Bersyukur Setiap Saat


Monday, 30 Nov -0001


If I were to say, 'God, why me?' about the bad things, then I should have said, 'God, why me?' about the good things that happened in my life. –Arthur Ashe

 

Di atas adalah kutipan yang sangat popular dari Arthur Ashe, legenda tenis Amerika Serikat, petenis kulit hitam pertama yang masuk dalam tim Davis Cup AS. Ashe mengatakan hal tersebut tak lama setelah dia didiagnosa menderita HIV-AIDS—penyakit yang paling ditakuti pada decade 1980-1990-an—Tentu Ashe begitu gundah, mungkin juga marah. Meski seorang pesohor, Ashe bukanlah tipikal atlet kondang yang gemar gonta-ganti pasangan atau bergaya hidup dengan potensi terkena HIV yang besar. Dia terkena penyakit itu akibat transfusi darah saat menjalani operasi bypass jantung pada awal 1980-an.

 

God, why me? Tuhan mengapa saya yang terkena musibah ini? Sebagai umat beragama dan percaya pada karya Ilahi, Ashe tentu juga yakin, semua ini adalah kehendak Tuhan. Mengapa dia yang terkena? Hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Tapi bagi Ashe, dia punya pemikiran lain. Dia sadar, saat semua kejayaan duniawi datang kepada dirinya, dia tidak pernah bertanya, Tuhan mengapa saya yang juara? Dia tidak pernah menggugat, Tuhan, mengapa saya diberi begitu banyak berkah sepanjang hidup saya? Oleh sebab itu kalimat tanyanya berlanjut, then I should have said, 'God, why me?' about the good things that happened in my life, Tuhan mengapa semua hal baik ini juga terjadi pada saya?

 

Jauh sebelum Ashe terkena HIV-AIDS, Tuhan memang begitu “baik hati” padanya. Lahir di Richmond, Virgina, AS, 10 Juni 1943, Ashe menjadi petenis kulit hitam pertama yang mampu menembus dominasi kulit putih di ajang grandslam Wimbledon, US Open dan Australia Open. Dia juga menjadi petenis kulit hitam pertama yang mampu menduduki kursi petenis nomor satu dunia. Saat pensiun dari dunia tenis, namanya diabadikan menjadi salah satu stadion di Flushing Meadows, arena yang dipakai untuk seri Grand Slam US Open. Jadi, nikmat dan berkah apa yang hendak dia sangkal atas pemberian Tuhan?

 

Menyimak perjalanan hidup Ashe, dalam hidup seringkali kita hanya fokus, dan terutama menjadi ingat Tuhan manakala sedang kesulitan, sedang kesusahan, tengah ditimpa musibah. Kita mengeluh, kadang mempersalahkan Tuhan, mengapa semua kesulitan hidup ini terjadi pada saya? Kita lupa, saat kejayaan datang, saat rejeki berlimpah, saat kasih sayang orang-orang di sekitar kita mengalir bak sungai di musim hujan, kita tidak mengucap syukur. Kita lupa. Kita tidak bertanya dengan tajam mendaras, Tuhan, mengapa semua kebahagiaan ini datang kepada saya?

 

Ibu saya, seorang beretnis Jawa yang dibesarkan di lingkungan susteran di Solo, Jawa Tengah, selalu mengatakan hal yang kurang lebih sama. Menurut dia, hidup seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. “Kalau sedang di atas, ingat yang di bawah. Kalau sedang di bawah, ingat bahwa ada yang lebih sulit dari hidup kita di luaran sana,” Dulu saya tidak pernah memahami sepenuhnya nasihat sederhana ibu saya yang sekarang sudah sangat sepuh itu. Kalimat seterusnya yang saya ingat adalah, dalam hidup jangan hanya melihat ke atas, lebih seringlah melihat ke bawah, ujar ibu dengan bahasa jawanya yang lembut.

