Bertahun-tahun Menerima Bully di Kantor, Membuatku (Sempat) Hilang Rasa Percaya Diri


Monday, 30 Nov -0001


Ini berawal dari bully yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Sejujurnya selama kurang lebih 8 tahun saya bekerja, saya tidak ada kepikiran untuk berpolitik di kantor, untuk naik jabatan atau sekedar mengajukan permohonan gaji agar dinaikan sesuai dengan SOP perusahaan saja tidak.  Karena memang tujuan saya hanya bekerja dan bekerja. Kalau Ibu saya bilang Ikhlas saja jangan mengharap dulu lebih, Tuhan akan beri jalan. Ucapan Ibu selalu saya pakai.
 

Tiap meeting saya selalu dimintai pendapat oleh atasan tentang dinamika dan aturan-aturan kantor, karena memang awal karir saya dulu bekerja sebagai HR Assistant. Setiap pendapat saya memang disetujui atasan yang saya sebut Ketua, tapi tidak pernah disetujui apalagi dijalankan oleh manager termasuk staf lain di bawahnya. Alasannya, karena kantor saya tersebut merupakan lembaga yang katanya “peduli dengan masyarakat dan tujuannya tidak mencari keuntungan” dan belum pantas menerapkan cara kerja layaknya coorporate dan profesional. Contoh kecilnya pendapat saya yang ditolak oleh mereka adalah aturan jam kantor. Dalam SOP jelas aturannya Eight to five tapi mereka kompromikan semaunya masuk kantor dengan alibi yang penting hari itu kerjaan ada outputnya, tanpa adanya pengecekkan pekerjaan dan ingat ini adalah lembaga yang tidak mencari keuntungan.
 

Sistem evaluasi dan pengukuran kerja karyawan di kantor tersebut dengan menggunakan sistem buka aib alias face to face di depan staf lainnya saling mengoreksi, saling mengomentari baik atasan ke bawahan dan bawahan ke bawahan lainnya. Parahnya ajang evaluasi dijadikan ajang untuk saling buka aib. Tidak heran tiap ada ajang evaluasi staf, yang berkuasa dan dominanlah yang paling senang karena bisa mengungkap aib rekan lainnya, iya kalau yang dievaluasi terkait pekerjaan/jobdesknya plus memberikan solusi. Tetapi yang ada mereka hanya mengorek dan menjatuhkan satu rekan dengan rekan lainnya yang sifatnya personal, yang tidak fair adalah orang yang paling banyak kena evaluasi tidak bisa memberikan/mengomentari balik orang yang mengevaluasi lagipula orang yang mengevaluasi itu pekerjaan dan kedisiplinannya malah lebih buruk dan tidak beres dari yang dievaluasi.  Buat yang kena evaluasi dengan cara seperti itu pasti ada tekanan batin tersendiri.
 

Pada saat itu saya lah yang kerap dijadikan bulan-bulanan tiap evaluasi, sejujurnya dari ajang evaluasi tersebut saya jadi minder dan tidak percaya diri. Saya jadi tidak pede memberikan pendapat saya ketika rapat, karena saya pikir, pendapat saya sudah pasti mereka tolak dan buat apa jika itu menjadikan mereka makin memojokkan saya.  Meski demikian saya terus saja bekerja dan kerja saja, saya coba untuk tidak peduli lagi dengan apa kata mereka tentang saya. Mau saya dibilang teralineasi, mau saya dibilang otak coorporate yang tidak tahu tempat, mau saya dibilang karyawan sok dekat dengan atasan. saya tidak peduli, saya coba untuk tidak sakit hati atas ucapan mereka pada saya.
 

Entah anugerah atau bencana disaat bully dari manager dan staf lain pada saya,  pada saat itu, atasan saya menaikkan jabatan saya menjadi staf program (tadinya staf teknis administrasi). Itu saya dapatkan dengan usaha sendiri, tanpa mengetek orang lain, tanpa harus menjilat atau cari muka pada atasan. Saya sempat bertanya pada atasan saya tersebut kenapa saya dinaikkan jabatan, sedangkan teman-teman banyak yang tidak setuju dengan setiap pendapat saya. Atasan saya hanya jawab “kamu layak untuk dikembangkan, karena kamu sebenarnya mampu” ucapnya.

“Kamu buktikan bahwa kamu bisa” mendengar ucapan tersebut saya bersemangat sekali, untuk terus maju  memegang program ini. Pada jabatan dan otomatis gaji yang baru itu saya pun makin di jauhkan oleh rekan-rekan saya. Entah apa yang ada di pikiran mereka, saya tidak menjatuhkan mereka yang ada mereka yang kerap menjatuhkan saya tiap
internal meeting. Saya juga bukan orang yang cantik, pintar dan berbobot dibanding mereka, tapi mengapa mereka begitu tidak menyukai saya?


