Dunia Pasti Berputar Jadi, Berhentilah Bersikap Sombong


Monday, 30 Nov -0001


“Dunia pasti berputar ada saatnya semua harus berubah, ingat pasti bertukar kita harus bisa hadapi semua”

Urbanesse pasti sudah pernah dengar lirik lagu dari ST12 “Dunia Pasti Berputar” itu dong yaa. Yes..jadi berhentilah untuk menyombongkan diri dengan membicarakan keburukan orang lain.

Urbanesse juga pasti sering mendengar ada orang mengatakan “Itu orang sombong banget, merasa dirinya paling baik saja dibanding lainnya, nanti juga dia termakan sendiri atas kesombongan hatinya”. Ini cerita tentang teman saya yang mau membagi ceritanya ketika dulu ia pernah memiliki sifat sombong, hingga tidak mau menerima masukkan apapun dari temannya pada akhirnya ia terpeleset. Sebut saja namanya Winda, Dulu ketika kami masih sama-sama kuliah Winda termasuk temanku yang juga rajin dalam mengikuti perkuliahan, dia juga mahasiswa aktif di kampus.
 

Winda aktif mengikuti kegiatan extrakurikuler di kampus, Winda juga termasuk mahasiswa yang memiliki nilai prestasi semester yang cukup bagus. Namun, ia termasuk teman saya yang memiliki sifat sombong atas apa yang diraihnya. Seperti pada setiap akhir semester dia memiliki prestasi yang cukup baik di fakultas jurusannya. Tiap kali dia mengambil kertas nilai akhir mata kuliah, dia selalu memamerkan pada teman-temannya dan kerap mengatakan kalimat yang menyakitkan ke orang lain yang nilainya lebih rendah dari dia.

“Ahh...terang aja nilai kamu di bawah aku, kamu kan kerjaanya pacaran melulu” belum lagi tiap kali saya bertemu dengannya di kampus pasti posisi dia sedang membicarakan aib orang lain. Seperti pada saat ada teman saya di kelas yang mengalami “Married By Accident”  Winda kerap membicarakannya pada rekan-rekan yang lain termasuk ketika sedang bersama saya. Winda berani Judge orang tersebut dengan membabi buta, tanpa membalikkan ke dirinya sendiri bagaimana kalau itu terjadi padanya. “Winda kamu main asal ngomong aja, kalau dia hamil tanpa ada suaminya? kamu kan nggak tahu ceritanya, nggak boleh asal nuduh lho win” terang saya pada Winda.

“Yaaa...emang benar, sudah banyak kok yang tahu itu. Jangan sampai deh aku ngalamin kaya gitu, kita perempuan harusnya pintar nggak bodoh seperti itu, kalau aku jadi dia nggak bakalan mau nikah sama laki-laki yang sekarang jadi suaminya itu..Iiiih...nggak deh..” Tandasnya pada saya. Mungkin Winda berpikir kalau untuk sekaliber orang yang pintar dan aktif di kampus seperti dia itu sangat jauh kemungkinan untuk mengalami hal sepert itu. Padahal kalau Winda menyadari perilakunya tersebut dia akan berpikir kalau roda itu berputar, mungkin saat ini kita sedang ada di atas, sedang dipandang baik di mata orang lain, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi dihari depan.
 

Waktu berlalu sepanjang kita menempuh kuliah S1 selama 4 tahun, kami pun masing-masing akhirnya lulus kuliah dan kini telah bekerja. Hampir satu tahun saya belum pernah jumpa lagi dengan Winda semenjak kami lulus. Saya dengar Winda kini bekerja sebagai Kepala Personalia disalah satu perusahaan BUMN di Jakarta. Saya turut senang dia kini settle dan bekerja sesuai dengan passion yang dia inginkan. Namun beberapa bulan yang lalu saya sempat dia buat tercengang ketika melihat status facebooknya. Dia menulis status cukup menggalau, padahal yang saya tahu Winda bukan tipikal orang yang senang mengeluh dan mengumbar maslaahnya di media sosial, tapi entah mengapa saya kali ini melihat status yang kurang mengenakan wara wiri di timelinenya.