 

Setelah beranjak dewasa, terutama setelah memasuki dunia kerja, saya baru paham maksud nasihat-nasihat ibu saya itu. Intinya, apapun yang kita terima, kita capai  dalam hidup, bersyukurlah, jangan pernah mengeluh. Terutama berkaitan dengan rejeki, bersyukurlah dengan apa yang didapat sepanjang sudah diupayakan secara maksimal. Sebab, uang dan harta duniawi tidak akan pernah cukup tanpa rasa syukur. Begitu kita bersyukur, saat itu pula kita merasa semuanya tercukupi, sekecil apapun rejeki yang kita dapat. Saya teringat nasihat ibu, rejeki sekecil apapun kita syukuri jika melihat misalnya orang-orang yang tidak seberuntung saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak kawan saya yang lama menjadi pengangguran sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang pas-pasan. Nah, inilah inti melihat ke bawah…kita bersyukur karena mendapat rejeki yang lebih baik.

 

Sebaliknya kita hanya akan mengeluh jika “lebih banyak melihat ke atas”. Maksudnya, saya akan iri hati, dengki dan menjadi tidak bahagia dengan gaji saya jika membayangkan kawan-kawan saya yang bekerja di industry keuangan. Kala itu, awal 1990-an, ketika sector keuangan Indonesia (perbankan, bursa saham dan futures trading) mengalami booming, gaji di industry keuangan rata-rata besarnya 3-5 kali lipat (fresh graduate) dibandingkan industry media dimana saya bergelut. Melihat ke atas, membandingkan dengan kawan-kawan yang bergaji besar dengan mobil-mobil mentereng, pasti membuat saya iri, marah pada keadaan dan mengeluh. “Gelar sarjana sama, pendidikan sama (bahkan IPK saya lebih bagus, hahaha), kok gaji saya lebih kecil…kecil banget dibanding mereka?”. Tapi saya kemudian ingat nasihat ibu, jangan memandang ke atas, pandang ke bawah dan bersyukurlah…

 

Setelah 25 tahun menggeluti dunia media massa sebagai jurnalis, kini justru saya yang merasa lebih beruntung dibandingkan sebagian besar kawan-kawan saya yang secara materi jauh lebih makmur, lebih kaya raya dengan harta yang nyaris tidak pernah saya bayangkan. Tentu ini hanya perasaan saya, karena pastilah kawan-kawan saya tadi juga merasa sangat berbahagia dengan semua  berkah Ilahi yang mereka peroleh. Namun kembali pada konteks bersyukur setiap saat, saya kini merasa sangat bahagia.

 

Hal itu saya dapat misalnya dari hal-hal besar sampai hal kecil dalam pengalaman sebagai jurnalis. Saya punya kesempatan langka keliling dunia karena pekerjaan saya sebagai pewarta. Saya mengunjungi pelosok dunia, dari negeri yang paling miskin Kamboja sampai negara super kaya Amerika Serikat, nyaris tanpa keluar biaya karena semua dibiayai kantor atas nama tugas liputan. Saya pernah bertualang di hutan rimba raya Amazon, meliput Piala Dunia sepak bola, Piala Eropa dan banyak lagi. Sementara kawan-kawan saya, mungkin bisa juga keliling dunia, tapi pakai biaya sendiri…(hahahaha).

 

Hal kecil misalnya, saya bisa bekerja memakai celana pendek di kantor, bisa ber t-shirt ria, bisa naik sepeda bahkan touring berhari-hari tanpa ketakutan bakal di-PHK….Saya bisa masak indomie di kantor kapanpun saya mau, saya bisa tidur di kolong kubikel saya tanpa takut akan dimarahi bos…Sementara teman-teman saya yang gajinya besar sekali, harus pake dasi tiap hari, kudu rapih, dan pasti ga bisa pake celana pendek di kantor….(hahaha)

 

 

Pada akhirnya, semua anugrah yang saya dapat, dari hal besar sampai urusan remeh temeh bercelana pendek, adalah kemampuan kita bersyukur pada setiap kesempatan. Kebahagiaan hakiki hanya bisa kita dapatkan jika terus bersyukur, menikmati setiap tetes berkah yang diberikan Tuhan kepada kita…..(Anton Sanjoyo, jurnalis Kompas) 



Anton Sanjoyo

Wartawan, penikmat sepakbola & kolumnis olahraga. Sesekali komentator dan analis olahraga di televisi nasional.

No Comments Yet.