Tahun demi tahun pun terus bergulir dan saya tetap mencoba tough dan terus bekerja dengan baik tanpa menggubris perlakuan mereka ditiap harinya mapun tiap rapat, karena saya pikir saya tidak peduli mereka tidak suka. Saya bekerja dan bertanggungjawab bukan pada mereka melainkan pada lembaga saya. Berkali-kali juga mereka mengintimidasi atasan untuk menurunkan gaji saya tapi usaha mereka tidak ada yang berhasil, Tuhan Maha Tahu niat buruk hambanya. Jabatan saya dinaikkan lagi menjadi Ass. Coord.Program.
 

Pada 2013 saya dipercaya menjadi Koordinator Program dan puncak ketidaksukaan mereka pada saya ada ditahun tersebut. Di mana mereka membuat fitnah keji yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh kalangan terpelajar seperti mereka. Saya dikambinghitamkan sebagai pelaku adanya teror meneror yang terjadi di kantor. Jadi cerita singkatnya di kantor saya ada teror yang dilakukan oleh stranger via sms kaleng kepada istri salah satu staf (yang notabene yaaa dia juga memang tidak menyukai saya). Teror tersebut mengatasnamakan salah satu orang kantor saya yang tidak mau menyebutkan nama. Entah pikiran apa yang ada di kepala orang-orang seisi kantor, mereka lalu membuat cerita bersambung dan bergosip di belakang kalau saya lah pelaku teror tersebut.

Tidak ada yang berani menanyakan langsung ke saya untuk meminta konfirmasi atau klarifikasi kebenarannya termasuk teman saya yang istrinya kena teror tersebut, mereka (para staf) malah asyik bergosip dan mengembangkan ceritanya layaknya sinetron. Saya tahu gosip tersebut dari Ibu yang biasa bersih-bersih kantor, ibu tersebut yang menanyakan ke saya tentang fitnah keji tersebut. Mendengar cerita tersebut saya langsung lemas dan menangis, kenapa tega banget ya mereka menghalalkan segala cara agar membuat saya tidak betah di kantor dan tersingkir. Saya coba minta ditengahi oleh Kepala Kantor tapi sayangnya tidak ada tindak lanjut yang berarti, yang ada fitnah tersebut terus berkembang. Saya merasa sendirian di kantor itu, semua yang ada di situ memakai topengnya masing-masing dan saya tidak lagi bisa membedakan mana yang asli dan mana yang topeng.
 

Saya tetap lah saya, yang meskipun menangis setiap kali mendengar tuduhan mereka saya mencoba untuk tegar, selalu berdoa semoga Tuhan memberi petunjuk dan membuka kebenarannya. Ibu saya mengatakan pada saya “Teruslah maju, jangan mundur. Kalau kita mundur berarti kita sesuai dengan apa yang mereka tuduhkan. Tetaplah baik pada mereka, biarkan mereka seperti itu kita jangan seperti mereka. Tetaplah bekerja saja fokus, Tuhan pasti akan memberi jalannya”
 

Saya terus bekerja saja dengan baik, saya belajar untuk tidak peduli dengan apa yang mereka sangkakan dan lakukan ke saya. Saya tidak akan membalas mereka, tapi saya akan buktikan bahwa yang mereka sangkakan ke saya adalah salah. Hari terus berlalu atasan sayapun kerap memilih saya untuk menjadi moderator dan fasilitator ditiap meeting dan diskusi. Rasa percaya diri saya pun kini meningkat dibanding ketika saya merasa terpuruk, sendiri karena bully dan fitnah. Beliau juga mempercayakan saya membuat paper program yang sedang dijalankan dan terlibat penulisan jurnal ilmiah dengan lembaga jaringan. Pada 2015 saya mendapat tawaran untuk bekerja di lembaga asing, atasan saya pun mendukung  saya untuk bisa terlibat aktif bekerja di sana akhirnya saya memutuskan resign dan bekerja di lembaga donor hasil rekomendasi dari atasan saya tersebut.

 

Sekarang di kantor saya yang baru semua ide dan pemikiran saya lebih dihargai. Staf lainnya pun sangat fleksibel dan murah hati, semua bekerja sesuai rule dan jobdesknya tanpa ada perasaan iri, dengki dan negatif ke orang lain dan yang utama tidak ada merasa paling tinggi atau paling lama disini. Dari pengalaman saya itu saya ingin menyampaikan satu pesan Bahwa “Jika kita mau menerima segala kekurangan di diri kita dengan tulus dan terbuka pada pembelajaran hidup serta selalu menyerahkan segala ketidakmungkinan di dunia pada Tuhan saja, saya yakin Jalan lain yang lebih baik akan terbuka dengan lebar” dan seperti yang Ibu saya bilang ke saya “tidak perlu membalasnya, tapi membuktikan bahwa mereka keliru menilai diri kita” dan kini saya sudah membuktikan pada mereka.



Kumala Sari

No Comments Yet.