It's OK Mom...


Monday, 30 Nov -0001


Saya dibesarkan di dalam satu keluarga yang mungkin bisa dibilang kalau dari kasat mata biasa beruntung sekali. Karena saya tidak pernah hidup berkekurangan: selalu sekolah di sekolah-sekolah ternama bahkan di luar negeri, bisa membeli barang-barang yang saya suka dengan cukup mudah.

Namun sedikit yang tahu bahwa di dalam rumah ibu saya itu mengidap sedikit kelainan yang membuat dia terlihat waras tapi sering melakukan hal-hal yang tidak waras terutama kepada saya. Ibu saya itu terbiasa kalau kesal akan kejadian-kejadian di rumah mencari sansak hidup dan biasanya orang itu saya. Waktunya pun seringnya mendadak tanpa alasan yang jelas, jadi saya hidup dalam ketakutan setiap hari, tidak tahu kapan kejadian buruk akan terulang. Kalau saya sekolah, saya biasakan tidak langsung pulang karena saya merasa khawatir kalau pulang rumah.

Belum lagi ibu saya senang memanggil saya bodoh, tidak cantik, tidak akan berjodoh baik, dan kata-kata lain yang cenderung mengutuk dan cukup menyakitkan, terlebih karena saya masih kecil.

Saya pernah sekali menulis surat kepada Tuhan yang intinya saya merasa Tuhan itu semua adalah omong kosong karena kalau Tuhan ada dan mendengar doa saya, pastinya melihat keadaan saya Dia akan membantu saya. Doa-doa saya sepertinya tidak terjawab .....

Sampai pada akhirnya kekalapan ibu memuncak dan saya dipukuli sampai tidak bisa melihat....saya benar-benar merasa pada saat itu ajal sudah dekat. Takut, tegang, pasrah, sedih, siap mati, semua bergabung menjadi satu.

Untunglah ternyata itu hanya kehilangan penglihatan sementara, tapi dari sini kalian sudah mulai mengerti kenapa saya yang dulunya berharap, berdoa, berusaha membuat ibu saya mencintai saya, akhirnya berbalik tidak peduli bahkan mengharapkan yang terburuk terjadi kepadanya. Ya, saya sempat berpikir bahwa saya akan sangat bahagia kalau ibu saya kecelakaan karena menurut saya dia itu bukan ibu tiri lagi tapi menurut saya iblis berwujud ibu.

Saya terbiasa sinis, keras, menghindar, dan menjatuhkan ibu saya dalam setiap pembicaraan ya karena itu tadi saya menganggap dia monster paling akbar dalam hidup saya. Dan oh ya saya hampir tidak pernah diurusi ibu saya. Ini juga merupakan satu hal yang membuat saya menjadi sangat getir ketika mengingat masa lalu saya.

Waktu berlalu, keadaan begitu-begitu saja. Tapi dengan berjalannya waktu, entah kenapa begitu banyak orang yang mengasihi saya dan memperlakukan saya seperti anggota keluarga sendiri. Hati yang kosong itu sedikit demi sedikit terisi dengan cinta kasih dan cinta kasih itu memberikan saya kesempatan untuk merasakan kehangatan dan kelembutan dalam hati saya. Rasanya nikmat dan rasa ini sering membuat saya ingin dan akhirnya menangis. Mungkin rasa cinta kasih orang lain itu bisa mencairkan air mata saya yang sudah lama membeku. Tapi walau begitu masih sulit saya memaafkan mama saya. Sepertinya sayang orang-orang kepadaku hanya cukup untuk diriku, belum cukup untuk berbagi.

Suatu saat saya mendatangi semua konseling center karena tadinya saya mau membantu orang-orang yang saya kenal. Ternyata satu hal dan lainnya malah saya yang menjadi pasien konseling. Tapi memang Tuhan baik. Proses konseling yang sangat berat ini akhirnya seperti membuka sumbat cinta kasih yang selama ini mengisi hati saya. Banyak kepahitan-kepahitan yang selama ini saya simpan, sadar atau tanpa sadar, bisa saya lepaskan, dan mereka menjadi....masa lalu.

Dari saat itu saya punya kekuatan untuk mulai belajar, mengerti sebelum menghakimi, memaafkan daripada menuntut, dan percaya saya bisa mengisi kehangatan dalam hati saya tanpa memaksakan keluarga saya memberikan kehangatan atau cinta kasih. It’s OK.

Yah kata it’s OK ini kata yang sangat sederhana tapi kata yang sangat mahal. It's OK..apapun yang telah terjadi it’s OK. Saya tidak menuntut apa-apa lagi dan saya bisa menerimanya karena saya mengerti. Walau dia belum tentu juga berubah, it’s OK. It’s OK mom. I accept you the way you are.



Unknown

No Comments Yet.