Indah, Hidupku


Monday, 30 Nov -0001


 Hidup tidak selalu nyaman. Terutama jika kita berperan sebagai seorang single mother, yang merangkap sebagai Ibu sekaligus Ayah untuk putri manisnya. Namun, di setiap langkah kehidupan yang kulewati, aku selalu dapat menemukan sukacita, senyuman dan tawa dalam setiap peristiwa kecil maupun besar.

Ingatanku melayang pada masa-masa kehamilanku yang walau tidak sempurna, aku selalu dapat berbahagia, membayangkan bahwa aku akan menjadi seorang Ibu dari seorang bayi mungil yang cantik dan cerdas. Aku bersyukur bahwa aku terpilih untuk dipercayakan seorang bayi mungil yang luar biasa. Bagaimana tidak, di antara banyak orang tua yang begitu merindukan momongan dan tidak kunjung mendapatkannya, aku begitu beruntung dikaruniai seorang bayi mungil di dalam rahimku, yang akan mewarnai hari-hariku dengan tawa dan senyuman.

Ketika hari melahirkan tiba, aku melaluinya hanya dengan seorang bidan di klinik bersalin yang sederhana, aku bersyukur bahwa aku dapat melahirkan dengan normal. Hari itu bersamaan dengan peringatan 40 hari meninggalnya Papa tercintaku. Keesokan harinya, Mamaku dari Cirebon, mengunjungiku di klinik bersalin Jakarta. Aku belajar bagaimana menyusui dari Google, mamaku tidak pandai mengajari, sedangkan bidan mungkin menganggap proses menyusui adalah hal alami, sehingga membiarkanku mencobanya sendiri.

Karena pelekatan yang salah, aku mengalami proses menyusui yang menyakitkan, lecet dan harus menggigit bibir setiap kali menyusui. Namun aku bersyukur, bahwa satu bulan setelah proses itu, aku dapat menyusui bayiku dengan menyenangkan. Wajah bayiku yang tertidur nyenyak dan tawa bahagianya selepas menyusu, menggantikan seluruh rasa sakit, nyeri, kurang tidur, lelah dan segala perjuangan seorang Ibu yang baru pertama kali mempunyai seorang bayi.

Hingga bayiku berumur 7 bulan, aku belum mempunyai pekejaan tetap. Aku memberi les privat bahasa Inggris dan matematika rumah ke rumah, namun hasilnya belum mencukupi untuk biaya bulanan. Aku tinggal di daerah yang masih dekat dengan lingkungan pedesaan, banyak warga masih bercocok tanam singkong, buah-buahan, daun katuk, dll. Aku  teringat satu momen, dimana aku tidak memegang uang sepeser pun. Dengan motorku, aku berjalan-jalan sekitar tempat tinggalku. Dengan wajah berseri-seri, aku memetik daun pepaya dan daun singkong yang tumbuh liar di sekitarku. Aku berjalan-jalan lagi, kutemukan pohon cabe, pohon belimbing. Dengan senyum manis, aku meminta ijin kepada pemiliknya, untuk memetik cabe dan belimbing dan ia mengijinkannya. Sesampainya di rumah, aku menumis daun pepaya dan daun singkong beserta cabe yang kupetik. Dengan nasi yang mengepul panas-panas, kurasakan begitu nikmat makananku saat itu. Belimbing yang kupetik, kuberikan kepada putri manisku yang sedang belajar makan buah. Belimbing manis yang sangat ia sukai.

Bila aku pergi kerja, putriku kutitipkan pada tetangga. Tetangga merasa senang mendapat tambahan penghasilan dan aku pun merasa tenang bekerja karena aku tahu putriku dirawat dengan baik selama aku meninggalkan bekerja. Aku bersyukur mendapatkan tetangga-tetangga yang baik dan penuh perhatian padaku dan putriku. Bila tetanggaku memasak, aku selalu ditawari untuk makan bersama. Kondisiku yang single mother dimaklumi oleh mereka dan tidak pernah mereka bersikap negatif kepadaku.

Saat putriku berumur 9 bulan, ia beruntung  mendapatkan seorang pengasuh yang sangat mencintainya. Ia berpengalaman menjadi baby sitter selama 12 tahun dan telah mendapatkan salary yang lebih dari cukup ketika itu. Aku membayar sesuai kemampuanku dan ia tidak keberatan karena ia dapat mengasuh anakku di rumahnya sembari ia mengurus rumahnya dan suaminya. Ia dan suaminya sudah 2 tahun menikah ketika itu, dan sudah lama merindukan momongan. Karena itu, mereka mencintai putriku sebagai anak sendiri. Aku bersyukur putriku mendapatkan sosok ayah dari suami pengasuhku itu, yang begitu memperhatikan putriku seperti anaknya sendiri.

Putriku sekarang berumur 3,5 tahun. Kehidupanku jauh lebih baik dan lebih mapan, walaupun aku masih tinggal di kos bersama putriku ini. Saat aku bekerja, kutitipkan ia pada teman kosku. Ia begitu bahagia tinggal di kos yang ditinggali oleh orang-orang yang menyayanginya. Satu rumah berisi 12 orang dan semuanya bersikap baik kepada kami. Ada satu pasangan yang belum dikaruniai anak, dan mereka sangat menyayangi dan memperhatikan putriku seperti anak sendiri. Kupikir, Tuhan memang begitu memperhatikan kebutuhan kami, tidak hanya secara material, namun juga secara batiniah. Putriku selalu mendapat pengganti figur ayah dimanapun kami tinggal (kami telah pindah ke-5 kalinya). Dan aku dikelilingi orang-orang baik yang tidak pernah berpandangan negatif terhadap status single mother yang kumiliki.

Jika aku dapat mengulang kembali waktuku dan boleh memilih, aku akan tetap memilih kehidupanku yang sekarang. Aku melihat bahwa ada rencana indah di balik semua yang kelihatan tidak enak dan dipandang orang lain sebagai kehidupan yang tidak sempurna. Aku memiliki keluarga yang begitu menyayangiku, di atas semua kekuranganku. Kehidupanku tercukupi lewat semua keluarga, teman-teman dan setiap orang yang terlibat dalam kehidupanku. Kalau aku boleh memilih, dengan penuh keyakinan, aku akan memilih kehidupanku yang sekarang ini. Ada rencana dan masa depan yang indah menantiku. Dan aku percaya bahwa pasangan hidupku telah disiapkan, yang terbaik untukku dan putriku. Sampai saat yang kunantikan itu datang, aku akan selalu tersenyum dan menemukan sukacita dalam setiap peristiwa yang boleh kulewati. Waktu tidak akan terulang dan aku akan selalu menghargai setiap detik kehidupanku, memaknainya dengan tawa, rasa syukur dan kebahagiaan.

  -Margareth Simardjo, S.Psi -



Unknown

No Comments Yet.