Big Crisis Generates Bigger Joy


Monday, 30 Nov -0001


Aku dilahirkan sebagai seorang anak yang penuh kasih sayang. Setiap weekend selalu ada acara keluarga, makan-makan. I'm so happy karena aku gak pernah dilarang makan ini itu. Gak heran kalau akhirnya aku tumbuh menjadi anak perempuan yang badannya lebih besar dibanding anak-anak lain.

Dari SD sampai SMA kelas 1, aku tumbuh menjadi perempuan dengan berat badan di atas rata-rata. SMP saja beratku sudah 70 kg. Dalam pertemanan, aku tidak pernah ada masalah,tapi pada saat anak-anak lain mengenal yang namanya 'cinta monyet' aku hanya bisa berangan-angan.

Sampai akhirnya aku punya pemikiran laki-laki itu hanya suka dengan wanita bertubuh langsing. Aku mulai punya perasaan kesal dengan bentuk tubuhku yang besar, dan setiap kali kesal, aku pasti makan, dan akhirnya bertambah besarlah tubuhku

Masuk SMA, masih sama saja situasinya, banyak sahabat tapi gak ada tuh yang namanya cinta-cintaan. Mulai ada komentar-komentar gak enak di kuping karena badanku yang bertambah berat. Gendut, kingkong, babon - sering banget dilontarkan mulut orang-orang iseng.

Untungnya, saat kelas 2 SMA, tahun 1991, orangtuaku mengirim aku sekolah ke Amerika. Bahagianya di sana karena banyak banget orang gemuknya, bahkan ada yang lebih besar dari aku.

Merasa nyaman dengan lingkungan baru, aku tidak lagi merasa sedih dengan badan gemuk. Aku lebih rileks, apalagi saat itu ada sebuah talk-show di Amerika, "OPRAH". Aku lihat Oprah itu  gemuk, berkulit hitam dan kalau mau dibilang cantik juga tidak, tapi dia sangat cerdas. Bertambah nyamanlah diriku. Oprah menjadi idolaku, dan aku merasa sama sekali tidak ada masalah dengan tubuhku yang gemuk.

Awal tahun 94 aku kembali ke Indonesia, setelah selesai sekolah di Amerika dan kemudian melanjutkan kuliah di bidang travel and tourism di Perth, Australia. Situasinya sama, di luar sana banyak juga perempuan-perempuan gemuk yang mudah mendapatkan baju dan kata-kata ejekan tidak pernah aku dapatkan.

Yang jadi masalah adalah pada saat aku kembali ke Indonesia tahun 1997, berusaha mencari pekerjaan dengan berat badan di atas rata-rata, 95 kg. Ternyata dengan ijazah yang aku punya cukup cepat mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan travel asing di Jakarta.

1 masalah selesai, masalah baru pun muncul, aku tidak punya baju yang cocok untuk aku dan aku disuruh pulang oleh manager-ku. Dia bilang, “Ririe, kamu pulang dulu deh ganti baju, ini kantor bukan tempat main, coba belajar pakai baju yang benar.” Perkataan itu benar-benar membuatku sedih. Akhirnya aku pulang, lalu cerita sama mama. Aku mulai pinjam blazer-blazer koleksi mama.

Bukan hanya tentang mengenakan baju yang tepat, ternyata bentuk tubuhkupun dibahas oleh manager-ku saat itu. Mulailah aku diet, dari teh pelangsing sampai obat-obat pelangsing, akupuntur bahkan pil diet mulai aku kenal.

Aku benar-benar marah dan tidak suka dengan tubuhku yang gemuk, aku bahkan menangis, merasa kesal, kenapa badanku gemuk? Aku menyalahkan keadaan. Aku pernah tidak makan nasi selama 3 bulan, hanya makan pepaya dan akhirnya turun 15 kg. Namun tidak lama setelahnya, aku kena typus, setelah itu badanku malah bertambah besar.

Yang menyadarkan aku adalah tulisan tentang Oprah di salah satu majalah. Aku membaca lagi tentang idolaku yang pernah aku lihat show-nya selama sekolah di Amerika. Aku membaca tulisan tentang drinya, dan itu yang membuatku sadar. Perubahan itu datangnya harus dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Aku mulai merubah cara berpikir.

Aku berhenti diet aku lebih menikmati hidup. Cara berpikir pun aku rubah, lebih mau hidup sehat saja, lebih banyak makan sayur dan buah, dan kalau berat badan turun, itu bonusnya. Aku mulai menyukai fashion, melihat model-model baju yang pantes untuk orang berbadan gemuk. Jatuh cinta pada diri sendiri itu indah. Lalu aku mulai berpikir untuk membuat sebuah komunitas yang isinya orang gemuk, yang didalamnya nanti bisa saling memotivasi dan berbagi info-info positif seputar fashion, kecantikan dan kesehatan.

Sejak jatuh cinta pada diri sendiri. dan menghargai tubuhku, hidupku jauh lebih indah. Aku bahkan punya pasangan hidup yang ganteng, bisa punya komunitas yang anggotanya hampir 6ribu orang di seluruh indonesia dan menulis buku dengan judul “Cantik Itu Ejaannya Bukan K.U.R.U.S” yang sebentar lagi akan terbit. Bahkan aku mulai belajar merancang gaun-gaun pengantin untuk perempuan-perempuan bertubuh besar.

Pakailah kekuranganmu menjadi kelebihanmu, caranya adalah body respect, self respect, smile and falling in love with the person inside you. Itu akan membuat semuanya menjadi lebih indah.

Urbanesse, sejak Riri merubah cara pikirnya, ia mulai bisa jatuh cinta pada diri sendiri. Sejak itu pula lah, Riri dapat menjalani hidupnya dengan lebih penuh sukacita, walaupun bagi sebagian besar wanita, berutubuh besar merupakan masalah. Malah Riri menjadi inspirasi bagi wanita bertubuh besar lainnya agar tetap memiliki gaya hidup sehat dan bersukacita selalu. Pemikiran Riri bahwa pria itu jatuh cintanya pada wanita yang langsing juga tidak terbukti, sekarang Riri sudah menikah dengan seorang pria yang menurutnya ganteng. Jadi, dengan mencintai diri sendiri Riri bisa menjalani hidupnya dengan sukacita, itu kuncinya!



Unknown

No Comments Yet.