Born to Believe : Pembelajaran Ilmiah Tentang Keimanan


Monday, 30 Nov -0001


 

Kita secara harfiah mengarang kisah hidup kita, dunia dan realitas secara umum. Kesesuaian antara kenangan kita dan kisah itu meningkatkan keyakinan kita akan hal tersebut. Namun, sering pula kisah itu yang menciptakan memori, bukan sebaliknya.

Keyakinan mengendalikan nyaris semua aspek hidup kita. Keyakinan menentukan cara kita berdoa, siapa yang dapat dipercaya dan siapa yang harus dihindari; juga membentuk perilaku pribadi kita serta etika spiritual kita sepanjang hayat. Namun, begitu keyakinan kita terbentuk, kita jarang mempertanyakan validitasnya, bahkan ketika kita berhadapan dengan bukti yang berlawanan. Karenanya, ketika kita bertemu orang yang memegang keyakinan berbeda, kita cenderung mengabaikan atau meremehkannya. Otak kita secara naluriah condong untuk membuang informasi yang tidak bersesuaian dengan pengalaman dan pengetahuan kita sebelumnya. Singkat kata, kepercayaan lama susah hilangnya.

Buku yang berjudul Born to Believe karangan Andrew Newberg dan Mark Waldman, mengulas tentang pencarian biologis kita akan makna, spiritualitas, dan kebenaran. Pada Bab I dibahas tentang bagaimana cara otak mencipta realitas. Mengapa hal ini penting dipelajari? Tidak lain karena semua informasi harus diolah di dalam otak terlebih dahulu sebelum akhirnya menghasilkan satu “kepercayaan”. Bab II membahas tentang perkembangan pada masa kecil dan moralitas. Pembaca diajak untuk memahami perkembangan keyakinan pada masa kanak – kanak dan rentang moral. Bab III pembaca diajak untuk menghubungkan antara otak dengan keyakinan spiritual.

Buku ini cocok untuk latihan mengelola cara berpikir dan mengubah cara pandang kita terhadap suatu perbedaan. Tentu saja, sebelum membaca buku ini kita harus mau membuka pikiran kita untuk hal – hal baru. Pembaca akan menemukan banyak bahasan sensitif mengenai agama dan keyakinan. Namun buku ini tidak menghakimi satu ajaran agama tertentu karena ilmu pengetahuan bersifat universal dan kembali kepada pertanyaan mendasar : apa sesungguhnya yang Urbanesse yakini dalam hidup ini?

 



Vincentia Archi Persita Wulan Ari

I am passionate traveler. Travel formed me as much as my formal education. (David Rockefeller)

No Comments Yet.