Ibu: Lembut Bukan Berarti Lemah!


Monday, 30 Nov -0001


Saya adalah perempuan yang tidak bisa lemah lembut. Apapun saya kerjakan dengan terburu-buru. Saya menyukai olahraga yang kasar dan berat seperti Beladiri dan Parkour. Saya selalu berbicara dengan terus terang tanpa basa-basi, saya berjalan dengan langkah yang cepat, saya menyukai jenis musik rock dan metalcore dan saya tidak segan-segan membentak orang apabila menurut saya dia terlalu lamban. Sering kali saya diceramahi oleh keluarga saya, terutama ibu saya. Hubungan saya dengan ibu saya seperti love-hate relationship. Kami bertengkar tetapi saling menyayangi. Saya merasa ibu saya memproyeksikan harapan-harapan dan keinginannya waktu muda dulu kepada saya, sedangkan saya ingin menjadi diri saya apa adanya, bukan menjadi ibu saya. Saya rasa saya tidak seorang diri mengalami hubungan pasang-surut dengan ibu, beberapa teman perempuan saya lainnya juga mengalaminya. Tapi bagaimanapun. Kami tetap ibu dan anak perempuan, darah yang mengalir pada diri saya berasal dari rahimnya, saya menyayanginya karena dari kasih sayangnya saya bisa menjadi seperti ini, dan dari ibu saya jugalah saya belajar untuk menjadi lembut tanpa lemah.

Hubungan saya paling sulit dengan ibu ketika saya menolak menggunakan Jilbab. Ibu saya adalah aktivis yang membela hak penggunaan Jilbab di sekolah pada tahun 1980an. Ibu saya sangat aktif berorganisasi dan seorang pemimpin pada masa mudanya, ketika ia menikah dengan ayah saya, dia melepaskan semua mimpi-mimpi besarnya dan memilih kehidupan berkeluarga. Saya adalah anak pertama, anak perempuan. Ibu mengharapkan saya menggunakan jilbab seperti dirinya tetapi saya menolak. Sejak masuk SMA, ibu mengalungkan jilbab di kepala saya dan berharap saya tidak melepaskannya. Saya tidak pernah mau menggunakan jilbab. Segala macam cara digunakan ibu saya agar saya mau memakai jilbab dari yang kasar hingga halus, dan saya menolaknya dengan segala cara pula. Kami bertengkar hebat hingga puncaknya ketika saya masuk kuliah, saya memutuskan untuk berhenti mengikuti perintah ibu menggunakan jilbab dengan keras, saya meninggalkan rumah.

Marah, meninggalkan rumah serta ibu menyisakan lubang besar yang tidak pernah mampu saya tutup dengan apapun. Prestasi ataupun pekerjaan tidak mampu mengobati rindu, bagaimanapun saya sayang ibu. Berkeras seperti ini hanya membuat saya lebih sakit. Baik ibu dan saya, kami tidak mau mengalah dan berkeras diri. Bahkan ayah saya yang menawarkan jadi mediator tidak mampu melembutkan hati kami. Tapi rindu tetap jadi rindu, lubang pada diri saya akan terus menganga jika tidak kembali bercengkrama dengan ibu.

Lembut bukan berarti lemah. Mengalah bukan berarti kalah. Saya memikirkan untuk kembali pulang ke rumah. Saya tetap pada diri saya dan tujuan saya untuk tidak mau menggunakan jilbab. Tetapi saya harus menyampaikan keinginan saya kali ini dengan jelas. Saya tidak mungkin bicara alasan saya yang penuh dengan teori dan segala hal yang saya pelajari tentang jilbab. Saya harus mengerti strategi dan apa yang harus saya lakukan untuk menjadi diri saya tanpa harus menyakiti ibu. saya beranikan diri pulang ke rumah dan bertanya pada saya apa yang menyebabkan ibu segitu kekeuh agar saya menggunakan jilbab yang serasa membakar kepala saya ini. Empat tahun lamanya, saya akhirnya bernegosiasi dengan diri saya dan ibu saya sendiri perihal jilbab. Saya menurut untuk memakai jilbab dan ibu mengajak saya jalan-jalan, berbelaja. Segala hal yang saya selalu rindukan. Hubungan ibu dan anak perempuan yang amat di harapkan. Setelah hubungan kami membaik, saya baru menjelaskan pada ibu, “bu, aku akan pakai jilbab kalau jalan sama ibu, tapi kalau aku kemana-mana acara kampus atau apapun yang tidak melibatkan ibu aku tidak mau pakai jilbab”. Saya ucapkan kata-kata itu ketika mood ibu saya sedang baik. Ketika kami jalan bersama. Dengan lembut, ibu saya menyetujuinya. Kami telah lelah untuk terus keras. Kami harus bernegosiasi. Kami melembutkan tawaran kami dan kami tetap jadi yang kami mau. Pada akhirnya kami tau, lembut dalam berproses, keras dalam mencapai tujuan. Memang butuh waktu yang tidak sebentar, tapi lembut telah mengembalikan hubungan ibu dan anak yang selalu saya rindukan.


Nadyazura



Nadyazura

I'm extra-ordinary girl who doing extra-ordinary thing.

No Comments Yet.