku menahan sakit yang luar biasa. Disitulah kesabaranku dibutuhkan. Beruntung banyak sekali support dari keluarga maupun teman. Semua aku dapatkan karena mereka begitu terkesan akan sifatku yang lemah lembut dan setia dalam menghadapi berbagai masalah, termasuk masalah dengn mantan suamiku. Hingga akhirnya perlahan aku mulai bisa bergerak walaupun masih sedikit sakit dan menjalani proses sidang gugatan ceraiku di Pengadilan Agama dengan berjalan sendiri tanpa alat bantu. Benar-benar perjuangan. Namun sekali lagi berlaku kalimat sakti, keterbatasan bukan alasan. The show must go on. Dan semua persolan selesai satu demi satu.

Kini aku tidak boleh terlalu capek. Sewaktu-waktu bisa sakit lagi. Untuk mengantisipasi hal tersebut aku telah menyiapkan diri untuk bekerja di rumah saja sekaligus dapat mengawasi putriku secara lebih berkualitas. Memulai usaha toko online, dan menulis menjadi pilihanku. Aku menulis buku self-publishing tentang hobi masa kecilku yang tiba-tiba sekarang menjadi harta karun yang sangat berharga, yaitu koleksi foto dan tandatangan para tokoh dunia serta cerita seru dibalik perburuan itu. Saat awal aku promosi di salah satu jejaring sosial, tanggapan positif berdatangan dan banyak teman yang sudah pre-order walaupun buku itu belum jadi. Mengejutkan. Beberapa judul buku lain juga telah kupersiapkan untuk terbitan selanjutnya. Saat ini aku juga  masih memiliki banyak obsesi dan aku yakin pasti dengan tekad dan niat yang tulus, semua dapat tercapai, termasuk obsesiku untuk menjadi developer sesuai dengan ilmu arsitek yang aku punya dan networking yang sedang aku bangun. Jangan menyerah pada keadaan atau keterbatasan. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Ada sifat-sifat dasar sebagai wanita yang dapat menjadi kekuatan kita. Tetap gali potensi yang ada pada diri dan terus berinovasi pada setiap situasi.

Urbanesse, dari kisah Rima di atas, berkat kesabaran dan kesetiaan, setiap hal dapat dilalui dengan baik, walaupun tetap ada rasa sakit atau tidak nyaman yang harus dirasakan. Hasilnya? Rima mengalami hal-hal luar biasa yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, tentunya hal-hal baik seperti yang disebutkan di atas.



Unknown

No Comments Yet.