Harmony Life


Monday, 30 Nov -0001


Berbicara tentang tema urban women bulan ini mengingatkan saya dengan mata kuliah ekologi manusiaSelf respect vs culture. Apakah budaya telah membatasi seorang perempuan untuk mengembangkan dirinya? Akan banyak teori dari para pakar untuk menjelaskan ini.Tergantung  dari perspektif mana kita melihat. Tapi untuk saya pribadi, saya memilih sharing bagaimana “budaya” membentuk saya menjadi seorang pribadi seperti sekarang.
 

Saya bukan seorang feminis namun saya mendukung bahwa perempuan harus diberi kesempatan untuk berkarya. Untuk menunjukan eksistensinya sebagai seorang manusia yang memiliki harkat dan martabat. Yaaa..., Selama tidak mengingkari bahwa kita perempuan yang ditakdirkan untuk mendampingi  pria dan menjadi ibu bagi anak – anaknya.
 

Cara berpikir saya yang sekarang tentu lah terlahir dari “budaya” dalam kurun waktu selama saya hidup. Saya lahir di sebuah desa di Kalimantan Selatan bernama Pagat. Desa kecil yang mayoritas penduduknya beragama islam. Saya dibesarkan dalam keluarga yang religious dan cukup kolot. Sejak SD saya diharuskan untuk belajar tentang agama dan ketika memasuki usia remaja saya sudah diwajibkan menggunakan jilbab. Yeah, pada saat itu saya merasa dikekang. Tapi saya bersyukur orang tua masih memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dari hal – hal umum lainnya. Mereka mengijinkan saya berlangganan majalah anak – anak (inisial B) yang sangat hits di zaman itu. Yeah, saya belajar banyak tentang dunia luar dari situ.  Sisanya masa kecil menuju remaja saya seperti halnya anak desa yang lain mandi di sungai, bermain kelereng dan lain – lain. Great childhood moment.
 

Memasuki usia remaja, ada sedikit perubahan. Budaya MTV, Geng seleb  sekolah, kumpulan atlet basket yang bikin screaming, ketua OSIS Charming, popularitas is number one dan saya the nerd yang berkutat dengan buku – buku Quantum learnig bobby dePorter, Harry Potter – JK. Rowling, ataupun biografi Newton, Einstein, Mozart, Da Vinci, Van Gogh dan novel – novel Agatha Christie.  Saya merasa asing dalam budaya Pop di lingkungan saya. Semacam minoritas di dalam minoritas. Walaupun kadang pada saat itu saya berharap mendadak menjadi Laney Boggs ala She’s all that. Okey Forget it.
 

Ada yang bilang hidup dimulai di usia 40. But, not for me. Bagi saya hidup dimulai di usia 20. Yup. Menjadi mahasiswa dan pemuja karakter Carrie Bredshaw. Budaya perguruan tinggi yang idealis sangat mempengaruhi saya. Dan harus saya akui sampai sekarang masih ada pemikiran – pemikiran dosen yang masih saya pegang. Sebagian lagi sudah di asimilasi dengan pengetahuan yang baru.  Oh ya pada seasonini pula saya bertemu dengan seseorang yang membuat saya tahu istilah “feel butterfly in my stomach”, I met him, someone who made me fallen in love, at the first time.
 

Setelahnya adalah apa yang pernah saya ceritakan di urban women sebelumnya tentang saya melewati kehidupan zombie sekian lamanya ketika adik saya meninggal dan tidak lama setelah itu saya pun putus dengan tunangan saya. Menghadapi budaya nikah muda dan menelan pahit setiap cemoohan yang menganggap saya focus dengan passion adalah sebuah pelarian karena belum memiliki pasangan.
 

Yaaa... pada posisi ini saya menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh budaya yang tidak mendukung. Pada masa ini locus of control saya sangat menetukan, apakah hidup saya ditentukan oleh pandangan orang lain ataukah memang keinginan saya untuk terus melangkah. Hard situationSeperti ikan salmon yang melawan arus.  
 

 

Tapi apakah saya harus menyalahkan kebudayaan yang terbentuk? Saya rasa tidak. Saya memilih berjalan beriringan dengan “budaya”, beriringan meski saya tidak ikut terlibat di dalamnya. Ya saya masih beruntung karena budaya di Indonesia masih humanis dibandingkan dengan budaya Negara – Negara lain, bahkan ketika melanggar hukumannya bisa kehilangan nyawa. Feel blessed.



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.