Bye Ladies !!


Monday, 30 Nov -0001


Hai urbanesse, tema urban women kali ini yang mengulik tentang bullying dan self confident sangat menarik minat saya untuk menceritakan pengalaman yang  saya alami. Well, berkaitan dengan bullying, hampir tiap fase dalam hidup saya mengalaminya. Entah ketika saya SD, SMP, SMA, kerja dan kembali melanjutkan ke jenjang master.  Sebelumnya saya pernah menuliskan artikel keep Calm miss Baper, di artikel itu saya menceritakan tentang diri saya yang introvert melankolis, sehingga sangat mudah terprovokatif dengan becandaan yang menjurus ke arah ejekan. Mungkin menurut orang lain itu becanda, tapi menurut saya itu sudah terlalu kasar dan sangat menyinggung perasaan saya.
 

Ya, saya tidak akan menceritakan tentang pengalaman bullying yang saya alami pada saat SD, SMP, SMA dan lain sebagainya. Tapi yang saya ingin bagi adalah pengalaman bullying yang dilakukan oleh orang – orang yang saya anggap sebagai teman bahkan sahabat. Selama kuliah Magister, saya memiliki 3 orang sahabat. Kami berempat selalu bersama – sama. Persahabatan kami sudah mirip Geng Cinta di film AADC. Semboyan best friend forever selalu menjadi andalan. Ketika ada masalah saya selalu curhat ke mereka. Karena saya percaya dengan mereka. Sampai akhirnya Negara api menyerang.
 

Ada yang bilang bahwa bukan orang yang berubah tapi topeng mereka yang terbuka, sehingga menunjukan jati diri sesungguhnya. Setelah persahabatan kami berjalan sekian bulan, masing – masing sifat per individu mulai terkuak. Saya yang melankolis selalu jadi bahan lelucon. Awalnya saya fine fine saja, karena memang tipikal saya yang plegmatis cenderung untuk menghindari konflik.  Namun, joke yang diulang – ulang itu tidak lucu lagi.  Saya merasa jengah dengan kelakuan mereka. Yes, saya akui saya adalah orang yang agak kikuk, canggung dan sedikit absurd. But, please saya tidak suka ketika kecanggungan saya diceritakan di depan umum. I mean, it’s okay kita buat lelucon apabila itu di dalam inner circle kita. Tapi kalau itu udah di luar, hei, itu namanya pembunuhan karakter. Apakah itu namanya sahabat? I don’t think so. Selain itu, yang membuat saya mulai menjaga jarak dengan mereka, adalah ketika hasil foto – foto saya ditertawakan. Saya mengartikannya itu karya saya. Kalau mau beri kritik, saya siap, tapi kalau hanya untuk menghina tanpa solusi. Oke cukup.


Memang pada dasarnya bullying kecenderungan seseorang untuk menyakiti orang lain dengan sengaja, Hal ini dilakukan pelaku secara fisik, verbal, atau psikologis. Biasanya juga berkaitan dengan self esteem korban. Yeah, pada awalnya saya memang sedikit insecure, merasa inferior dibandingkan teman – teman saya tersebut.  Saya mengalami krisis kepercayaan diri.
 Namun pada akhirnya saya berpikir, mau sampai kapan hidup saya diatur oleh keadaan dan selalu merasa menjadi korban.  No, saya tidak mau lagi, saya rasa ini sudah cukup. Yes, I love them, but I love my self more.
 

Lalu apa yang saya lakukan? Sebelumnya bukan saya tidak memberi kesempatan untuk memperbaikinya. Akan tetapi, yang namanya karakter itu tidak bisa diubah. Hal yang sama terulang lagi, lagi dan lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk menjauhi mereka pelan – pelan. Saya mulai jarang ikut makan bareng yang sudah semacam ritual setelah pulang kuliah. Setiap kali diajak jalan saya menolak, saya selalu mencari kesibukan lain, bukan hanya untuk alasan, tapi memang saya ingin memberikan energi terbesar saya kepada hal yang positif dan produktif. Tidak ada lagi jadwal nongkrong cantik tiap weekend dan yang terpenting tidak ada lagi drama. Awalnya saya merasa asing dengan kehidupan baru saya yang sekarang. Kosong tanpa cerita atau gossip terhangat. Namun dilain pihak, saya bersyukur keluar dari pergaulan yang tidak membuat saya tambah menjadi baik. Pilih mana, teman – teman yang selalu merendahkan karyamu atau orang asing yang menghargai apa yang kamu buat? Saya pribadi, saya akan memilih opsi yang kedua.
 

Dari pengalaman ini tidak selamanya itu buruk, bukankah Tuhan mempertemukan kita dengan orang lain bisa jadi itu berkah atau bisa jadi sebagai pengalaman yang akan membuat kita belajar dan akhirnya tumbuh menjadi orang yang lebih baik. Bagi saya itu keduanya berkah dan pelajaran. Bagaimanapun saya juga harus instropeksi, kenapa hal yang sama bisa terjadi berulang – ulang kepada saya. Saatnya saya belajar cara meningkat self esteem, self confident dalam diri saya.
 

Persitiwa ini adalah teguran paling keras dari Tuhan agar saya berusaha untuk memperbaiki sikap. Juga hikmah bahwa kita tidak boleh merendahkan orang lain, apalagi sampai menindasnya. Bercanda boleh tapi lihat situasi dan kondisi jangan sampai menyinggung perasaan teman kita, walaupun itu adalah fakta. Semester 2 saya kali ini ditutup dengan keputusan bahwa saya siap kehilangan teman  - teman saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada mereka karena selama hampir 1 tahun ini sudah menjadi tempat berbagi yang cukup menyenangkan. Sekarang saya kembali menjadi “elektron bebas” dan menjalani “hidup baru” lagi. Artikel saya kali ini ditutup oleh quote "nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending" - Maria Robinson

 

Ingat ladies tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan bagaimana kamu merasakan dan memikirkan tentang dirimu sendiri. Jadi, tetaplah Percaya Diri.



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.