Can You Truly Be Thankful in Many Situations?!


Monday, 30 Nov -0001


 

Masa lalu saya dipenuhi dengan banyak kepahitan yang menurut saya…pahit dan menurut orang umum juga pahit.  Contoh saya pernah merasa diabuse, lalu berkali-kali dikhianati pacar dan teman dekat,  ditipu dari segi cinta dan uang, dan sering disalahartikan dan dituduh baik oleh orang sekitar atau keluarga.  Jadi saya membangun diri saya sedemikian rupa supaya akhirnya semua itu berakhir dan saya menjadi pribadi yang jauh berbeda.  Pribadi yang bisa melindungi diri saya dengan baik, sangat baik, bahkan terkadang terlalu baik (pernah merasakan hal yang sama Urbanesse?)

 

Jadi sebenarnya sah-sah saja saya untuk merasa tidak adil dan merasa sangat menyesal untuk punya masa lalu seperti itu. Orang-orang pun mendukung. Karena pahit yang diperbolehkan itu saya menjadi orang yang sensitif, curigaan, dan mudah meledak karena saya merasa saya sudah capek karena masa lalu yang tidak adil, kok sekarang orang itu masih mengganggu saya di hal-hal yang saya sudah capek itu. LEAVE ME ALONE!

 

Suatu ketika saya itu tidak tahu kenapa, mungkin karena banyak membaca cerita cerita seram di media ya, saya lalu membandingkan diri saya dengan hidup-hidup mereka. Yang mungkin hidup saya pahit tapi hidup mereka tidak memberikan mereka utuk merasakan apapun, termasuk kepahitan, misalnya mereka yang dibunuh, bahkan disiksa lalu dibunuh, atau yang hanya disika dan dibiarkan meninggal. Mungkin hidup saya dulu pahit karena suatu kejadian, tapi bagaiman orang yang sudah terlahir cacat. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang terjebak kecelakaan pesawat. Apakah mereka sempat merasakan apapun? Apakah mereka punya kesempatan mengubah masa depannya? Apakah mereka sempat mengutarakan hal-hal yang ingin mereka utarakan kepada orang lain.

 

Jawabannya tentu singkat: NO.

Wah dan selama ini bertahun-tahun saya tidak pernah terbersik sedikitpun untuk berpikir dalam sisi ini. Saya selalu berpikir bagaimana saya keluar dari masalah saya dan masa lalu saya. Sebenarnya sikap ini normal dan sangat manusiawi. Tapi saya sadar, kalau saya bisa lebih cepat berterima kasih akan keadaan saya, lebih cepat juga saya bisa bangun dari sifat-sifat jelek saya,dan lebih cepat juga saya bisa menjadi manusia  yang lebih baik untuk diri saya dan…. Orang lain.

 

 

Kata "SAYA" itu Maha Penting

Jadi buat saya berterima kasih dalam keadaan apapun itu sebenarnya terlihat mudah tapi jarang sekali kita sempat atau mau berpikir kearah ini karena apa? Karena kata “SAYA” itu maha penting. Jika saja kata “SAYA” bisa diperkecil, sebenarnya kita bisa menlihat begitu banyak hal yang bisa membuat kita berterima kasih dalam berbagai keadaan yang saat ini menurut kita tidak memampukan kita untuk berterima kasih.

 

Kata “SAYA” menghambat untuk bisa bersyukur dan melihat positif dari kejadian-kejadian yang saya hadapi.  Jadi mungkin teori ini juga bisa diaplikasikan oleh wanita lain.

 

Bagaimana jika anda mulai mengecilkan proporsi “SAYA” dalam pikiran anda? dan mulai lebih peka terhadap penderitaan orang-orang lain. 

 

Pada saat ini anda belum terbunuh karena kekerasan geng. Apakah anda masih bisa berterima kasih?

 

Pada saat ini pastinya anda belum termasuk korban kecelakaan pesawat. Apakah anda masih bisa berterima kasih dalam keadaan anda?

 

Bisa jadi tubuh anda masih sangat lengkap walau dirudung seribu satu masalah? Apakah itu bukan sesuatu yang sangat bisa diaminkan. Dibanding anda buta dan tidak punya masalah?

 

Terlebihnya lagi terkadang orang yang sudah cacat, atau sudah menjadi korban kecelakaan, bahkan penganiayaan bisa berterima kasih dan memaafkan orang yang membuat hidup mereka berubah. Oh no, saya jadi malu hati membaca artikel-artikel ini. Sungguh malu. Tapi untungnya, ketika saya baca artikel-artikel ini biasanya saya lagi sendirian jadi saya bisa masih menutupi harga diri saya sebagai seseorang yang “many things are about me”.

 

Dari itu saya belajar walau sakit, walau keadaan itu menyakitkan, walau saya sangat tertekan? Saya tanyakan diri saya? Apa benar tidak ada hal yang bisa saya syukuri saat ini sehingga membuat perasaan hati saya enak. Jawabannya ada dan biasanya hati saya menjadi teduh. Teduh itu akan mengubah sikap kita terhadap orang lain.

 

Be thankful dengan melihat kisah-kisah tragis sekitar yang jauh lebih parah yang belum terjadi dengan saya.  Dengan sikap hati yang selalu bisa berterima kasih ditengah masalah sayapun mampu menjadi lebih baik terhadap orang sekitar saya. Saya usahakan diri saya tidak automatic mode berfokus pada saya. Karena hal itu yang membuat saya susah mempunyai rasa terima kasih dalam hidup.

 

Being thankful, such a simple words, with a magnitude impact. Can you truly be thankful in many situations? Maybe, just like me,  you should start too =)

 



Priscilla

No Comments Yet.