From Zero to Hero


Monday, 30 Nov -0001


Beberapa waktu lalu, saya dinner dengan seorang teman, sebut saja namanya Sabrina. Kisahnya dimulai semenjak Sabrina yang sempat mengenyam pendidikan di Singapore kembali ke tanah air dan mendapat  tawaran untuk bekerja di perusahaan saudaranya di Jakarta. Di tahun 1997, sebagai lulusan luar negeri,  Sabrina menerima gaji bulanan hanya sekitar sepertiga dari gaji yang diterima oleh temannya yang sesama lulusan luar. Selama sebulan pertama, Sabrina hampir menangis setiap hari. Sabrina melakukan itu karena memilih untuk taat dan menyenangkan orang tua. Secara hati, Sabrina tidak berkenan, karena kesetiaan, kesabaran, dan ketaatan, Sabrina bisa bertahan selama 5 tahun dan menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Kemudian ia mulai mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan yang baru. Sabrina akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan saudaranya itu kemudian mencoba usaha sendiri, supply stationary ke kantor–kantor, hingga akhirnya Sabrina mendapat tawaran untuk bekerja di perusahaan trading Korea, usahanya diteruskan oleh adiknya yang baru mulai kuliah.

Sabrina kemudian memutuskan untuk  bekerja dengan perusahaan trading Korea, berawal dari Sekretaris hingga menjadi Marketing and Commercial Manager. Ia dipercayakan untuk set-up business line baru, yaitu salon untuk memasarkan produk-produk kecantikan dari Korea.  Sabrina bertanggungjawab penuh dalam setting up management salon serta menyusun strategi marketingnya. Semua Sabrina siapkan, mulai dari survey lokasi, cari peralatan untuk kecantikan dan salon, melakukan pekerjaan lebih dari yang seharusnya dilakukan, do the extra miles, tanpa uang lembur. Semua dilakukannya tanpa mengeluh dan suka cita dengan tantangan yang baru. Learning by doing and stay rejoice.

Bagi Sabrina, kalau kerja, ya yang benar. Ada tidak ada yang mengawasi, tetap memberikan yang terbaik. Set-up salon selesai, bisnis pun mulai beroperasi. Salon ini sangat menjunjung service excellent sehingga selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelangganya. Suatu hari, ada seorang pelanggan yang minta tolong dibelikan kue yang agak sulit ditemukan. Setelah mengetahui permintaan si pelanggan, Sabrina meminta salah satu timnya untuk membelikan kue tersebut. Entah kenapa, bapak yang dimintai tolong tersebut menanggapi permintaan Sabrina dengan suara kencang, hingga seluruh salon bisa mendengar dengan sangat jelas. Sebagai seorang atasan, Sabrina bisa saja membentak atau membalas dengan suara kencang, karena sudah dipermalukan, tapi Sabrina memilih untuk menguasai dirinya supaya tidak terbawa suasana. Sabrina mengajak bapak tersebut ke ruangan kantornya, dan berbicara mulai mengajak bicara dengan lembut, menanyakan kenapa tadi bersikap seperti itu, tanpa membalas sedikit pun, bapak itu keluar dan melakukan tugasnya. Keesokan harinya, bapak tersebut malah menghampiri Sabrina dan minta maaf karena sudah bersikap seperti itu sebelumnya.

Setelah bekerja hampir 2 tahun di perusahaan ini, Sabrina, memutuskan untuk mencari tantangan lain. Sabrina pindah ke perusahaan pertambangan milik India, sebagai orang kepercayaan si pemilik. Salah satu hal yang dilakukan Sabrina adalah melakukan investigasi setiap kali si pemilik akan mengadakan perjanjian kerja sama dengan perusahaan lain. Hingga suatu waktu, si pemilik akan melakukan perjalanan dinas untuk sebuah perjanjian kerja sama dengan perusahaan lain. Sebelum berangkat, Sabrina menemukan sesuatu yang tidak beres dari si calon partner, sehingga Sabrina meminta atasannya untuk mengurungkan niatnya menemui calon partner tersebut. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata benar, calon partner tersebut memang bermasalah dan sedang dicari-cari polisi. Beruntung ya, Sabrina orang yang teliti dengan daya analisa yang sangat baik, sehingga perusahaan tidak jadi ditipu.

