Cinta itu Sebenarnya Sederhana


Monday, 30 Nov -0001


Saya itu sebenarnya tipikal wanita Indonesia yang pikirannya mau menikah dengan orang pertama yang saya pacari lalu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Karena itu sejak kecil saya belajar merangkai bunga, menjahit, dan hal-hal lain yang menurut saya bisa menjadikan saya sosok wanita yang ideal dalam pernikahan. Pada saat itu saya tidak sadar bahwa wanita ideal itu bukan hanya wanita yang bisa melakukan kegiatan-kegiatan “ibu ibu”atau kegiatan” istri istri” baik tapi menjadi wanita yang ideal utk seseorang itu lebih terfokus dalam mental dan cara berpikir seseorang yan hasilnya mungkin bisa jadi kemahiran kemahiran tersebut.

 

Menjadi “calon istri ideal”

 

Sebelum saya menjelaskan kalimat di atas, saya akan meneruskan cerita saya mengenai perjalanan kisah cinta saya. Karena saya membibit diri saya menjadi sosok istri ideal, maka sayapun sudah punya mimpi pria ideal itu seperti apa. Setiap kali saya bertemu seseorang yang profile luarnya seperti impian saya, saya langsung berkata di dalam hati “ Do your best and be your best supaya dia melihat bahwa kamulah sosok yang paling ideal untuk dijadikan istri”.

 

Akibatnya apa?

Saya selalu berusaha terbaik untuk laki-laki yang sepertinya, hanya sepertinya, cocok dengan panutan ideal saya. Kenapa sepertinya yah karena banyak pria tampaknya baik bertanggungjawab, ganteng, serius, dll. Jadi seringnya saya ditipu-tipu akan halusinasi pernikahan dan semua yang saya lakukan “the best” itu ya merupakan benefit untuk mereka. Ketika saya sadar? Hati saya hancur dan kecewa. Tapi saya akui memang salah saya juga mudah termakan oleh impian-impian ideal saya sendiri.

 

Mencari  pria ideal

Berhubung hati saya sudah disakiti berkali kali maka pikiran saya berikutnya adalah memilih laki laki dengan baik supaya tidak akan sakit hati lagi. Jadi sejak saat itu saya sangat mengawasi tindak tanduk teman kencan atau pacar-pacar saya. Sedikit ada tanda tanda kekurangan saya putus karena saya tidak mau disakiti lagi. Saya bahkan punya daftar khusus untuk definisi pria ideal ini. Pada tahap ini saya tidak terlalu tersakiti hatinya tapi saya banyak…kecewa. Karena ternyata tidak satupun memenuhi kriteria yang saya buat dengan sempurna. Karena saya selalu berpikir “ kan saya hanya mau menikah sekali, jadi sebaiknya saya memilih yang terbaik”. Yang saya tida sadar pada fase ini adalah terbaik itu tidak sama dengan yang sempurna. Bahkan terkadang saya harus mendapat yang kurang sempurna karena yang kurang sempurna itu bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Be yourself

Akhirnya saya masuk dalam fase capek. Capek tenaga, capek hati, dan capek berusaha to be the best. Saya akhirnya ya sudahlah santai saja jalani hidup apa adanya dan jadi apa adanya. Kalau saya tidak terlalu cakep ya sudahlah tidak perlu ngoyo dandan sampai cantik, kalau kadang saya suka susah bangun tidur dan terkadang malas, it is OK. Itulah saya. Ternyata hidup kalau tidak sedang mencari pacar enak juga ya, santai dan tidak perlu sering jaim. Karena apakah saya memenuhi standard ideal saya atau tidak, itu tidak  lagi penting, karenakan saya tidak dengan siapa-siapa. Pada saat ini juga saya sudah berpikir kalau memang diri saya yang sekarang ini memang kurang baik untuk siapapun ya sudahlah. Toh saya sudah nyaman dengan hidup pada saat ini dan juga tidak kunjung berhasil dalam mencari hubungan yang serius.

 

Accept him the way He is

Sampai akhirnya saya bertemu dengan pacar saya yang sekarang. Kebetulan awalnya saya tidak tertarik dan dia juga tidak tertarik. Plus saya juga dalam fase itu tadi, senang sendirian karena nyaman. Tapi berjalannya waktu kita cocok makan, ngobrol, dll. Oh pada saat itu juga kalau saya lihat list saya, dia tidak masuk list sempurna saya  hahahaha. Tapi kalau jadi temen baik kenapa tidak. Ehh ternyata hubungan ini malah yang lambat laun jadi serius.

 

Dari sini saya mengambil pelajaran bahwa terimalah pria apa adanya itu bukan berarti tipe lelaki apapun saya iyakan. Maksudnya di sini adalah saya tidak memilih pasangan dimulai daftar kriteria tertentu. Tapi saya mendapat pasangan dengan mengenal diri  laki-laki itu apa adanya. Jika ternyata dia benar-benar bisa dibilang pria baik-baik dan bertanggungjawab, walaupun pasti ada kekurangan ini dan itu, saya rasa orang ini patut diberi kesempatan dan juga kita patut belajar menerima kekurangannya

 

Ternyata dalam hubungan seperti ini saya merasa paling nyaman. Saya tidak perlu selalu berusaha jadi yang the best the best yang kadang membuat saya tidak apa adanya. Dan juga setelah list2 kriteria saya singkirkan, saya juga berpacaran tidak lagi mencari the best of him. Dia ya dia. Saya ya saya. Dia tidak sempurna, saya juga tidak tapi kita nyambung. Dia orang baik, saya orang baik. Cukuplah itu buat saya yang sekarang.


Jadi kalau bisa saya rangkum, saya rasa kesalahan saya, adalah terlalu menaruh target
untuk diri saya sendiri dan calon pasangan saya. Padahal tidak ada orang yang sempurna maupun ideal. Target itu membuat saya tidak menjadi diri saya sendiri dan juga membodohi diri saya sendiri. Selain itu target-target itu juga kemungkinan besar menyiksa pacar-pacar saya sebelumnya  karena membuat mereka merasa tidak diterima apa adanya.

 

Yang terbaik adalah jadilah diri sendiri dan menerima diri sendiri dengan segala kekurangannya dan pilihlah pasangan tanpa target-target ideal tapi pada saat bersamaan pelan-pelan kita pelajari sifat sesungguhnya. Tentunya dia pasti ada kekurangannya.  Tapi lebih baik memilik pasangan berkarakter baik tapi dengan kekurangan dibanding memiliki pasangan yang seolah sempurna tapi tidak menjadi dirinya sendiri.

 

 

“Be real and be yourself in order to find the real him”

 

 



Priscilla

No Comments Yet.