Finding Mr. Right


Monday, 30 Nov -0001


Sejak dulu beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir
– Panglima Tiang Feng

 

Hallo Urbanesse, apa kabar di bulan Mei ini? Gak berasa  sudah memasuki bulan ke-5 di tahun 2016. Bagaimana dengan resolusi relationshipnya? Semoga semakin bersinar ya, aamiin. Ladies, artikel kali ini saya awali dengan mengutip kata – kata bijak dari Panglima Tiang Feng, lebih populer dengan nama Cut Pat Kai. Iyup, salah satu tokoh legenda dalam cerita Journey to the West (Kera Sakti) yang sangat terkenal dengan filosofi cintanya. Memang sih agak lebay dan terdengar desperate. Tapi saya pikir ada benarnya. Realita, banyak orang yang memilih mengakhiri hidup hanya karena patah hati.
 

Kembali ke topik, seberapa pentingkah laki – laki di mata perempuan? Pendapat saya pribadi, yes sangat penting. Kenapa? Karena saya bukan amoeba yang berkembang biak dengan cara membelah diri. Oke, bagaimana pun Tuhan sudah menetapkan hukum alam bahwa manusia diciptakan berpasangan – pasangan, laki – laki dan perempuan, Adam dan Hawa.  Bahkan seorang Paul Dirac, scientist dari Inggris pada abad ke – 19 sudah membuktikan. Teori ini disebut Parite, yang menjelaskan bahwa setiap yang ada di alam semesta ini bahkan partikel yang paling kecil sekalipun memiliki pasangan. Jadi  ladies banyak alasan laki – laki adalah makhluk penting di mata perempuan, percayalah bahkan seorang miss independent pun butuh seorang gentle man untuk membawakan tasnya.
 

Lalu, seperti apakah profil pria calon PhD tersebut, PhD, Perfect husband and Daddy. Kalau saya sih berharap ada sesosok pria yang merupakan perpaduan antara Bapak Marty Natalegawa, Nicholas Saputra dan Raditya Dika. But, I realize, tidak ada yang seperti itu. Too perfect. Karena mencari pasangan yang tepat bukan berkaitan dengan betapa sempurnanya dia. Tapi tentang standar. System value yang sama. Nilai – nilai yang menjadi prinsip kita mirip dengan sistem nilai pasangan. Walaupun ada perbedaan, tidak terlalu mencolok dan masih bisa dikompromikan. Konsep di atas kertas demikian, tapi fakta di lapangan, ada yang terjadi sebaliknya. How it can happen?
 

Ini mungkin terdengar klise, saya percaya kita semua perempuan yang mencari pasangan terbaik sebagai pendamping hidup. Kita memliki standar Mr. Right masing – masing. Tapi mengapa kita terjebak dalam hubungan tanpa masa depan? Banyak faktor. Bisa jadi, memang wrong person, wrong chemistry atau malah right man in the wrong time. Intinya memang belum ditakdirkan Tuhan untuk bersama. Terkadang Kita harus bertemu dengan “orang yang salah” agar kita belajar dari pengalaman tersebut. Saya beri tanda kutip karena orang yang salah bukan berarti dia jahat, tapi mungkin dia memang bukan orang yang tepat buat kita. Tapi bisa jadi dia orang yang tepat untuk wanita lain, Ouch! It’s okay, you Worth ladies, God know the best for you. Trust God.


Inilah sebabnya kita masih waras untuk memperjuangkan yang terbaik. And whatever happen ladies, ketika kita menemukan orang yang membuat jatuh cinta, please jangan turunkan yang sudah menjadi system value kita, sekali lagi, kompromi boleh, selama itu masih dalam batas wajar, tidak ada unsur – unsur yang merugikan. Hanya saja terkadang, love is blind dan cinta memiliki logikanya sendiri. Lalu kita menutup mata dengan hal – hal yang sebenarnya kita tahu itu tidak sesuai. Tapi atas nama cinta, kita mengabaikannya, memaafkannya atau menganggap bahwa “okey tidak apa – apa”, sampai akhirnya kita sendiri yang tersakiti. So please ladies, apabila kita merasa ada yang tidak beres, stop dan berpikir ulang tentang hubungan yang dijalankan. Bisa jadi itu semacam warning. Intuisi. Sebelum semuanya terlanjur terjadi, yang dapat merugikan kita baik secara fisik maupun psikis.
 

Terlatih patah hati, seharusnya membuat kita menjadi kuat, bukan mengulang kesalahan yang sama. Apabila kita masih saja mengalami hubungan yang bermasalah atau tipe orang yang sama over and over again. Oke, sepertinya ada yang harus kita rubah dari perspektif kita. Saya tidak tahu itu apa. Karena yang paling tahu adalah diri kita masing – masing. Menurut saya kita perlu seseorang yang dapat membantu kita. Ada yang bilang “kita tidak dapat melihat punggung kita sendiri, karena itu kita butuh orang lain untuk melihatnya”.  Dan itu adalah orang yang benar – benar dapat kita percaya, entah itu orang tua, saudara, keluarga, sahabat, teman – teman, psikiater, coach, siapa pun. Itu sangat membantu kita untuk melihat our problem dari sudut pandang orang lain. Mengenai relationship, even sudah memasuki jenjang pernikahan tetap perlu ilmu. Sekarang sudah banyak buku – buku, seminar, coaching tentang relationship, so silahkan pilih yang mana paling cocok dan sesuai kebutuhan. Who knows kita malah dipertemukan dengan orang yang tepat di event tersebut. Dan yang paling terpenting adalah berdoa. Karena Tuhan-lah yang menjadi sutradara dalam kehidupan kita. Semoga our love story like a fairy tale, happily ever after.

 

Seperti lirik lagu 1D “I might never be your knight in shining armor”, yup bisa jadi Mr. Right kita bukanlah ksatria berkuda yang menjemput kita di kastil. Tapi dia hanya seorang pria yang panik cari pinjeman helm buat menjemput kita di bandara, karena helm dia cuma satu. Atau yang rela kehujanan mengantarkan bubur ketika kita sedang sakit. Atau dia seorang pria nerd yang gemetaran baca puisi di depanmu. Ladies, first thing first, love your self, keep healthy, being happy, being productive, and enjoy your solitude if you don’t have patner. Never mind, being single for a while. If God want you to be with someone. He will make it happen at right time and with the right person. It’s never the wrong time for the right one. So please, don’t force it.



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.