Joyful Success


Monday, 30 Nov -0001


Hari ini kulalui dengan perasaan kurang enak di hati, karena harus memberikan teguran resmi kepada seorang staff-ku. Staff-ku ini baru saja melahirkan buah hati pertamanya, dan terpaksa harus kembali mencari nafkah DEMI kehidupannya yang lebih baik lagi. Teguran resmi ini aku berikan karena sejak hari pertamanya mulai bekerja kembali, ia selalu minta ijin menyusui anaknya di rumah. Hal ini tentu memerlukan waktu di luar batas toleransi istirahat makan siang. Aku sampaikan padanya bahwa sebagai ibu bekerja, ada hal yang harus dikorbankan. Bukan hanya kita yang berkorban karena harus meninggalkan anak yang dikasihi, tapi sebenarnya anak kitalah korban yang sesungguhnya. Saat seharusnya ia mendapatkan belaian kita sebagai ibunya, orangtuanya, ia harus rela menerima belaian susternya atau bahkan neneknya, yang tentu saja di luar harapannya jika si baby bisa berbicara. Jangankan baby kecil, anakku yang sudah SMA saja pernah protes bahwa biasanya mama temannya yang mengambil raport anaknya, dia koq diambilin susternya.

Dalam keadaan inilah wanita bekerja harus tau diri, berjuang lebih baik dengan tidak  menghabiskan waktu untuk hal sia-sia di tempat kerja. Sebenarnya para ibu bekerja, bukan hanya mengorbankan hak pribadi kita, tapi juga hak anak kita demi kebahagiaannya. Dengan alasan agar anak kita bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan; pendidikan yang baik, hidup yang lebih baik, kebutuhan yang lebih baik,  yang kita jadikan alasan untuk pergi bekerja. Pertanyaannya, apakah jam kerja yang ada sudah digunakan dengan baik?

Apapun yang kita perjuangkan dalam hidup ini sebaikanya dijalani dengan sukacita dan juga menimbulkan sukacita bagi semua pihak. Dengan memiliki sukacita, perjuangan kita akan terasa sebagai KEBUTUHAN bukan TUNTUTAN hidup, dan terasa lebih ringan tentunya. Jika kita merasakannya sebagai tuntutan hidup, perjuangan itu terlalu berat. Saya, sebagai ibu bekerja, ingin berbagi dengan Urbanesse tentang apa yang sudah saya lakukan agar tetap dapat menikmati dua peran sekaligus, sebagai ibu dan pekerja.

1.       MENTALITAS BEKERJA

Dalam berkarir, kenali TUJUAN kita berkarir, untuk apa? Dengan mengenal tujuan kita bekerja, secara otomatis kita akan lebih bisa menikmati pekerjaan kita dan pencapaian pun akan lebih optimal dibandingkan bekerja tanpa mengetahui dengan jelas tujuan kita bekerja.

Jika kita bekerja dengan mentalitas dan tujuan yang TEPAT maka banyak hal yang dapat diperoleh selain income, misalnya kita akan secara langsung mendapatkan penghargaan berupa existensi diri baik di tempat kerja, di lingkungan tempat tinggal, di masyarakat, dan terutama di keluarga. Dengan hasil kerja yang tepat tadi tentu saja dapat menghasilkan income yang seimbang dengan perjuangan dan pergorbanan kita, dengan kata lain kita mampu memenuhi tujuan kita bekerja, misalnya membahagiakan anggota keluarga inti, membahagiakan anggota keluarga kita yang lain, membahagiakan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan semua itu kita PASTI merasa lebih tenang dan bahagia.

Untuk mencapai kebahagiaan bekerja dibutuhkan PASSION, mencintai orang yang kita cintai; keluarga, anak, pasangan, dsbnya. Kalau cinta pasti peduli dan karena kita peduli pada orang yang kita cintai, kita pasti rela berkorban dan giat berjuang.

Dalam menjalani karir yang membahagiakan, tidak cukup hanya dengan kata “Aku berkorban demi kebahagiaan orang yang aku cintai” tanpa GIAT berjuang. Bagaimana mungkin hanya rela berkorban saja sudah mendatangkan hasil yang optimal?

