Karena Mengejar Status ?Menikah?, Kuliahku Terbengkalai


Monday, 30 Nov -0001


Ini merupakan cerita seorang kawan.  Sebut saja namanya Sari,  Saat itu 2008 saya baru saja Wisuda S1. Seharusnya Sari juga ikut Wisuda bersama saya kala itu namun dia sangat sibuk dengan pemikirannya sendiri tentang kekhawatiran dia sulit mendapatkan pasangan hidup. Memang saya akui diantara keenam orang sahabat saya dalam genk kami ini hanya saya dan Sari yang belum mendapatkan pasangan hidup, namun saya tidak secemas Sari dalam memandang pentingnya pasangan hidup. Maklum karena saya berpikir yaaa namanya jodoh nggak akan ke mana semua orang sudah ada bagian jodohnya hanya kita tidak tahu kapan datangnya, toh masih muda juga saat itu pikir saya.

Kekhawatiran Sari akan tidak mendapatkan jodoh, disebabkan karena di antara genk saya yang berenam ini, hanya Sari yang ukuran berat badannya diatas rata-rata dari kita semua bisa dikatakan dia tidak pede dengan ukuran badannya makanya Sari cemas kalau nantinya sulit mendapatkan teman hidup. Dia juga terlahir dari keluarga yang sebenarnya sangat menjunjung tinggi pendidikan dan keluarga Sari masih taat aturan budaya daerahnya. Sari pernah mengatakan ke saya bahwa keluarganya terutama ayahnya sangat mengharapkan dia menjadi orang besar dan kalaupun memilih pasangan hidup Ayahnya ingin dia mendapatkan suami dari kalangan militer atau minimal pegawai negeri sipil dan satu suku dengannya.  

Dimasa labilnya itu Sari selalu pergi ke warnet untuk chatting melalui media sosial dengan beberapa laki-laki. Dia selalu cerita ke saya tiap kali kopi darat atau istilahnya meet up face to face dengan laki-laki dunia mayanya pasti selalu berakhir dengan yang namanya kecewa, mungkin tidak sesuai dengan bayangannya di media sosial. Karena yang saya tahu status seseorang di media sosial tidak semuanya nyata dan jujur. Kegagalan dan kekecewaan Sari dalam menjalankan suatu hubungan dengan laki-lakipun terus berulang. Sari memang memiliki standar terlalu tinggi untuk yang mau dijadikan pasangan hidupnya pernah satu waktu saya tanya“ Sar kamu mau cari laki-laki seperti apa sih? Dion, Firman, Tito, Prapto, Lando itu laki-laki lho high quality pula, mau cari kaya gimana sih?” tanya saya.

"Aku bingung, mereka memang baik. Tapi belum ada yang mengerti mau aku. Gak cocok aja, lagipula gimana orang tua aku bakal nerima mereka bukan seperti yang ortuku mau”, jawab Sari. “Hei non standarmu tinggi banget dan kamu terlalu terkungkung pada kriteria yang diberikan orang tuamu”, ucapku pada Sari. “yaaaa  ribet memang sih, aku juga jadi pusing, mau menyelesaikan skripsi aja malas banget jadinya”, jawab Sari. “Kalau menurut aku lebih baik kamu selesaikan dulu kuliahmu Sar, kerja dulu bahagiakan orang tua baru sambil jalan kamu memikirkan tentang pasangan hidup” kataku. Sari hanya diam dan tidak menjawab lagi apa yang saya ucapkan padanya.

Hingga pada suatu hari ketika saya dan sahabat saya yang lain sudah memiliki pekerjaan dan karir yang mumpuni, beberapa dari sahabat di genk kami juga sudah ada yang menikah namun Sari masih dengan pencariannya untuk mendapatkan apa yang dinamakan “Jodoh”. Untuk kali pertama dia memperkenalkan pada saya dan sahabat saya lainnya kalau dia sudah mendapatkan tambatan hati dan akan segera melangsungkan pernikahan. Sontak saya terkejut mendengarnya “what?? kamu mau menikah Sar, kuliah kamu gimana beresin dulu Sar sayang lho”, tanya saya. “Udah gampang lah, Iya ini aku lagi urus foto prewedding dan mau cetak undangan orang tuaku sudah setuju kok aku senang deh” jawabnya. Pikir saya pada saat itu yaaa mungkin ada saat di mana seseorang memang tidak mau memikirkan pendidikan dan karirnya karena sudah mendapatkan pasangan hidup yang settle dan sesuai dengan kriteria idaman orang tua. Pada saat itu saya tidak tahu yang sebenarnya tentang calon pasangan hidup Sari.

