Dealing With Bad Things


Monday, 30 Nov -0001


“be patient and tough: someday this pain will be useful to you.” Cecelia Ahern

Setelah menyelesaikan kuliah di Padang, Sumatera Barat dan mulai bekerja di dunia kerja formal, saya sempat bekerja menjadi Sekretaris Direktur disebuah perusahaan. Tidak ada hal hal berarti yang harus dikeluhkan, kecuali satu – atasan saya sendiri. Dari awal bekerja saya sudah mulai mendengar rumor tentang ‘kelakuan’ boss saya yang satu ini. Namun saya mencoba objektif hingga nanti saya bisa melihatnya sendiri. Periode bulan madu hanya terjadi di minggu pertama. Selanjutnya, ia mulai menunjukkan wajah aslinya. Setiap hari, saya bekerja dengan harus menghadapi ucapan kasarnya, sikap yang tak sabaran, serta tangan yang sangat ringan melempar apapun yang ada didepannya ketika ia tak senang. Saya baru tahu bahkan seorang penjaga keamanan kantor pernah ditendang lehernya, entah dengan alasan apa.

Setiap hari, ketika bangun pagi saya mencoba meyakinkan diri saya, bahwa ini hanya ujian saya. suatu saat akan selesai, saya hanya perlu bersabar. Hingga suatu siang, saya memutuskan bahwa saya tak perlu bersabar lebih lama lagi saat ia melempar sebuah pena pada saya tepat di depan seorang tamu ketika saya tengah membereskan file-file yang dimintanya. Seseorang di luar ruangan mungkin akan berbicara pada saya bahwa saya perlu bersabar lebih banyak, bahwa sang boss mungkin hanya sedang banyak pikiran, dan segudang alasan lain untuk bersabar lainnya. And I bought their words. Hingga suatu ketika entah karena alasan apa, saya tiba-tiba dipindah ke lantai bawah dan berganti tanggung jawab menjadi sang penerima telepon alias Resepsionis. Ketika meminta penjelasan, saya melihat seseorang dari bagian lain sudah menggantikan posisi saya. well, saya hanya bertahan 3 hari setelah pindah ke lantai bawah.

Saya meyakinkan diri saya kala itu, bahwa kesabaran saya sudah cukup. Jika saya bertahan di sana lebih lama, saya hanya secara terang-terangan memberikan izin bagi siapapun untuk merendahkan saya. Saya ingat saya menemui atasan saya ini untuk mengajukan pengunduran diri langsung. Dia terkejut dan mencoba menahan saya dengan mengembalikan posisi saya semula dan menaikkan gaji saya. Tapi saya bergeming dan memilih pergi.

Bertahun-tahun setelah itu saya sudah bekerja dengan banyak model atasan dan rekan kerja. Setiap bertemu dengan orang-orang baru, saya mengingatkan diri saya terus-menerus untuk tidak menjadi orang brengsek kepada orang lain, hanya karena suasana hati yang tidak enak. Saya tidak bilang saya berubah menjadi orang yang sangat sabar terhadap apapun dalam seketika. Tapi saya belajar untuk tahu kapan harus bersabar dan menunggu, atau ketika saatnya sudah tiba untuk pergi. Saya tahu adakalanya saya harus bersabar terhadap sesuatu, tapi saya tidak pasrah ketika segala sesuatu menjadi buruk dan menahan perasaan sedemikian rupa.

Di kantor saya sekarang, ada satu orang mentee yang menjadi tanggung saya secara professional. Dari sisi profesionalitas, ia bisa mengejar pelajarannya meskipun masih tergolong baru. Hingga suatu ketika ia jatuh dari tangga dan keseleo. Suatu hal yang tidak akan jadi masalah jika ditangani dengan cepat. Tapi tidak demikian yang terjadi, ia justru menunda-nunda sehingga akhirnya keadaan kakinya menjadi lebih buruk dan dengan cepat merepotkan semua orang. Sebagai mentornya saya berusaha membantu apa yang bisa saya bantu. Hingga saya menyadari bahwa ia ternyata menceritakan hal-hal yang berbeda pada tiap orang yang berbeda. Awalnya tak ada yang menyadari, hingga akhirnya kolega dan atasan saya mengatakan pada saya bahwa ia mengeluh tentang saya karena keras padanya mengenai kesehatannya, dan mencoba menjadikan saya sebagai sosok bad guy. Meskipun ia toh tidak cukup berhasil karena mereka juga sependapat dengan apa yang saya katakan.

Dari satu kejadian ke kejadian lainnya selalu mengajarkan saya banyak hal. Dalam hal ini misalnya, haruskah saya menjauhinya? Mengambil jarak darinya? I don’t think it’s a wise thing to do. Selain tanggung jawab saya padanya adalah KPI yang akan dinilai di akhir tahun, saya belum sejahat itu untuk membiarkannya begitu saja tanpa tahu kesalahan yang harus diperbaikinya. Meski membutuhkan proses terus menerus, saya diharuskan untuk terus sabar menghadapi mentee saya ini karena seperti apa dia nanti kedepan adalah gambaran saya selama ini, setidaknya sebagian kecil dari saya.

Saya pikir adalah lumrah merasa kesal dengan orang lain. Namun ketika kita memiliki tanggung jawab pada orang itu, mau tak mau kita belajar untuk mengenyampingkan hal sepele seperti itu. Saya hanya harus fokus pada hal-hal positif yang ada pada dirinya dan terus bersabar pada hal-hal yang masih bisa saya tolerir. Meskipun adakalanya, saya juga harus mengatakan dan bersikap keras untuk hal-hal tertentu, bukan berarti saya tidak sabar menghadapinya. Kesabaran bukan berarti berdiam diri pada apa yang terjadi, melainkan mencari cara yang terbaik untuk menghadapi situasi yang sedang dihadapi dengan cara yang baik. Ketika kita sudah melakukan yang terbaik dan keadaan terus memburuk, yang perlu dilakukan adalah meminta diri kita untuk berhenti sejenak, karena kesabaran seharusnya tidak pernah habis dan tidak ada ujungnya. Ia selalu ada pada tiap kesempatan yang berbeda.



Unknown

No Comments Yet.