2.      HIDUPLAH DENGAN TARGET

Pencapaian target tidaklah harus diraih dengan stress, karena semakin stress biasanya pencapaian pun kurang optimal. Bagaimana orang stress bisa berpikir, bertindak  lebih logis, lebih terkontrol dan menghasilkan hasil kerja yang lebih baik?

Target sebenarnya adalah alat ukur terhadap ability dan capability kita yang akhirnya menunjukkan “siapa kita”. Banyak orang gagal menunjukkan siapa dirinya dengan lifestyle berlebihan. Harga dirinya bergantung pada LIFESTYLE-nya yang ia biayai  di luar kemampuannya sehingga ia menjadi tidak bahagia. Inilah sebenarnya pemicu stress hidup orang berkerja/berkarir.

Untuk bahagia dalam bekerja, buatlah target berjenjang, semakin baik daripada yang telah kita capai waktu demi waktu. Semakin konsen pada tujuan kita bekerja, kebahagiaan kita semakin lengkap. Coba rasakan jika kita bekerja dengan tujuan yang tepat, memulai hari dengan semangat, bekerja dengan memanfaatkan waktu maximal, tanpa terasa hari telah sore, lalu pulang tanpa merasa lelah karena enjoy pada saat bekerja, lalu tidur dengan pikiran lebih lega dan nyenyak.

Bekerja dengan memiliki joy akan membantu kita sehat secara fisik, mental dan spiritual.  Coba perhatikan orang yang bekerja dengan memiliki joy, meski telat makan, mereka jarang terserang sakit maag . Mungkin saja asam lambung tidak sempat bekerja karena ia sedang konsen pada “KEBAHAGIAAN”-nya, yaitu pekerjaannya. Dalam hal ini, bukan berarti orang yang memiliki joy dalam bekerja, akan menjadi seorang workaholic. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika memiliki banyak waktu kosong (tidak produktif), kita punya waktu untuk merasakan sakit, frustasi dan kawan-kawannya dan itulah yang terjadi dalam hidup kita.

Dengan memiliki joy, membuat kita lebih mudah bersyukur dan menikmati apa yang sedang dijalani. Yaa dengan kerja optimal, kita bersyukur atas hari penuh rahmat yang TUHAN berikan pada kita, pada kesehatan fisik, pikiran, mental kita dan otomatis sehat secara spiritual.

3.      DOA  (HARAPAN) X PROSES = PROSES

Doa maximal (penyertaan TUHAN)  dibarengi dengan proses optimal akan menghasilkan hasil sesuai proses, yakni optimal, artinya TUHAN tidak mungkin tidak adil atas apa yang IA tahu sedang kita upayakan dalam pekerjaan kita. Inilah PROSES BAHAGIA.

Bagaimana orang hanya berdoa memohon harapannya pada TUHAN sementara ia tidak melakukan usaha, ataupun kalau ia lakukan, ia lakukan setengah hati, sedikit saja dan ia mengharapkan hasil yang besar? Nah ketika apa yang menjadi harapannya tidak tercapai, ia tidak bahagia, inilah PROSES KETIDAKBAHAGIAAN yang sering kita dengar berwujud keluhan, rasa frustasi, mengerutu dsbnya.

SUKSES adalah sebuah perjalanan, sebuah proses berkesinambungan yang seiring dengan waktu hidup kita. Setiap pencapaian selalu membawa kita pada harapan untuk mencapai yang lebih baik lagi dan lagi, yang jika kita jalani dengan bahagia, sungguh-sungguh hidup ini adalah rahmat TUHAN yang paling indah dalam suka duka kehidupan ini.

Sukses membawa kebahagiaan pada eksistensi diri, penghargaan terhadap apa yang kita capai, yang menimbulkan rasa bahagia untuk diri sendiri, yang bisa kita bagikan atau kita bawa kepada keluarga kita, lingkungan tempat kita berada. Dengan kesuksesan kita, kita mampu menyalurkan kebahagiaan pada orang lain.



Unknown

No Comments Yet.