Hati yang mau Dibentuk


Monday, 30 Nov -0001


Saya mempunyai background pendidikan Accounting, tetapi passion saya dalam bekerja itu berinteraksi dengan orang, jadi motivator, manage people, touch people.  Saya sudah bekerja kurang lebih selama 20-30 tahun, karena waktu kuliah sambil kerja juga.

Tema bulan ini adalah kelemahlembutan, jika mengaitkan pekerjaan kita dengan arti kelemahlembutan maka menurut saya kelemahlembutan itu sangat penting dalam kita berinteraksi dengan orang lain. Orang yang lembut itu, berarti mereka yang mempunyai hati mau diajar, dibentuk, dibilangin, dan ga keras. Orang lembut itu bisa menyesuaikan diri di tempat manapun, hatinya tidak gampang terluka. Orang yang lembut pun dapat marah dan menegur kalau memang ada kesalahan, lembut tapi tegas. Kalau sikap lembut, tutur kata lembut, yah semua orang bisa disuruh lembut, belagak manis, tapi akhirnya hanya jadi munafik. Teori memang gampang, kenyataannya jauh lebih sulit. Proses ini saya belajar, supaya menjadi pribadi yang selalu mempunyai respon positif dengan masalah yang ada. Orang kan biasa marah karena mempunyai respon yang negatif.

Saya pernah ditekan oleh atasan dan bawahan. Untuk menghadapi itu saya ga pakai kekuatan saya, kalau pakai kekuatan manusia ga bisa, saya pasti bisa marah-marah dan emosi, kalau sudah emosi  pasti ga ingat Tuhan. Bukannya mau sok rohani atau munafik, tapi memang setiap pagi saya berdoa sebelum beraktifitas dan berinteraksi dengan orang lain, supaya diberi kelemahlembutan dan rendah hati, kepekaan dan punya ruang  seluas samudra di hati ini untuk memaafkan

.Okt_Professional_HatiYangMauDibentuk_text1

 Dulu saya adalah tipe perfectionist, semua harus rapi dan sesuai, saya tidak mau sembarangan memberi pekerjaan ke orang lain, karena ga percaya, saya pasti berpikir pasti kerjaannya ga beres. Di mata saya selalu ada aja yang kurang dan jadi tukang kritik. Dengan berjalannya waktu, saya belajar untuk percaya sama orang. Kalau saya tidak memberi kesempatan ke orang itu, bagaimana kita tahu kemampuan dia. Prinsip saya waktu itu, seorang pemimpin yang baik adalah ketika dia melahirkan pemimpin yang lebih bagus dari dirinya. Jadi saya harus belajar mempercayakan kepada orang lain dengan saya bimbing dan latih dia. Kalau dia melakukan kesalahan, saya pun tetap harus tegur, tapi saya belajar untuk menegur tidak di depan orang lain. Kalau kita mau dihargai maka belajarlah menghargai orang lain juga. Jadi ketika ada kesalahan saya panggil orang itu, duduk berdua, hal yang pertama saya lakukan adalah tidak langsung menyalahkan dengan tuduhan “Kamu tahu ga salah kamu apa!?” Tapi saya mulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “ada kendala apa selama ini?”, “merasa berat tidak dengan kerjaan sekarang?”, “sudah melakukan dengan maksimal belum?” sampai akhirnya saya tanya “kamu merasa pernah membuat kesalahan ga ?” Saya tidak mau langsung menyalahkan dia tapi saya mau dia menemukan kesalahannya sendiri. Saat dia sudah ingat kesalahannya, saya tanyakan “menurut kamu kesalahan yang kamu buat itu, merugikan orang lain  ga?” sekarang bagaimana dia harus berkomitmen untuk memperbaiki kesalahannya. Tapi kalau ternyata dia lakukan lagi dan berulang kali, maka sayapun harus tegas, sesuai dengan regulasi maka Surat Peringatan (SP) pun harus diberikan. Lembut tapi tegas.

Sama juga saat kita berhadapan dengan atasan. Atasan itukan punya otoritas di atas kita tapi manusia juga, kadang ada hal-hal yang tidak berkenan dia lakukan terhadap kita. Bagaimana saya menghadapinya? Sayapun harus memberanikan diri berbicara, tapi harus lihat waktu yang tepat. Saya berdoa dan minta ke Tuhan waktu yang tepat. Waktu yang tepat itu, kita sudah siap secara mental, tidak ada rasa takut dan tertuduh. Jadi saat berhadapan tidak dengan emosi tapi dengan hati yang tenang, kalau kita emosi malah jadi konflik. Ada damai sejahtera ketika bicara dan tidak gelisah karena takut bosnya marah. Jika Tuhan memang yang memberikan waktu yang tepat maka setiap pembicaraan kita tidak akan menyinggung perasaan orang itu.

Saat kita ditempatkan di perusahaan tertentu, berarti ada rencana Tuhan untuk kita. Waktu saya bekerja di salah satu perusahaan IT, saya dipandang sebelah mata karena saya perempuan. Saya ditekan oleh bapak-bapak yang merasa lebih senior di sana. Saya ga didengar oleh bawahan, selalu disalahin, saya ga tahan banget waktu itu. Kalau saya ga kuat, saya bisa saja keluar, tapi apakah itu solusi yang terbaik?? Bukan, kalau saya pindah ke kerjaan yang lain pasti saya akan menghadapi hal yang sama sampai saya bisa menang melewati situasi itu. Saya bertahan, saya berdoa, sampai 5 tahun saya di sana...akhirnya saya menang. Mereka menunjukkan respect nya kepada saya. Saya keluar dari perusahaan itu bukan karena lari tapi karena selesai, saya keluar karena mau urus anak. Jadi kalau ada gesekan kita lari, kita akan mengalami hal yang sama sampai kita bisa menang melalui ujian tersebut.

Okt_Professional_HatiYangMauDibentuk_text2

Atasan, bawahan, rekan kerja...selalu mengandalkan Tuhan dalam bersikap dan berkata. Saya harus siap untuk dikoreksi, karena kalau kita berkaca kan sudah kelihatan bagus menurut mata kita, tapi yang merasakan orang lain. Apa kita jadi duri untuk orang lain atau jadi terang. Gesekan itu muncul dari orang yang dekat, bukan yang jauh. Jadi diri sendiri dengan bisa menerima orang lain dan orang lain bisa menerima kita. Doakan setiap orang yang berinteraksi dengan kita di kantor dan belajar mengampuni kesalahan. Gesekan pasti ada di mana saja, tergantung hati kita yang harus punya motivasi yang benar, ga aneh-aneh karena dampaknya pasti bagus.

Proses kehidupan membuat kita belajar dan intropeksi. Kita harus percaya dan yakini, setiap rancangan Tuhan itu pasti rancangan yang indah, karena saat kita sudah enjoy dengan kerjaan, kita bisa kerja dengan maksimal dan kerja dengan tulus.

Kita harus jadi history maker.



Unknown

No Comments Yet.