Glenn Fredly 20 : Saat anak _ anakku menjelma karya sastra


Monday, 30 Nov -0001


 

Menandai perjalanan karyanya selama dua dekade, Glenn Fredly menampilkan sesuatu yang berbeda. Hal yang tidak terpikirkan sebelumnya bagi para penggemarnya. Alih – alih menggandeng sesama musisi, Glenn Fredly justru menggandeng 12 penulis Indonesia. Para penulis menyelami lagu – lagu dari Glenn Fredly kemudian menginterpretasikannya ke dalam bentuk cerita pendek (cerpen).

Buku setebal 224 halaman yang resmi launching pada tanggal 7 Juni 2015 lalu, dibuka dengan cerpen Akhir Cerita Cinta oleh Bernard Batubara. Lagu Glenn Fredly dengan judul yang sama “Akhir Cerita Cinta” menjadi semakin sendu ketika dituangkan dalam sebuah cerita oleh penulis terpilih Ubud Writers and Readers Festival 2013 ini.


“Dan, sialnya, semesta juga memberi kesempatan lebar – lebar bagi orang yang ingin terluka.”

Bernard Batubara mengambil tema klise tentang seorang laki – laki yang kehilangan perempuan yang dicintainya. Sesuai dengan ciri khas tulisannya yang formal, serius, dan tenang, Bernard Batubara mampu mengembangkan tema tersebut menjadi alur yang tidak tertebak.


“Kamu pikir satu ditambah satu sudah pasti dua? Kalau ternyata orang jaman dulu sepakatnya sati ditambah satu sama dengan tiga gimana?”


Adimas Immanuel, penulis buku antologi puisi di tahun 2012 dan 2013 menginterpretasikan lagu “Nyali Terakhir” dari album Glenn Fredly Lovevolution yang dirilis tahun 2010. Mengisahkan tentang Janu, seorang laki – laki yang memendam perasaannya kepada Helga, sahabat karibnya. Mengambil beberapa filosofi matematika dalam ceritanya, Adimas Immanuel sukses memberikan joke segar.


“Di mataku, semua benda hanya berwarna kuning, biru, ungu, abu – abu, hitam, atau putih.”


Penulis buku The Journeys, Alexander Thian, tampil berbeda dari penulis lainnya. Meski mengambil tema yang klise, uniknya, Alexander Thian mengangkat tokoh utama seekor anjing. Mendeskripsikan keseharian si anjing seperti manusia yang menunggu balasan cinta seorang perempuan.


“Padahal, salah dan benar yang kita perdebatkan adalah kenyataan yang tak pasti.”


Buku kumpulan cerpen ini ditutup oleh cerita dengan judul “Di sisa hati Renjana” karya penulis ternama, Moammar Emka. Gaya bahasa dan diksi yang tepat membuat pembaca bisa benar – benar menikmati alur cerita. Tidak terburu – buru.

Selain menampilkan hal yang baru, buku kumpulan cerpen ini pun seolah meminta kita untuk mengingat lagu – lagu dari Glenn Fredly. Beberapa di antaranya memang tidak menjadi hits. Namun bukan berarti lagu yang tidak layak untuk didengar. Pembaca yang kurang tahu tentang lagu – lagu Glenn Fredly pun akhirnya tergelitik untuk mencari.

Mungkin, di satu sisi, ini hanya menjadi sebuah cerita pendek. Namun, di sisi yang lain, semua ini lahir dari sebuah perjalanan panjang karena setiap tulisan mempunyai ruang dan waktu serta artikulasi personal masing – masing yang sewaktu – waktu bisa menjadi rumah rindu bagi setiap insan yang masih percaya pada getir dan manisnya Cinta (Glenn Fredly)

Dua puluh tahun adalah waktu yang singkat untuk menjadi legenda, namun dua puluh tahun adalah loyalitas Glenn Fredly untuk berproses menjadi “legenda”. Buku Glenn Fredly 20 merupakan jawaban dari sabda rindu para penggemarnya. Well, Urbanesse, siap mengenal karya terbaru Glenn Fredly bersama 12 penulis Indonesia?

 


Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.