Joy VS Happiness


Monday, 30 Nov -0001


Awal tahun yang menyenangkan dan penuh harapan tentunya menjadi penambah semangat untuk menjalankan semua rencana atau resolusi di tahun 2014 ini. Belum lama kita semua merayakan tahun baru, ucapan Happy New Year bertaburan dimana-mana. Happy...satu kata yang maknanya membuat semua orang menantikan, menginginkan dan merasakan, bahagia. Sebelum Tahun Baru, di bulan Desember yang lalu kita merayakan Natal... Lagu Joy to the World berkumandang dimana-mana membawa suasana dan perasaan yang sangat menyenangkan, hangat dan penuh syukur. Secara alami, kita semua ingin selalu merasakan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan. Banyak juga dari kita yang mencari dengan berbagai cara supaya bisa hidup bahagia, satu kata yang sangat mudahnya diucapkan tetapi kadang-kadang kenyataan tidak mendukung dan perasaan pun terbelenggu.... selalu dalam penantian dan pengharapan untuk bahagia. Apakah kebahagiaan, kesenangan itu dan kemanakah kita harus mencari?

Tanyalah diri Anda apakah sudah cukup bahagia? How happy are you with your life now? Renungkanlah sejenak. Berhentilah sejenak dari kegiatan apapun yang Anda lakukan saat ini. Kesenangan dan kebahagiaan akan memiliki arti, persyaratan dan definisi berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang berpendapat kalau kebahagiaan (happiness) bersifat sesaat, eksternal dan momentum sedangkan sukacita (joy) bersifat lebih bertahan lama, internal dan spiritual. Contohnya, kebahagiaan bisa kita dapatkan dari perayaan akan sesuatu yang membawa suasana ceria, pengharapan dll seperti pesta, perayaan hari besar, perayaan kelahiran dll. Banyak orang juga mencari dan mendapatkan kebahagiaan dari melakukan hobi maupun kebiasaan-kebiasaan tertentu. Sedangkan sukacita atau joy dirasakan melalui proses dan berasal dari dalam diri sendiri. Misalnya ketika sedang menghadapi masalah, pada saat bangun pagi Urbanesse sadar sedang menghadapi masalah, tapi karena memiliki sukacita, Urbanesse dapat melewati hari itu dengan bahagia dan yakin bahwa masalah tersebut akan terselesaikan dan berlalu. Ada orang yang hidupnya lebih dari berkecukupan tetapi tidak juga merasa bersukacita namun ada orang yang hidupnya serba kekurangan tapi tetap dapat bersukcaita karena selalu bersyukur akan apa yang dimilikinya. Hal-hal seperti ini yang membuat joy bersifat spiritual dan pribadi. Bagaimana menurut Anda?

Kembali lagi ke renungan tadi. Di titik kehidupan sekarang ini seberapa bersukacitanya Anda? Apakah Anda bisa mendefinisikan kata sukacita itu sendiri? Perlukah Anda merasa bersukacita? Atau cukup bagi Anda untuk menjalani kehidupan dari hari ke hari dan sudah merasa puas tanpa dapat memiliki dan merasakan sukacita? Well, jawabannya akan sangat personal dan bervariasi.



Unknown

No Comments Yet.