Ferry Tenka: Jadi Entrepreneur


Monday, 30 Nov -0001


Pandangan Pria kali mendapat kesempatan ngobrol tentang tujuan hidup dengan Ferry Tenka, 30 tahun, founder yang terlibat langsung dalam pengembangan beberapa eCommerce  besar di Indonesia.

Beberapa tahun lalu, ketika masih belajar di negeri Paman Sam, Ferry ingin sekali segera lulus kuliah lalu bekerja agar memliki kehidupan yang mapan, seperti  tempat tinggal yang nyaman, mapan secara ekonomi, berkeluarga dan hidup bahagia selamanya. Setelah bekerja beberapa tahun di sana, Ferry merasa ada sesuatu yang mengganjal, tidak sesuai dengan dirinya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Ferry memutuskan kembali ke Jakarta untuk memulai sesuatu yang baru.

Setibanya di Jakarta, Ferry masih belum memutuskan akan mulai usaha apa. Ferry terus mencari, hingga akhirnya bertemu dengan seoarang temannya yang juga ingin kembali ke Jakarta dan mulai usaha sendiri. Selama 2 – 3 bulan, mereka terus bertemu dan diskusi tentang ide usaha yang akan dijalani dan sampai pada keputusan untuk mulai usaha di bidang eCommerce. Waktu itu, eCommerce yang mereka mulai merupakan pionir dibidangnya.

Saat baru mendirikan usahanya, semua dilakukan sendiri, termasuk membersihkan WC. Walaupun begitu, Ferry selalu semangat menjalankan hari-harinya. Bukan hanya 1 – 2 bulan pertama, bahkan hingga saat ini, bertahun-tahun setelahnya, Ferry masih tetap memiliki semangat yang sama seperti ketika ia baru memulai usahanya. Ia menjalani hari-harinya dengan passionate. Saat ini, eCommerce pertamanya sudah diakuisisi oleh salah satu eCommerce besar di dunia. 

“Bagaimana Ferry menemukan tujuan hidupnya?”

Sekitar akhir tahun lalu, setelah mengikuti sebuah kelas leadership di Jakarta, Ferry akhirnya mengetahui bahwa tujuan hidupnya sebenarnya sudah ada di dalam dirinya dari dulu, tapi belum disadari. Di salah satu sesi kelas leadership tersebut, peserta, termasuk Ferry diminta untuk menemukan holy discontent dalam dirinya. Sederhananya, holy discontent adalah sebuah situasi yang paling bikin Urbanesse gemes, gregetan, darting sehingga membuat Urbanesse mau melakukan sesuatu untuk memperbaikinya, no matter what. Misalnya, Urbanesse gregetan dengan meningkatnya jumlah wanita hamil sebelum menikah hingga menggerakkan Urbanesse membuat tim yang kompeten untuk melakukan penyuluhan tentang seks pra nikah secara gencar dan menyediakan rumah singgah untuk wanita-wanita yang hamil sebelum menikah untuk mencegah dan mengangai kejadian ini. Pada Ferry, yang dialami adalah setiap kali ia melihat seseorang yang ingin memulai usaha dan takut mencoba, ia selalu merasa gemes ingin mendorong orang tersebut untuk berani memulai langkah pertama, menocba. Dari holy discontent ini Ferry menyadari bahwa ini adalah tujuan hidupnya. Makanya, Ferry sering ditemukan menjadi mentor di beberapa afiliasi bisnis start-up. Bukan hanya itu, Ferry juga menyambut baik dan menjawab dengan empati, setiap pertanyaan dari perorangan yang diajukan sehubungan dengan bisnis start-up. Semua ini dilakukan karena ia ingin membantu dan mendorong orang untuk berani menjadi entrepreneur.

Tidak jarang ditemukan bahwa pencarian dan mewujudkan tujuan hidup menjadi penyebab seseorang menelantarkan orang-orang terkasih. Sepertinya tidak adil kalau dalam proses mencapai tujuan hidup kita hingga harus menelantarkan orang-orang terkasih. Padahal tujuan hidup itu adalah untuk membuat kehidupan lebih baik lagi, memberikan dampak positif bagi orang lain (seperti yang dibahas pada rubric Halo Gigi: Tujuan Hidup Sebenarnya). Menurut Ferry, pencarian tujuan hidup tidak boleh sampai menelantarkan orang-orang terkasih. Selama proses menuju tujuan hidup, kehidupan tetap berjalan secara normal, bertanggung jawab dan tetap fokus pada tujuan hidup itu sendiri. Untuk itu, Ferry berusaha untuk me-manage segala sesuatu dengan baik.

Sumber: neetikaro.wordpress

Untuk Urbanesse yang sedang mempertimbangkan untuk menjadi entreprenerur, ini tips singkat dari Ferry berdasarkan pengalaman pribadinya: Berani mencoba, jangan takut, jangan terlalu khawatir tentang segala hal. Untuk setiap masalah pasti ada solusinya.

Jadi, untuk bisa menemukan tujuan hidup, tidak perlu fokus pada diri sendiri untuk beberapa waktu sehingga menelantarkan orang-orang terkasih. Justru kehidupan tetap harus bejalan normal dan bertanggung jawab. Berani mencoba untuk menemukan tujuan hidup bukan hal yang salah, selama dilakukan secara bertanggung jawab. Untuk itu, kita harus pandai me-manage segala sesuatu, salah satunya adalah membuat skala prioritas.

Jadi, berdasarkan hasil obrolan dengan Ferry, menyadari holy discontent kita dapat membantu kita untuk menemukan tujuan hidup.  Sudahkah menemukan tujuan hiduo Urbanesse? Kalau belum, yuk cari tau holy discontent-nya­ Urbanesse. ~gRc



gRc

ShoesVaganza.com | Energy Efficiency & Conservation | Single Mother of Two | Coffee, Music, Book & Chocolate

No Comments Yet.