Bullying dan Tekanan Tidak Membuatku Hilang Rasa Pede


Monday, 30 Nov -0001


Aku punya teman perempuan. Pada usia yang tergolong cukup muda, sekitar 24-25 tahun, dia telah melalui banyak up and down dalam hidupnya. Terlahir dan dibesarkan oleh ibu yang tidak terikat pernikahan dengan sang ayah, pada usia balita divonis mengidap defisit Hyperactivity disorder (ADHD) yaituperilaku yang hiperaktif, disebabkan kurangnya perhatian atau konsentrasi dan kecenderungan perilaku impulsive. Mengalami bullying dan pelecehan seksual pada masa kanak-kanak, mengalami bullying dari kecil sampai SMA, dan pada saat kuliah sempat mengidap anorexiayaitu penyakit gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut.

 

Yang membuat aku kagum, dia bisa melewati semua itu dengan fisik dan mental yang sehat, tetap percaya diri, memegang prinsip hidup yang baik dan memiliki dignity, tetap bersikap generous dan kind terhadap teman-temannya termasuk aku, dan sekarang dia sedang menempuh pendidikan S2 di negara asing tanpa keluar duit sepeser pun, alias dapat beasiswa. Intinya, menurut aku, dia keluar sebagai seorang pemenang. Yuk, simak bincang-bincang aku dengan temanku ini, sebut saja namanya Lisa. (Karena keinginan orang yang bersangkutan, identitas sengaja dirahasiakan).

 

UW: Menurut kamu, definisi bullying itu apa?

Lisa: Menurut aku, bullying itu sesuatu yang dilakukan orang simply to make other people feel bad, dan membuat diri sendiri feel superior and better. Bisa dengan berbagai cara, baik fisik maupun mental, dan memakai feature dari orang itu untuk dituding sebagai kelemahan dia, misalkan ras, gender, penyakit

 

 

UW: Ceritakan dong pengalaman kamu tentang bullying.

Lisa: Pada saat itu aku mengalami ADHD, jadi suka main sendiri. Aku ngerti orang lain ngomong apa, tapi responku gak kayak anak lain. Jujur awalnya aku ngga nyadar tentang konsep bullying. Aku sadar dibully waktu SD kelas 3. Aku pikir bullying itu cara anak-anak lain untuk menyampaikan ke aku kalo aku itu aneh beda dengan mereka. Mereka manggil dengan kata-kata yang insulting seperti ‘orang gila’, lempar-lempar barang ke aku, mulai dari barang kecil seperti penghapus sampai bola basket ke kepala aku. Pusing lho haha…

 

UW: Pernah gak, kamu berpikir orang yang ngebully itu dulu juga pernah dibully, jadi dia mau pakai bullying to regain his/her self worth?

Lisa: Mungkin banget, tapi aku gak pernah bother untuk pikirin background mereka, karena orang yang benar-benar kuat tidak ngebully orang lain. I cant speak on behalf of the bullier karena consciously aku gak pernah bully orang.

 

UW: Apa yang kamu rasakan ketika dibully?

Lisa: Awalnya aku nggak marah tapi bingung. Ketikamengetahui mereka sengaja, aku marah banget, tapi ngga tahu pelakunya siapa karena ramai-ramaidan itu cowok-cowok. Kebanyakan orang yang dibully gak ngelawan, karena orang-orang sekitar berpendapat “save yourself from trouble”. Nah, aku ngga bisa gitu. Biasanya I would confront them, dan most of the time it would lead to worse cases. Bullyer jadi lebih gregetan sama aku. Pernah, waktu SMP, aku ketauan nyontek, lalu ada anak laki insulted me on my face, ngomong “mampus lo” dan sebagainya. Aku diam aja dan dia seneng banget. Aku dipepet sampai ke tembok and I had nowhere to run. Lalu aku pukul dia. He become outraged, dan dia ambil kursi buat mukul aku. Ngga ada guru yang melerai, karena sudah jam pulang. Teman-teman cowok dia di belakang pada menyoraki dia. Itu berlangsung sampai semuanya cape dan pulang besoknya pun hubungan kita gak lebih baik. Akhirnya that incident escalated ke konflik orang tua, hampir mau dibawa ke hukum. Sejak saat itu, aku gak pernah interact sama dia, tapi kita berdua tidak ada yang keluar dari sekolah.