Singkat cerita hingga pada suatu hari Sari pun menikah, selang setahun setengah pernikahannya, Sari mengirim pesan di ponsel saya “Kamu punya uang tidak saya pinjam dong untuk beli susu anak nanti ayahnya anak-anak gajian aku ganti” saya pun memberikannya uang untuk dia pakai. Ketika libur kerja saya pun main ke rumah Sari untuk bertemu dengan anaknya dan lama juga kami memang tidak pernah bertemu lagi setelah dia menikah.

Pada saat itu Sari cerita ke saya “Omongan kamu dulu ke saya tidak pernah saya indahkan, sekarang saya tahu rasanya” ucap sari. Saya pikir pernikahan mereka baik-baik saja dan sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Ternyata berbeda, Sari cerita ke saya kalau suaminya itu sebenarnya hanya seorang pekerja pabrik yang kuliahnya terputus di tengah jalan karena masalah biaya. “Lalu itu suamimu ada foto wisudanya?", tanya saya ke Sari. “Iya suami saya akhirnya wisuda sebulan yang lalu, semua biaya kuliahnya orang tua saya yang menanggung hingga beres. Tapi sampai saat ini suami saya belum juga dapat pekerjaan lagi setelah diputus kontrak kerjanya dengan pabrik yang dulu mempekerjakan dia, di kantor kamu ga ada kerjaan ya buat suami saya? ” kata Sari.

“Ya ampun Sar, sampai segitunya ya. Ya sudah coba nanti kalau ada pekerjaan yang cocok di kantor saya, saya rekomendasikan suami kamu ya Sar. Tapi saya sebenarnya ingin kamu juga lanjutin kuliahmu yang terputus itu Sar. Perempuan mau Ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir tetap harus tidak melupakan pendidikan Sar selain menambah kualitas serta nilai plus kamu di mata suami dan keluarga, dengan label keren Ibu Rumah tangga bergelar sarjana  juga agar kamu lebih dihargai oleh orang lain khususnya suami kamu sendiri Sar” terang saya.

Sari hanya menjawab “mungkin ini sudah bagian hidup saya” mendengar jawaban dia saya langsung mengatakan “Ini mungkin bukan bagian hidupmu Sar. Tuhan mungkin saja sebenarnya sudah menyiapkan yang baik buat hidupmu awalnya, tapi kamu lebih memilih untuk diam dan pasrah tanpa berusaha untuk keluar di posisi tidak nyaman tersebut, saya tahu kamu tidak nyaman diposisi ini”, jawab saya “Iya saya tahu saya sudah keliru dan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan untuk menikah. Saya juga terlalu mengikuti patokan kriteria yang diberikan orang tua saya untuk memilih pasangan hidup hingga mengabaikan kuliah saya. Akhirnya saya juga yang kecewa sekarang, terperosok jauh dari kriteria orang tua” Ucap Sari.

Saya tahu ucapan saya beberapa tahun yang lalu ke sari  memang menyinggung perasaannya. Tapi dari ucapan saya itu mungkin membuat Sari berpikir dan pada akhirnya bulan kemarin saya bertemu lagi dengannya. Sari bersama Suami dan kedua orang anaknya datang ke rumah saya.  Dia datang dengan membawa buah-buahan untuk saya. “Ini saya ada sedikit rezeki buat kamu dan keluarga. Terimakasih ya kamu sudah mengajak suami saya bekerja di kantormu, saya juga mau beritahu kamu kalau bulan Juni nanti saya Wisuda S1...heeeheeeehe” ucap Sari dengan wajah sumringah.

 

Betapa senangnya saya mendengar Sari yang beberapa tahun yang lalu galau karena kehidupan ekonomi keluarganya dan menyesali pernikahannya karena terkungkung kriteria orang tuanya. Kini sudah tercukupi kebutuhan ekonominya, anak pertamanya juga sudah bersekolah.  Dia pun mau melanjutkan kuliahnya yang terbengkalai bertahun-tahun dan akhirnya Juni nanti Wisuda. Cerita Sari dan keluarganya memberikan pesan yang cukup besar buat saya. Bahwa Pilihan Hidup kita adalah kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain, bukan orang tua, bukan teman, bukan pasangan kita. Tetapi yang paling besar menentukan jalan hidup kita adalah diri kita sendiri. Kita yang memilih untuk maju atau terus terpuruk ke belakang.  Jika kita hanya hidup untuk memikirkan apa kata orang, maka selama itu juga kita akan kelelahan untuk mengikuti apa mau orang, padahal ini hidup milik kita, kita yang jalani. Jadi lebih baik ikuti yang menurut kita baik.  We Just standing there and will not move forward, As long as we still in good way of life and actions, Ignore it.



Libra

No Comments Yet.