Don't Let Him Steal Your Whole Life


Monday, 30 Nov -0001


Perkenalan dengan pria yang kemudian menjadi suamiku terjadi tahun 1996 saat bekerja di sebuah proyek konstruksi mall dan apartemen terkenal di daerah casablanca. Sudah menjadi sifatku untuk  ramah pada semua orang. Itulah sebabnya ketika dia mulai pedekate, aku berusaha baik. Banyak teman mengingatkan untuk hati-hati, karena dia terlihat agak aneh. Jujur, dia jauh dari sosok idolaku dan standar pacar-pacarku selama ini. Aku juga merasakannya tapi yang lebih aneh lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Seluruh akal sehatku seolah kabur entah kemana ketika dia sudah muncul di hadapanku dan mengiyakan ketika dia berkata ingin menjadi pacarku..

Banyak yang menyayangkan karena saat itu posisiku bagus dan banyak pria yang mendekatiku. Terlebih melihat pribadiku yang selalu penuh kasih, gembira dan menjadi 'juru damai' dari bermacam persoalan. Sedangkan dia? Tanpa merendahkan profesi orang, seorang mekanik yang lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan kasar, tampang pas-pasan, status honorer dengan gaji seperlima gajiku, pendidikan juga tak sepadan. Ditambah sifatnya yang sangat posesif. Melihat aku berbincang tentang pekerjaan dengan pria, pasti setelah itu aku dibawa ke posisi yang tersembunyi di proyek yang belum jadi itu dan disitulah dia mulai memaki, memukul serta menendangiku sekuat tenaga. Sangat temperamen. Aku tak bisa melawan karena tenaganya kuat sekali, hanya menangis namun mulutku terkunci. Para sahabat heran sering melihat bengkak dan luka di wajah dan tubuhku. Padahal pikiranku masih sangat normal. Aku sadar ada yang tidak beres, namun seperti ada hal misterius yang mengharuskan aku menurutinya. Untungnya untuk masalah pekerjaan, aku masih bisa berpikir secara nalar dan bisa menguasai diri. Tidak ada masalah dengan prestasiku dan semua pihak memuji hasil kerjaku.

Begitu banyak yang peduli padaku, banyak teman dan saudara yang berusaha mengenalkanku dengan pria-pria yang dianggap jauh lebih layak untuk menjadi calon suamiku, dari berbagai profesi. Ibuku juga sangat menentang hubunganku ini namun seperti dihipnotis, aku malah membela dia yang sudah terang-terangan sering berbuat hal yang menyakiti fisikku, dan  tetap memilih jalan terus dengan dia. Itu terjadi bertahun-tahun dan aku terus menentang ibuku, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan seumur hidupku. Sampai suatu saat ibuku akhirnya mengijinkanku menikah dengan dia. Disitulah terjadi titik balik kehidupanku.

Menikah dengan semua biaya dari pihakku. Setelah menikah pun, sifat posesifnya tidak hilang, malah bertambah parah. Aku dilarang bekerja karena menurutnya di tempat kerja banyak lelaki yang akan menggodaku. Padahal posisiku sudah lumayan mapan dan dia saat itu sedang menganggur, tidak ada pemasukan sama sekali. Benar-benar tak masuk akal namun aku tak bisa melawan. Boleh dikatakan waktu itu aku menderita lahir batin. Lalu, aku lalu membuka toko di rumah, yang menjual pakaian sisa ekspor dan laris. Itu juga masih salah di mata dia, keramahanku pada para pelanggan selalu disalahartikan padahal dengan apa kami bisa hidup jika tidak berjualan? Dia sering pergi dan pulang larut malam, entah kemana. Bila ditanya, dia balas membentak. Kami tinggal di rumah ibuku, dan begitu banyak pertanyaan ibu tentang suamiku yang tidak bisa kujawab. Aku sadar, kelakuannya minus dan tidak bisa jadi kepala keluarga yang baik dan benar. Bahkan ketika aku hamil, tak pernah satu kalipun dia mengantar kontrol ke dokter kandungan. Aku tetap sabar dan setia.

Dia memakai namaku untuk mencari pekerjaan dan teman-teman merasa iba padaku karena sedang mengandung sehingga memberinya pekerjaan di proyek-proyek mereka. Namun dia makin sering tidak pulang dengan alasan lembur dan parahnya, jarang memberikan nafkah yang layak. Ketika aku akan melahirkan, dia tidak ada dan harus dicari oleh adikku. Dia hanya menungguiku hingga sesaat akan melahirkan namun kembali kabur saat anakku lahir. Aku memilih untuk bersabar. Di lain pihak, ibuku marah karena kelakuannya itu dan ketika waktunya aku pulang dari rumah sakit, ibuku yang harus repot membereskan administrasi sebab suamiku kembali kabur tanpa memberikan uang. Ya ampun.....

Putriku tumbuh bisa dikatakan tanpa sosok ayah karena suamiku sangat jarang pulang. Aku nekad mulai bekerja sebagai agen asuransi dan ikut di beberapa pekerjaan proyek dengan teman-temanku yang begitu menyayangkan, sebab selama ini aku dikenal sebagai orang yang ramah, berprestasi di sekolah dan pekerjaan. Mereka bingung, bagaimana mungkin, aku yang berpendidikan tinggi, punya posisi bagus, banyak teman, bisa begitu tidak berdaya pada seseorang yang pendidikannya jauh lebih rendah dariku, pekerjaan tidak menentu dan tidak peduli pada keluarga.

