Finding Joy In The Little Things


Monday, 30 Nov -0001


Aku yakin bahwa sukacita adalah suatu pilihan. Sukacita adalah keadaan pikiran dan jiwa yang dapat mengatasi keadaan eksternal. Saat krisis datang, kita dapat memilih untuk bersukacita. Sukacita ini harus dibangun di atas keyakinan dan pengharapan, bukan diri kita sendiri, karena diri kita sangat mudah jatuh dalam kehampaan. Sangat tidak mungkin bersukacita saat nenek yang aku sayang meninggal, atau saat bisnis orang tua hampir bangkrut, tetapi aku bisa bersukacita di dalam pengharapan bahwa nenek akan terus hidup di Surga, dan bersukacita dalam keyakinan bahwa segala hal yang terjadi di hidup ini untuk kebaikan.  Tetapi kejadian-kejadian seperti ini tidak mudah dilupakan, maka aku secara sadar memilih untuk bersukacita.

Selain itu, ada juga krisis jenis lainnya yang mengikis sukacita kita sedikit demi sedikit.  Ini adalah krisis yang kita hadapi setiap hari. Misalnya, saat saat perang mulut dengan kakakku, atau saat kehilangan dompet, atau saat terjebak macet, atau saat melihat orangtuaku bertengkar. Ini yang aku sebut sebagai “joy thief”, atau pencuri sukacita. Kejadian-kejadian seperti ini mencuri sukacita dalam diri kita tanpa disadari karena terlalu sering dialami, dan kita menganggapnya sebagai hal remeh. Jadi setiap pagi aku selalu mengatakan kepada diri sendiri agar waspada terhadap thief joy yang akan datang hari itu,  untuk memastikan tidak ada yang bisa mencuri sukacitaku.

Saat Urbanesse bertengkar dengan teman kerja, atau saat bos memberi kritik yang kadang pedes, atau saat pacar mengatakan bahwa dia tidak suka dengan apa yang kita lakukan… yah kalau itu terjdi padaku, pasti terasa sedihnya. Aku mau semuanya sempurna dan tanpa cacat. Padahal kalau dipikir-pikir,kan gak mungkin. Jadi, daripada kesal karena ada yang tidak sempurna, saat ada hal yang tidak enak terjadi, aku harus mengatakan pada diri sendiri: don’t take things personally. Aku tidak akan membiarkan hari cerahku menjadi hujan hanya karena ada orang lain melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Susah untuk wanita agar tidak mengambil hati atas hal-hal seperti ini.  Mungkin kita bisa sok cool saat terjadi hal-hal ini, tapi kata-kata “I don’t care” atau “saya tidak perduli” yang biasa kita utarakan, biasanya mengandung sedikit kepedihan. Kita sebagai wanita diciptakan untuk merasakan, jadi kita hebat dalam merasakan segala hal, termasuk termasuk merasakan hal buruk.  Tidak terlalu baik seperti ini, bener ga? Kita sakit hati walaupun yang menyakiti hati kita mungkin sudah melupakan hal tersebut.  Karena sangat susah untuk let go, maka kita harus mencoba lebih keras untuk melaksanakannya, bukan supaya kita tidak lagi merasakan, tapi supaya perasaan-perasaan ini tidak punya kekuatan untuk mengatur hidup kita. Saya pernah mendengar sebuah pepatah yang bunyinya kita-kira seperti ini, “Anda tidak dapat melarang seekor burung untuk tidak terbang melewati kepala Anda, tapi Anda dapat mencegahnya untuk tidak bersarang di atas kepala Anda”. Kita tidak bisa mengatakan, “Stop!” pada banyak hal, atau perasaan-perasaan yang masuk ke dalam hati kita, atau pikiran-pikiran untuk masuk ke dalam kepala kita, tapi kita bisa mencegahnya untuk tidak berlama-lama ada di dalam kita.

Saat aku melakukan hal bodoh –ngaku aja deh, kita wanita sering melakukan hal-hal bodoh- aku harus menarik nafas yang dalam dan let it go. Melepaskan. Aku mencoba untuk bersukacita walaupun mungkin akibat dari hal bodoh yang aku lakukan itu fatal. Saat melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, aku coba bersukacita karena masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini. Saat aku mengatakan hal bodoh, aku belajar untuk tertawa dan bersukacita karena berhasil membuat orang disekitarku tertawa.  Berterima kasih atas hal-hal kecil di hidup akan menciptakan sukacita yang dalam, dan memilih untuk mencari sukacita atas segala hal membuat hari-hari lebih cerah. Memastikan bahwa energi negatif tidak dapat mempengaruhiku sedikit pun, namun tetap dapat melihat betapa gelap dan suramnya dunia ini, sehingga walaupun begitu aku tetap dapat bersuka cita karena aku bukan bagian dari kekacauan tersebut. Sama seperti lingkaran. Memilih untuk bersukacita akan membuatku ingin terus bersukacita.

Jika susah bagi Urbanesse untuk merasakan sukacita, dekatkanlah dirimu pada orang-orang yang bersukacita. Aku juga tidak perlu menjelaskan siapa orang-orang yang bersukacita di sekitar Urbanesse, karena pasti kelihatan sekali kalau mereka itu bersinar-sinar. Dan sukacita di dalam mereka akan mempengaruhi Urbanesse, karena sukacita itu menular.

Aku mau mengingatkan bahwa orang yang penuh dengan sukacita tidak menjadi seperti itu dalam satu hari. Sukacita merupakan kemampuan yang telah diasah sehingga menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi sebuah karakter. Isnt that a hopeful thing? Artinya kita semua bisa mempunyai sukacita itu di dalam diri kita, apa pun yang terjadi di sekeliling kita. Setiap orang yang memiliki karakter yang bersukacita akan menularkannya ke orang lain.  Aku ingin menjadi seseorang yang membagikan sukacita itu kepada orang lain, bukan seseorang yang meredam sukacita orang lain karena hatiku yang tidak bersyukur atau pikiran yang penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran. Bagaimana dengan Urbanesse?



Unknown

No Comments Yet.