 

UW: You are being bullied repeatedly. Itu mempengaruhi self confidence kamu nggak?

Lisa: Sangat. Pas SD, SMP walaupun aku dibully, aku masih nyaman dengan diri sendiri. Tapi lama-lama, bullying itu corosive buat self identity and self confidence, apalagi ditambah dengan sexual harassment. I am traumatized by school, ada beberapa area dari sekolah yang aku gak berani lewatin. Guru-guru juga ngga care. Di sekitar aku banyak kasus lebih parah, ada siswa lain yang dibully ampe kehilangan nyawa, jadi bullying itu kasus yang udah biasa. Aku berusaha untuk melindungi diri sendiri, menyerang bullyers itu, tapi mereka kelihatan baik-baik aja dan malahan hidupnya lebih baik dari aku. I felt powerless, useless, worthless, sampai pernah beberapa kali berpikir untuk suicide dan berpikir kalau aku mati juga nobody would miss me, except my mom.

 

UW: Lalu bagaimana sampai bisa mengidap anorexia?

Lisa: Itu pada saat kuliah. Sebelumnya waktu SMP, SMU kan aku kena constant bullying and sexual harassment. So, I was trying to make myself as ugly as possible, by obessing myself, so people wouldn't notice me and interested in me, and it works. Apparently, sexual harassment and bullying were much decreased, I became invisible and I kinda enjoyed it. Tapi waktu masuk ini, aku nggak ketemu teman-teman lamaku sama sekali. Pada saat itu pun, aku sudah sembuh dari ADHD, thanks to my mom yang rajin dan teguh bawa aku ke pskiater. Lingkungan sangat positif and I regained my confidence back. Obessity ngga ada gunanya lagi. Pada saat itu aku bebas explore my identity, berekspresi dan berkarya, dan aku tiba-tiba juga ambisius dalam menurunkan berat badan. Kepalaku sampai pitak setengah, rambut rontok parah. Makan tiga hari sekali dan satu apel aja. Minum air juga takut sama mineralnya. Pas pusing juga minum obat sakit kepala  juga takut karena mengandung gula. Mau pingsan juga ngga peduli.

 

UW: Sembuhnya gimana?

Lisa: Aku beruntung punya mama dan teman-teman yang bother to wake me up. Mama masak sayur, pertama aku buang-buangin. Satu hari, mama masak toge, dan aku makan dua sendok, lalu gak makan sampai besoknya. Mama tetep gigih, besok-besoknya dia kasih salad mentah, lama-lama dia tambahin telor. Teman-teman dari fakultas kedokteran juga pakai ilmu mereka untuk meyakinkan aku tentang gizi dan protein. Lama-lama aku makan satu telor tiap tiga hari, dan paling terakhir aku makan itu nasi. Setelah setahun, aku balik normal lagi. Pas sudah sembuh jadi lebih kalem dan balanced. Kecepatan refleks dan stamina bekurang jauh dan belum balik sampe sekarang. Hopefully gradually balik.

 

Itu tadi Urbanesse bincang-bincang kita dengan Lisa yang juga pernah menghadapi bully, walau pada saat itu bullying dari teman-temanya tersebut sangat membuat dia down, namun itu tidak membuatnya menjadi pribadi yang buruk di masa depan. Buktinya sekarang temanku Lisa kini mampu menjalani hari-harinya dengan ceria, tampil pede dengan bakat dan kecerdasan yang dimilikinya. Semoga cerita Lisa mampu menginspirasi dan memberi semangat Urbanesse yang mungkin pernah mengalami masa-masa sulit ketika di bully.
And Always Remember “Kawan itu bukan Lawan”.
Berhenti melakukan Bullying terhadap orang lain di manapun..!



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.