Setelah bekerja hampir 2,5 tahun di perusahaan ini, Sabrina kembali mendapatkan tawaran untuk bekerja di perusahaan lain. Kali ini, perusahaan internasional yang reputasinya sudah tidak diragukan lagi dan sangat ahli bidangnya. Gaji dan fasilitas yang diterima jauh lebih besar dari sebelumnya! Tapi setelah mulai bekerja, tugas yang diterima tidak sesuai dengan harapan. Setiap hari, yang dilakukan adalah duduk di meja receptionist (front desk) perusahaan, membukakan pintu untuk tamu, menerima tamu, menerima telpon dan menyambungkan ke orang yang dituju, bahkan input data sesuai permintaan dari bagian keuangan. Bagi Sabrina, ini di bawah harapannya, walaupun gaji yang diterima 2x lipat dari sebelumnya. Namun, Sabrina yakin bahwa ia memang ditempatkan bekerja di perusahaan ini, beberapa kali hatinya terganggu dengan kondisi yang ada, tetapi selalu teringat untuk tetap humble, bersyukur, dan tetap memberikan yang terbaik. Singkat cerita, 2 minggu kemudian, Sabrina berada satu ruangan dengan bagian keuangan. Setelah itu, sekitar  2-3 minggu kemudian  Sabrina mendapatkan ruangannya sendiri! Ngga disangka-sangka yah, kesabaran yang membuahkan hasil. Sabrina masih tetap memberikan yang terbaik, walaupun ia menyadari bahwa tidak sedikit orang-orang di perusahaan tersebut yang tidak menyukainya. Mengapa? Salah satunya adalah karena, tidak lama setelah Sabrina memulai karirnya di perusahaan ini, Sabrina dipercaya oleh atasannya yang di Asia Pacific untuk naik jabatan. Sementara karyawan lain yang setara dengannya dan sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 8 tahunan, tidak mengalami kenaikkan jabatan dan gaji. Sikap Sabrina menghadapi hal seperti ini? Tetap taat, melakukan yang benar dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan tersebut, walaupun tidak ada manusia yang mengawasi, berintegritas. Pernah juga, salah satu rekan kerjanya mencoba mengajak Sabrina bertindak “nakal” tentang keuangan perusahaan, Sabrina menolaknya secara terus terang dengan berkata, ”Bagi saya kejujuran dan integritas itu sangat penting, jadi kalau mau melakukan hal-hal yang tidak benar, jangan sampai saya tahu.” Ya, bagi Sabrina kejujuran itu penting sekali. Seorang pemimpin yang baik, perlu memiliki integritas, berkata “Ya” ketika ya dan berkata “Tidak” ketika tidak. Be simple and being honest with yourself, know when to say “Yesand when to say “No”.   Setelah berkarya selama 4 tahunan lebih diperusahaan multinasional  ini, Sabrina kembali dipercayakan untuk membawahi  marketing, human resources, admin dan keuangan. Memilih menerima tantangan dan tawaran baru untuk pindah ke perusahaan yang memayungi perusahaan sebelumnya, tentu skala perusahaan yang ditangani lebih besar disertai tantangan set up perusahaan baru di Indonesia,  dengan posisi terakhir sebagai Business Development Director.

Sabrina bekerja di perusahaan ini hampir 1,5 tahun, lalu memutuskan untuk keluar dan mengikuti passion-nya, memiliki usaha sendiri sesuai dengan keahlian yang dimiliki hampir dari sejak awal ia mulai bekerja. Dalam waktu cukup singkat perusahaan yang dirintis ini sanggup menanggani project- project  dalam cakupan South East Asia dengan kepercayaan yang diberikan oleh client-client dari dalam dan luar negeri termasuk beberapa  perusahaan berskala besar di dunia.

Dari kecil, Sabrina ingin sekali menjadi seorang business woman sukses, tanpa tau bisnis apa yang nanti akan dimiliki. Semua ini bisa terjadi karena Anugerah dan karakter yang diberikan melalui  didikan orang tua dan sikap yang mau belajar, membuat Sabrina belajar untuk bersabar, lemah lembut, memiliki integritas, teliti, mampu menganalisa dengan baik, rendah hati dan mampu menguasai diri. Akhirnya Sabrina bisa memiliki usahanya sendiri. Saya bertanya, apakah dulu waktu mulai bekerja, punya bayangan akan seperti ini. Jawab Sabrina, “Boro-boro Grace, ga kepikiran sama sekali, yang gue pikirin itu cuma gimana caranya bisa kasih yang terbaik buat perusahaan dan jujur.  Ternyata, hasilnya bisa seperti ini.”

Intinya menurut Sabrina, do the best, we are blessed and be a blessing to nations. Dare to be different, go the extra mile! Work and serve with heart and stay rejoice! Enjoy the life.



Unknown

No Comments Yet.