Finding the Joy in You


Monday, 30 Nov -0001


Saya wanita berumur 22 tahun. Di usia yang masih belia ini, kalau kata orang adalah masa-masa di mana biasanya pencarian jati diri seseorang yang sesungguhnya. Hal yang sama juga saya alami, cerita ini berawal dari saat-saat terakhir sebelum saya lulus dari bangku sekolah tingkat akhir alias SMA. Waktu itu kawan-kawan mulai mempertanyakan beberapa hal yang selama ini tidak pernah kami bicarakan sebelumnya, yaitu: Kalau kita udah besar kita mau jadi apa? Kamu mau kuliah atau kerja? Kuliah di jurusan apa? Sepulang dari sekolah, saya mulai mendiskusikan rencana untuk melanjutkan studi di bidang ekonomi. Pada saat itu alasan saya hanya satu memilih jurusan ekonomi, yaitu nilai pelajaran akuntansi yang cukup memadai, bahkan saya juga sempat terpilih untuk mewakili sekolah dalam perlombaan akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Namun saya tidak begitu yakin saya cukup menyukai angka-angka, sedangkan dalam perekonomian jelas membutuhkan ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi pada angka-angka. Pada intinya, saya cukup bingung dan memang tidak yakin. Orang tua saya menanggapi kebingungan saya ini dengan bijak, mereka tidak memaksakan jurusan apapun, mereka meminta saya dan adik saya untuk melakukan tes minat dan bakat terlebih dahulu. Umur adik saya hanya selisih satu tahun lebih muda dari saya, jadi dalam jangka dekat dia juga akan masuk perguruan tinggi setelah saya. Kebetulan kami mempunyai kenalan dekat dengan seorang psikolog, jadi pengambilan test dapat dilaksanakan dengan mudah. Ternyata hasil test menyatakan potensi maksimal saya direkomendasikan kepada tiga pilihan jurusan diantaranya hukum, psikologi, atau sastra. Orang tua saya mengijinkan saya memilih di antara ketiga jurusan tersebut, dan saya pun memilih hukum karena di antara ketiga hal tersebut menurut saya, jurusan hukum lah yang paling sesuai dengan kepribadian saya. Setelah menyatakan keputusan ini kepada kedua orang tua saya, tidak disangka-sangka, mereka menkonfirmasi pilihan saya dengan menceritakan sebuah percakapan sewaktu saya masih berumur kurang lebih 11 tahun, kira-kira begini ceritanya:

Mama:   Kamu udah cukup waktu mainnya Vin, tidak ada alasan apapun.

Vivin:     Ma, Vivin pernah belajar kalau manusia punya 3 hak, yang pertama adalah hak untuk hidup, kedua adalah hak untuk memiliki, dan yang terakhir adalah hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Jadi kalau mama engga kasih kesempatan untuk Vivin memberikan alasan, Mama udah mengambil hak Vivin.

Mama:   ...... (sedikit kaget) Baiklah. Jadi apa alasan kamu?

Vivin:     Ini kan hari libur jadi Vivin boleh main donk, Vivin udah selesaikan semua tugas dan PR yang diberikan sekolah.

Mama:   ..... Baiklah ada tanggung jawab lain lagi selain itu, jangan lupa makan dan mandi karena Mama harus pergi kerja.

Vivin:     Okeeee Ma.

 

Jujur saya sendiri juga sudah lupa dengan percakapan ini saat diceritakan. Memang percakapan di atas bukanlah hal yang luar biasa, hanya percakapan biasa sehari-hari dari seorang ibu dan anaknya. Tetapi hal tersebut memberikan tanda bagi orang tua saya untuk melepaskan saya untuk melakukan studi di bidang hukum. Karena saya tidak memiliki latar belakang keluarga yang terjun di bidang profesional, memilih serius di bidang hukum, dengan modal tes minat dan bakat merupakan tantangan yang besar buat saya. Sedangkan buat saya pribadi, percakapan itu membuat saya jadi semakin yakin dalam memutuskan serius di bidang hukum. Dalam pilihan tersebut, saya juga banyak menemukan kesulitan dan rintangan yang tidak mudah. Dimulai dari beradaptasi dengan lingkungan sekitar sampai kesulitan membayar uang kuliah, sudah pernah saya alami. Kira-kira waktu itu awal masuk semester 6, perekonomian orang tua saya sempat tidak stabil, sehingga saat itu saya terancam berhenti kuliah. Papa saya cukup stress dan berkali-kali berkata bahwa saya akan berhenti kuliah. Tetapi saya tidak mau putus harapan, saya mencoba tetap open minded dan optimis.

Saya bekerja part time menjadi home tutor anak-anak sekolah dasar, untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Setiap hari Senin sampai Jumat, sepulang kuliah, sekitar jam 5 sore sampai jam 9 malam, saya mengajar 3 anak. Di hari Sabtu, saya juga mengajar menggambar untuk anak Taman Kanak-kanak. Rasa letih dan capek pun saya alami, tetapi saya sadar mengeluh tidak akan membuat tubuh saya pulih dan bugar. Saya belajar dari pepatah yang berkata ketika Anda dapat menemukan joy dalam masa-masa tersulit, maka Anda menang! Saya menemukan joy dengan cara menikmati waktu-waktu saat bersama dengan anak-anak. Mereka begitu lucu dan polos, menghabiskan waktu bersama dengan mereka membuat saya belajar memiliki hati yang selalu sukacita. Satu demi satu masalahpun dapat diatasi, tidak terasa akhirnya saya lulus dengan nilai yang memuaskan dalam masa studi yang relatif singkat, 3 ½ tahun.

Pada masa-masa akhir perkuliahan, di mana ada mata kuliah magang yang pada saat itu di perguruan tinggi saya memang notabene-nya adalah masa percobaan. Waktu itu saya sharing tentang hal ini dengan salah satu teman, yang ternyata dia juga mengenal baik seorang praktisi hukum. Dengan bantuannya pun, saya dapat magang di kantor hukum. Atasan saya adalah seorang pementor yang baik. Disini saya belajar banyak dari atasan saya, bukan hanya secara formil seputar bidang hukum, tetapi juga hal-hal non-formil seperti bagaimana berpakaian rapih, berbicara dengan tata krama dan bersikap dengan sopan santun, mengingat profesi advokat (pengacara) dianggap profesi yang dihormati dan disegani di Negeri ini. Sempat terlintas di pikiran saya, seandainya pada saat itu saya menyerah dan berhenti kuliah, mungkin saya tidak akan berada di sini, di mana pada akhirnya saya dapat menemukan visi hidup saya ke depannya untuk dapat memberikan kontribusi terbaik dalam memajukan bidang hukum di Indonesia. Semoga dengan sharing pengalaman hidup saya, saya dapat membagikan semangat optimis kepada Urbanesse. Selalu temukan sukacita di masa-masa sulit dalam hidup ini karena di balik semua kesulitan tersebut ada alasan yang kita tidak pernah ketahui sekarang, tetapi indah dan manis pada waktunya nanti :).



Unknown

No Comments Yet.