Demam Panggung


Monday, 30 Nov -0001


Buat aku pribadi, paling susah mengatur emosi waktu berada di dalam suatu keadaan yang bukan zona nyaman. Terkadang serangan panik justru terjadi pada saat keadaan yang aku pikir sepele dan bisa aku atasi dengan baik. Seperti pada saat proses kuliah lagi setelah 8 tahun bekerja. Bagi sebagian teman, mereka mungkin menganggap proses yang aku jalani sekarang sangat indah dan menyenangkan. Kota baru, teman baru, gak usah cari uang lagi. Belajar saja tiap hari dan ikut berbagai aktivitas. Alangkah sempurna hidupku. 

Kenyataannya, buat aku kehidupan kuliah lebih menakutkan daripada bekerja.

Paling berasa itu kendala bahasa. Kasus klasik, tapi cukup bikin masalah. Bagi orang extrovert seperti aku, sangat penting untuk bisa berkomunikasi dan berhubungan secara baik dengan orang di sekitar. Betapa frustrasinya aku ketika aku ingin menyampaikan isi hati kepada teman dan opini di kelas, tetapi karena bahasa beda, jadi kurang bisa terwujud dengan lancar dan kadang miskom karena pakai kosakata tidak sesuai konteks. Terlebih saat ditugaskan untuk membaca jurnal akademis dan menulis essay berisikan argumentasi berdasarkan riset, pusingnya minta ampun, mengingat backgroundku  adalah seorang illustrator dan desainer grafis, yang benar-benar bertolak belakang dengan program yang aku ambil, yaitu Master of Teaching. Dari kecil aku tidak pernah menulis diary. Aku sangat terbiasa untuk menggambar bukan menulis, apalagi menulis akademis. Dengan sadar, aku harus menginvestasikan waktu, pikiran dan tenaga lebih banyak, kalau mau berhasil dalam pendidikan yang aku tempuh sekarang.
 

Hal ini berdampak pada isu lain yaitu mengatur waktu dan finansial. Pada awalnya, aku berpikir bisa mengatur waktu antara kerja paruh waktu dan studi. Melihat tingkat kesulitan yang aku alami dalam studi, maka aku harus bayar harga. Aku harus merelakan kenyataan untuk fokus ke studi dulu selama beberapa bulan pertama, dan hidup lebih hemat, mengingat pendapatan sekarang nol dan pengeluaran bulanan jalan terus. Selain itu juga musti bijak dalam prioritas bersosialisasi. Cut acara bersosialisasi dan self improvement yang bahkan kelihatan innocent tapi kurang berdampak secara pribadi, seperti persekutuan doa di kampus atau workshop yang menarik tapi tidak membantu secara akademis seperti workshop kaligrafi. Aku berkali-kali berkata pada diriku sendiri untuk bersabar karena proses ini hanya sementara.
 

Mengerjakan sesuatu yang baru dan bukan strength aku, dengan penghasilan nol.
Aku pikir hal ini cupu, tapi gak nyangka ini cukup membawa dampak self esteem buat orang yang pede seperti aku sekalipun. Aku masih ingat, puncak ketidakpedean muncul pada saat satu minggu full dengan presentasi dan essay. Pada satu pagi dalam minggu itu, keringat dingin tidak berhenti mengucur, jantung berdetak sangat cepat, dan tampangku udah jutek banget, bahkan teman juga takut ngobrol sama aku. Di pikiranku cuman satu kalimat berulang-ulang “I CAN’T DO THIS, I’M NOT READY.” Aku merasa materi yang aku riset tidak cukup mendalam, dan aku tidak menguasainya, baik secara tertulis maupun verbal. Singkat kata, demam panggung.

Mungkin Urbanesse juga familiar dengan perasaan ini, tapi beda situasi? Dulu aku suka menganggap remeh orang yang demam panggung, sekarang aku kena batunya. Saking tidak pedenya, aku melakukan hal konyol. Tanpa mengetahui dosen ada di mana, aku mencari ruang dosen dan mengecek satu-satu nama yang tertera di pintu-pintu itu. Aku berpapasan dengan program coordinator dan dia bilang dosen aku mungkin belum datang. Dengan putus asa aku menceritakan masalah yang aku alami. Dia hanya menjawab satu hal yang tiba-tiba bikin aku kayak kesiram air dingin yang segar,

 

”You can do it. It's a part of being a teacher. No matter what, the show must go on.”

 

Aku menangis terharu. (Ini ingat pas ngetik sekarang juga masih malu, maklum jarang nangis). Aku minta pelukan dari program coordinator itu. Tiba-tiba aku waras lagi. Aku turun kembali ke kelas. Presentasi berjalan dengan baik. Dan aku meminta maaf kepada teman yang aku semprot dalam keadaan panik. It was a happy ending.


Setelah kejadian itu, aku berpikir bahwa emosi negatif sebenarnya bukan hal yang buruk. Malah aku pikir itu merupakan tanda buat kita bahwa ada yang tidak benar dan harus ditelaah. Ada pemicu eksternal seperti perlakuan atau perkataan orang lain atau situasi tertentu yang membuat emosi kita bergejolak, karena itu berdampak dengan hal internal dalam diri kita, yang mungkin berhubungan dengan isu psikologis di masa lalu. Dalam konteks ini, aku pikir emosi negatif bisa berfungsi sebagai titik awal pengenalan diri kita yang utuh dan autentik.

Yang merugikan adalah kalau emosi negatif itu tidak terkontrol. Aku benar-benar baru menyadari bahwa emosi negatif yang berlebihan tidak hanya melumpuhkan, tapi juga bisa bikin kita u turn dari gol semula dan lebih buruknya, menyakiti orang lain. Pada saat emosi negatif melanda, paling penting untuk diam sejenak, tarik napas panjang, lalu memilah dengan bijak suara siapa yang kita dengar, dan hal apa yang kita dengar, dan kadang harus tega untuk mengesampingkan suara negatif, sekalipun itu datang dari diri sendiri, dan bertindak dengan kepala dingin. Aku sadar senyaring apapun suara di luar, tetap pada akhirnya suara diri sendiri yang kita paling dengar. Pada saat suara diri sendiri sangat negatif, carilah accountable people yang bisa kita percaya untuk mengingatkan kita. Serta carilah Tuhan. Kedengaran agak klise, tapi doa itu besar kuasanya. (Dengan catatan cari Tuhan gak cuma di saat susah) Aku bersyukur pagi itu aku menemukan orang yang benar, yang bisa membawa aku untuk back on track. Sejak saat itu, aku menjadi lebih santai dan percaya diri dalam menulis dan presentasi.


Mengatur emosi perlu latihan seumur hidup. Paling penting untuk tidak deny that emotion, berdamailah dengan emosi. Kita tidak bisa memanage sesuatu yang tidak kita kenal dengan baik. Jangan sampai dimanipulasi emosi, sampai putar balik dari gol semula. Emosi sebaiknya menjadi partner, bukan boss dalam hidup kita.
J



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.