Bersyukur karena aq ?Laki _ laki? untuk Wanita


Monday, 30 Nov -0001


 

Bibir ini tersenyum simpul sendiri saat saya membuka kotak masuk email saya. Ada sebuah email dari seorang teman, Jane Fransisca dari Urban Women yang meminta saya untuk mengisi rubrik artikel di website Urban Women yang bulan ini mengangkat tema Give Thanks in All Ciscumstances. Hati saya tergelitik karena ada permintaan spesial dari Jane, saya diminta menuliskan artikel ini dalam paradigma pria yang katanya selalu mengedepankan rasio dari pada perasaan. Saya takut tidak mampu memenuhi ekspetasi seperti yang teman saya mintakan ini, karena bagi saya yang belajar feminisme, Saya percaya bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan cara berpikir antara laki-laki dan perempuan. Saya percaya bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat menggunakan rasio dan perasaannya dengan sama baiknya. Kalaupun ada anggapan bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan rasio dan perempuan lebih banyak menggunakan perasaan, ini semata-mata karena konstruksi gender yang dibuat dan diinternalisasi oleh masyarakat yang menganut sistem partriakhi.

Untuk memulai tulisan ini, saya akan mengutip pemikiran Epikuros1, seorang filsuf yang lahir di zaman Helenistis. Epikuros menitikberatkan segala ajarannya pada kenikmatan. Kita bersyukur atas kenikmatan yang kita nikmati, bukan? Bagi Epikuros, kenikmatan adalah keadaan di mana tidak ada rasa sakit dan kegelisahan hidup. Epikuros menganjurkan agar orang-orang menjauhkan diri dari kesibukan politik karena kegiatan ini beresiko tinggi terhadap ketenangan jiwa. Sebaliknya, berkumpul dengan teman dan sahabat jauh lebih menguntungkan dan membantu kita sampai pada ketenangan jiwa. Di sisi lain, Epikuros juga menekankan pentingnya sikap menahan diri dari keinginan yang berlebihan. Keinginan berlebihan membawa kita pada ketidaktenangan jiwa karena kita berfokus pada apa yang kita tidak punya. Ketenangan jiwa semata-mata akan bisa dicapai bila kita fokus pada apa yang sudah kita punya. Ada 2 hal terpenting bagi Epikuros, yakni bebas dari rasa kecemasan dan menghindari perasaan yang berlebihan.

Saya bersyukur mendapat kesempatan bergabung Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Saya bersyukur mampu menolak berbagai ajakan perusahaan besar untuk bergabung tanpa rasa penyesalan. Bagi saya, bergabung dengan Komnas Perempuan di saat usia masih 21 tahun adalah hal terhebat dalam hidup saya. Lembaga ini jauh berbeda dengan lembaga-lembaga Negara lainnya. Lembaga ini lahir dari desakan masyarakat sipil yang marah melihat negara diam saja saat banyak warga negaranya yang perempuan menjadi korban kekerasan seksual di periode Mei 1998. Kerja-kerja Komnas Perempuan yang selalu berfokus pada pemenuhan Hak korban membuat saya begitu mencintai pekerjaan saya ini, tapi tidak bagi keluarga saya.

Bagi keluarga saya, saya adalah keanehan karena saya berani keluar dari pakem bagaimana seorang Tionghoa hidup di Indonesia. Tidak ada di dalam kamus orang tua saya, anak laki-laki satu-satunya ini akan berkerja di Lembaga HAM Nasional. Bagi mereka, tidak ada gunanya saya bekerja untuk Komnas Perempuan, gaji yang tidak seberapa, ditambah potensi menambah musuh, membuat mereka selalu menyisipkan kalimat, “Kapan keluar dari Komnas Perempuan?” di setiap obrolan kami. Namun, itu tidak menjadi masalah bagi saya karena saya yakin ini semua semata-mata karena ketidaktahuan orang tua saya tentang kerja-kerja Komnas Perempuan2.

Sudah hampir 3 tahun, saya di Komnas Perempuan, bekerja dengan dan untuk korban. Banyak pengalaman yang saya dapatkan yang tidak mungkin akan saya dapatkan bila waktu itu saya mengiyakan satu saja ajakan dari perusahaan swasta untuk bergabung dengan mereka. Rasanya pasti tidak akan sama. Dari kerja-kerja dengan korban, saya belajar tentang apa yang paling penting dalam hidup ini, yakni bebas dari rasa kecemasan. Rasa kecemasan yang membuat tidur mereka tidak tenang, seperti yang dikemukakan oleh Epikuros tentang puncak kenikmatan.

Keinginan untuk menghilangkan rasa cemas dalam hidup inilah yang mendorong saya untuk melangkah lebih dalam bersama Komnas Perempuan. Saya tidak cemas belum mampu membangun rumah, saya baru akan cemas bila ada kelompok minoritas agama yang tidak mampu membangun rumah ibadahnya walau Negara ini sudah menyatakan akan melindungi setiap warga negara untuk beribadah. Saya tidak cemas bila saya bisa berpesta di malam hari, saya akan sangat cemas bila ada aturan jam malam di Indonesia yang membatasi gerak perempuan di malam hari.

Saya  ingat dengan sebuah tulisan di buku Aku Memilih Damai yang diterbitkan oleh Komnas Perempuan. Buku itu berisi cerita lima perempuan, salah satunya Andy Yentriyani. Andy Yentriyani, seorang perempuan Tionghoa, saksi tragedi Mei 1998 yang kemudian menjabat menjadi Komisioner Komnas Perempuan periode 2010-2014. Ada satu paragraf yang sangat menarik. Paragraf ini bercerita tentang bagaimana Andy menjadikan rasa kecemasan menjadi motivasi untuk bekerja menghilangkan rasa kecemasan itu sendiri, kira-kira begini bunyi paragraf tersebut:

 

“Hari ini sudah aku putuskan, Aku tidak mau lagi hidup sebagai orang yang tunduk dan selalu  ketakutan, hanya karena bermata sipit dan berkulit kuning, hanya karena menjadi seorang perempuan. Setiap orang seharusnya dapat hidup sebagai seseorang yang punya hak yang sama dengan yang lainnya, sebagai manusia, sebagai warga negara sah di negeri ini.”

 

Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari Komnas Perempuan. Saya lebih bersyukur lagi karena saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kerja-kerja penghapusan kecemasan korban yang merupakan esensi terpenting dari raya syukur.

 

* Elwi Gito, lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara yang kini mewakafkan dirinya untuk kerja-kerja penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Komnas Perempuan. Dapat ditemui melalui akun twitter @elwielwi

1. https://books.google.co.id/books?id=uDgwYhPsab8C&pg=PA82&lpg=PA82&dq=epikuros+surat&source=bl&ots=yh8LhRg6xv&sig=AqrMf2x5Jv04Jx2EfIcgRBU30lg&hl=id&sa=X&ei=OeGbVcPdIsyu0ASoiIvYBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=epikuros%20surat&f=false

2. http://cresposuper.blogspot.com/2014/08/ah-mama-tidak-mengerti.html  



Angel

No Comments Yet.