I am not Super Woman yet I MOVE ON


Monday, 30 Nov -0001


Beberapa tahun yang lalu aku menikah dengan seorang pria yang aku cintai dan mencintaiku. Awalnya aku berpikir, momen 20 September 2005 tersebut menjadi gerbang kebahagiaan dan menyempurnakan ibadahku.  Niatku untuk married memang untuk ibadah, jadi aku jalani dengan kata bismillah. Selain itu, dia merupakan sosok yang bisa menjadi imam bagi keluargaku, mapan, nggak ngerokok, nggak bau badan dan he adore me so much.

Namun, setelah kehamilanku memasuki umur 7 bulan, aku seperti terbangun dari mimpi indah. Aku memergoki suamiku berselingkuh dengan kolega bisnisnya. Beberapa percakapan mencurigakan melalui BBM sering aku temukan. Lucunya, setiap pulang bertugas dengan cewek itu, suamiku menjadi sangat perhatian; membawakan hadiah – hadiah. Aku tahu, itu bukan sifat laki – laki yang aku nikahi beberapa tahun yang lalu. Hubungan mereka berakhir karena si cewek meninggal dunia. Tragis memang. Entah aku harus senang atau sedih dengan kejadian yang menimpa cewek itu.

Setelah itu, petualangan suamiku belum selesai. Sekarang, dia berhubungan dengan staf admin di kantornya. Seorang perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak berumur di bawah 1 tahun. Entah cobaan apalagi yang harus aku tanggung. Aku berubah menjadi overprotective dengan menghapus kontak teman – teman wanitanya di BBM. Mungkin karena merasa terlalu di screening, akhirnya suamiku berhubungan dengan perempuan itu melalui yahoo messenger. Petualangannya tidak selesai.

Aku sudah tidak kuat dengan suamiku. Lebih tepatnya aku tidak sanggup terus menerus hidup di dalam hubungan yang tidak lagi sehat. I want to say I deserve better and mean it.  Bagiku, sebuah hubungan seharusnya memiliki setidaknya 2 pondasi, yaitu : komitmen dan kepercayaan. If you don’t have this two points, the you have nothing. Buat apa aku harus bertahan dengan orang yang tidak lagi bisa aku percaya dan tidak memiliki komitmen dalam hubungan ini?

Divorce? Why not?

Aku tidak tahu apa yang aku hadapi di depan nanti. Hanya saja aku lebih baik bertemu dengan orang yang mau berpikir bareng daripada bareng – bareng tapi nggak pernah mikirin aku. Aku bukan perempuan yang mau mengemis cintanya orang.

Is it easy?

Ofcourse not. Tahun pertama merupakan fase denial. Fase terberat karena harus mensupport dan mengobati diri sendiri. Ambil cuti dadakan selama seminggu karena sudah nggak konsen kerja. Nangis -  nangis di kereta sampai ketiduran dan nggak peduli dengan orang – orang di sekitar. Maki – maki mantan dan kalau bicara selalu nyolot dengan dia.

Tidak berapa lama setelah bercerai, mantan memutuskan untuk menikah lagi. Bukan dengan perempuan – perempuan yang selama ini kepergok selingkuh dengannya. Ada satu wanita baru yang  usianya jauh lebih muda dariku.

“Aku masih cinta sama kamu.”

“Sebenarnya aku pengennya hidup sama kamu.”

“Aku berharap kamu hamil, jadi aku bisa membatalkan pernikahanku dengannya.”

Bualan – bualan basi terus dia lontarkan hingga dua minggu sebelum menikah. Bagiku, semua omong kosongnya sudah menjadi sampah. It’s too late and I am done.

Setelah tahap denial, aku memasuki tahap acceptance. Pada dasarnya, aku bukan orang pendendam. Aku hanya butuh proses untuk meredam kemarahan. Kalau sudah kambuh stresnya, biasanya pergi ke masjid seharian, dari Dhuha sampai Ashar. Walaupun sekedar berdoa, tapi hati rasanya tenang. Aku mendapat bantuan dari Tuhan berupa pertemuan dengan orang – orang yang memiliki masalah yang lebih berat dari aku. Pertemuan dengan orang – orang ini memompa semangatku. Aku belajar untuk mensyukuri kondisi sekarang. Kemudian, aku menyadari bahwa semua sudah menjadi kehendak-Nya. Satu hal yang aku pelajari adalah seberat apa pun masalah yang kita hadapi, ikuti saja prosesnya. Kalau memang harus sedih, ya sedih. Kalau harus marah, ya marah. Terus belajar untuk menerima hingga benar – benar ‘sadar untuk menerima’.

Bagaimana dengan anak?

Secara perlahan anak kami akhirnya tahu bahwa orangtuanya sudah berpisah. Namun karena dia tahu setelah aku bisa kuat dan tidak menunjukkan sikap sedih atau galau berlarut – larut, maka anak pun bisa enjoy. Aku tidak pernah mengajarkan anakku untuk membenci ayahnya. Anakku sempat menyalahkanku karena meminta berpisah dari ayahnya. Aku tahu, dia sebenarnya hanya membutuhkan validasi jawaban saja. Jadi aku menjawab : “Abi genit.”

Aku percaya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Rumah tanggaku mungkin sudah kandas, namun tidak berlaku bagi karirku. Akhirnya, aku mendapat kesempatan untuk ke Ghana dalam rangka tugas dinas. Satu pengalaman yang belum tentu bisa aku dapatkan jika aku masih menjadi istri orang. Kesadaran bahwa sekarang aku single fighter ternyata sanggup membentukku menjadi hard worker. Aku bisa mencapai titik dalam karir yang tidak pernah aku sangka sebelumnya.

Setelah semua yang aku lewati, saat ini fokusku hanya untuk anak semata wayangku. Mendampingi dia untuk terus bertumbuh. Menikah lagi? Aku harus memikirkannya lebih dalam. Selain karena aku bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta, aku juga memiliki pandangan jauh ke depan. Perempuan memang berbeda dengan pria. Bagi pria sex itu adalah kebutuhan, jadi aku tidak heran jika pada akhirnya mantan suamiku lebih cepat menikah. Menikah lagi bukan tujuan utamaku. Aku hanya menganggapnya sebagai bonus.

Pada akhirnya, aku terus bertumbuh dan berproses. Aku sudah move on. Bahkan, aku bisa menjaga hubungan baik dengan mantan suamiku. Aku ingin tetap menghadirkan gambaran keluarga utuh bagi anakku. Aku dan mantan suami bahkan bisa berteman dan saling bertukar pendapat, termasuk tentang pasangan baru kami. Aku bersyukur dengan semua proses yang telah dilewati. Berat pada awalnya, namun bahagia pada akhirnya. Manusia hanya bisa melihat sebatas dari apa yang bisa dilihat. So, serahkan semua masalah hanya pada Tuhan yang sanggup mengubah keadaan, seburuk apapun itu.

 

On behalf of Meita Laksmiati



Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.