Aku bertahan demi putriku, dan pada dasarnya aku setia dan hanya menginginkan putriku tumbuh dengan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya. Masih berharap suamiku dapat berubah. Namun kenyataannya, yang terjadi makin jauh dari harapanku. Aku tak bosan memberi nasehat namun tak pernah digubris. Malah dia membentak dan menuduhku sudah ada simpanan pria lain dan merendahkannya gara-gara pendidikannya yang rendah.

Aku berkonsultasi dengan teman-teman dan pemuka agamaku. Memang dalam agama yang aku anut, istri harus patuh dan taat pada suami, namun apabila suami tidak bertanggung jawab pada kelangsungan hidup keluarganya dan tidak bisa diharapkan menjadi kepala keluarga yang baik dan benar untuk keluarga, perlu menjadi pertimbangan. Aku juga harus memikirkan masa depan putriku karena dia adalah rejeki yang harus aku jaga dan rawat dengan baik. Syukurlah, putriku sangat pintar, cantik dan tidak banyak menuntut. Di usianya yang masih sangat kecil, putriku begitu mengerti dengan keadaanku. Dia tidak pernah menanyakan ayahnya yang memang makin jarang pulang, bahkan sering sampai berbulan-bulan.

Puncaknya, suatu hari saat di Bulan Ramadhan, suamiku pulang untuk mengambil baju dengan alasan akan pulang kampung, ber-Lebaran. Hanya beberapa menit di rumah, dia pamit sebab katanya sudah ditunggu bis di proyek. Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Sejak itu dia tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Nomor teleponnya berganti-ganti dan aku harus mengemis padanya tiap bulan untuk meminta uang, itupun tidak selalu diberi. Lebih sering dia menanggapi dengan emosi. Uang yang diberikan juga jauh dari cukup. Lebih dari 2 tahun dia tidak pulang.

Akhirnya setelah sekian lama bersabar dan mempertimbangkan, mata dan hatiku terbuka. Aku harus berani bertindak, berani ambil keputusan seperti yang biasa aku lakukan dalam pekerjaan. Cukup kuat alasanku untuk menggugat cerai. Sebagai manusia, aku dan anakku punya hak untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Dengan mantap, kudaftarkan gugatan cerai itu di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Dia marah besar di telepon ketika tahu aku sudah menggugat cerai, namun dia tidak ada niat untuk pulang dan menyelesaikan permasalahan. Sudah cukup penderitaan yang aku alami selama 10 tahun pernikahan kami. Aku harus mulai kehidupan baru dan aku yakin, semua kejadian ini menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. Tak perlu disesali. Aku harus lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Terutama demi anakku. Selama menikah, bagaimanapun sifat dan keadaan suamiku, aku tetap setia dan menurutinya, meskipun  apa yang kudapatkan tidak sepadan. Biarlah itu menjadi tanggungjawabnya, yang penting aku telah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluargaku.

Kini, setelah resmi bercerai, aku menata hidup dengan kembali bekerja walaupun tidak kantoran. Dengan pengalamanku, aku berwiraswasta menjadi arsitek sekaligus kontraktor rumah. Pekerjaan sebagai agen asuransi tetap aku lakukan. Dan putri cantikku menjadi kebanggaanku dan kesayangan teman dan gurunya, selalu juara kelas, walau dia tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Seluruh kasih sayang kucurahkan ke putri semata wayangku. Kudidik dia dengan penuh cinta, kelemahlembutan dan kesabaran karena dialah dunia dan akhiratku. Aku yakin, jika aku masih boleh menikah lagi, saat ini pasti sedang dipersiapkan sehingga kami bisa jadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Jika terjebak pada situasi yang sama dengan yang aku alami, beranilah bertindak dan ambil keputusan. Jangan biarkan orang lain menyakitimu seumur hidup. Jangan pasrah pada keadaan, karena hanya kita yang dapat membuat masa depan kita menjadi lebih baik. Selain itu, sekecil apa pun keputusan yang akan diambil, pertimbangkan dengan sangat matang, karena sebuah keputusan yang diambil, akan membawa dampak yang besar dalam kehidupan, baik ataupun buruk.

Walaupun disakiti secara fisik dan perasaan sekian lama, Rima tetap setia dan memberikan yang terbaik bagi suaminya. Ia tidak merencanakan sedikit pun untuk membalas perlakuan suaminya, ini semua karena kasih dan kesetiaannya. Namun, Rima juga seorang wanita yang cerdas, dengan lembut, Rima mulai bertindak menyelamatkan dirinya dan anaknya, Nunik, serta tetap mengontrol dirinya supaya tidak melakukan hal yang salah lagi. Caranya? Dengan berkonsultasi dengan teman-teman dan pemuka agamanya dan yakin bahwa bukti-bukti yang dimilikinya mendukung dirinya untuk menggugat cerai suaminya. Rima menyelamatkan dirinya dan Nunik, ini semua karena ia mengasihi dirinya sendiri dan Nunik.



Unknown

No Comments Yet.