 

Kurang lebih isi statusnya tentang bagaimana rasa sakit hati Winda terhadap Rio (bukan nama sebenarnya), laki-laki yang kini tengah menjalin hubungan dengannya dan akan menikahinya 2 bulan lagi, tenyata telah menikah dan sudah memiliki seorang anak. Apalagi dalam status tersebut winda juga memberitahukan bahwa dirinya kini tengan mengandung anak dari Rio. Di statusnya tersebut berseliweran banyak komentar dari teman-teman Winda yang menguatkan maupun yang menghujat status winda tersebut karena dianggap membuka aibnya sendiri. Tapi Winda tidak menggubris komentar mereka di Facebook. Membaca status Winda, saya sebagai temannya cukup prihatin. Saya coba menghubungi Winda via Facebook dan mengajaknya bertemu. Kami pun akhirnya bertemu lagi setelah setahun tidak pernah bertemu dengannya. Winda menceritakan semua keluh kesahnya pada saya. Dia menangis tersedu-sedu ketika menceritakan masalah yang tengah dihadapinya. Dia mengatakan pada saya kalau apa yang kini menimpa dirinya seperti karma yang Tuhan berikan padanya “Saat ini Tuhan telah sedang menegur aku, mungkin dulu aku terlalu berlebihan mengatakan hal-hal buruk ke orang lain dan judge orang tanpa bukti. Padahal hal tersebut bisa terjadi pada siapapun termasuk aku, tapi pada saat itu aku belum menyadarinya, aku terlalu sombong terhadap nasibku yang kala itu sedang berada di posisi yang baik yang Tuhan berikan”.
 

Cerita tersebut merupakan cerita masa lalu Winda yang begitu keras dan sombong. Kini Winda telah menjadi sosok yang baru, yang lebih kuat dalam menjalani hidup, walaupun kini Winda memilih untuk menjadi Single Parent untuk menghidupi anak semata wayangnya hasil hubungannya dengan Rio, Namun terakhir saya menemuinya seminggu yang lalu ia sekarang telah menjadi pribadi yang lebih semangat dalam memandang hidup, dia tidak lagi down seperti beberapa tahun lalu sempat saya temui, kesedihan juga sudah tidak lagi terpancar dari aura wajahnya.
 

Kini dia sudah mendapatkan posisi bagus di kantornya. Dia juga cerita setelah kejadian yang pernah dialaminya, sifat keras hati dan sombong dengan membicarakan aib orang lain yang pernah dilakukanya dulu, kini sudah ditinggalkannya. Dia mengatakan “memang lebih baik kita jaga mulut dan lidah kita untuk membicarakan keburukan orang lain, karena kita tidak akan pernah tahu kehidupan bagaimana ke depannya yang akan kita alami. Kesombongan terdahulu akan kehidupanku yang lebih baik malah membawa kerugian untuk diriku sendiri, kini aku sadar bahwa di antara kita sama tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk”.
 

Menurut winda berkat yang diterimanya berasal dari Tuhan, Tuhan menegur dengan caranya. Walau kini anak Winda terlahir tanpa adanya sosok Ayah yang pergi meninggalkannya, namun dirinya kuat karena masih memiliki orang tua yang baik dan bijak dalam memandang permasalahan yang tengah dihadapinya. Rasa malu akan cibiran orang lain seakan mereka tutup, karena menurut Winda tidak akan ada habisnya jika hidup kita diatur dari cibiran orang lain, sekarang gimana caranya .
 

Dari cerita Winda saya pun melihat sosok rendah hati yang coba ditunjukkannya, meski dia hidup sebagai single parent namun ia tidak mempedulikan komentar orang lain terhadap statusnya. Ia juga kini terbuka terhadap masukan dan nasehat dari orangtuanya maupun dari teman-temannya. Winda yang dulu sering membicarakan orang lain, kini dia menghindari itu. Bahkan ketika kami bertemu dan salah satu rekan saya ada yang tiba-tiba membicarakan orang lain, Winda pun malah, mengganti topik pembicaraan agar tidak menjurus jadi menceritakan aib orang lain.

 

Well...Urbanesse sifat 'sombong' dengan menceritakan keburukan orang lain memang tidak akan pernah membawa kita pada kehidupan yang lebih baik daripada orang lain yang sedang kita ceritakan. Alangkah baiknya jika waktu senggang kita isi dengan hal-hal yang lebih untuk peningkatan kualitas diri kita, bisa dengan baca buku, mendengarkan musik, mengikuti kegiatan sosial komunitas,  daripada hanya diisi untuk membicarakan keburukan orang lain, karena kita tidak akan pernah tahu kehidupan kita ke depan akan lebih baik dari orang yang kita bicarakan atau malah sebaliknya.  



Libra

No Comments Yet.