Bersabarlah Menunggu Cinta Sejati


Monday, 30 Nov -0001


Patience is not about waiting, but the ability to keep a good attitude while waiting and patience is not the ability to wait, but how you act while you’re waiting

Menunggu, entah itu cuma lima menit, satu jam, sebulan bahkan setahun membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi menunggu tanpa ada kejelasan dan kepastian, itu rasanya seperti berabad-abad lamanya. Bosan? Tentu. Capek? Banget. But, mau bagaimana lagi, menunggu adalah proses yang harus kita lalui dalam hidup. Tapi kok rasanya berat banget ya? Kapan nih beneran terwujud? Well, siapa pun pernah mengalami masa frustasi seperti itu. Iya karena kita terlalu berfokus pada “menunggu”, tanpa berusaha menikmati proses tersebut. Analoginya seperti ini, saat kita travelling, banyak hal yang kita lakukan sejak awal, selama perjalanan hingga sampai tempat tujuan; mulai dari cemas & takut pesawat delay, melamun, membaca buku, berbicara dengan stranger, hingga menikmati perjalanan.

Nah, jadi kesabaran bukan hanya menunggu itu, tetapi tentang apa yang kita lakukan selama proses menunggu itu. Lalu harus menunggu sampai kapan? Bukankah sabar itu ada batasnya? Yupz, pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang membuat kita tertekan. Padahal sabar itu tidak berbatas. Sabar tidak memiliki batas minumum atapun maksimum. Sabar tidak berujung hingga sebuah jawaban itu datang, hingga sebuah impian itu terwujud. Begitu juga  masa penantian jodoh. Ya untuk masalah yang satu ini sensitif banget. Apalagi di Indonesia dengan budaya timurnya yang menjunjung tinggi pernikahan. Bagi para perempuan yang sudah di atas 25 tahun, siap-siap saja ditanya perihal jodoh. Apalagi pas acara keluarga atau acara reuni, yang lain sudah bawa pasangan, kita masih datang sendirian.

Pengalaman saya yang terlahir dari suku Banjar, dimana dalam budaya Banjar nikah muda merupakan suatu pencapaian. Jadi tidak heran apabila dalam keluarga saya rata-rata menikah di usia awal 20-an, bahkan ke dua orang tua saya menikah pada usia Mama 18 tahun dan Abah 23 tahun. Sangat muda sekali. Nah, bagaimana orang tua tidak khawatir apabila anak perempuan satu-satunya belum menikah di usia 27 tahun. Umur yang normalnya sudah berumah tangga, sedangkan saya masih happy happy aja dengan kehidupan single. Banyak yang men-judge saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu pemilih, bahkan ada yang mengira saya trauma dengan mantan. Memang sih setelah 2 tahun putus saya belum menemukan yang cocok. Ada beberapa pria yang datang dan pergi silih berganti dalam kehidupan saya. Tapi mungkin memang belum menemukan yang click, jadi ya sudah, perasaan tidak bisa dipaksakan. Dan tentang pekerjaan saya, well saya akui ini bukan pelarian atau pengalih perhatian. I just love my job. I called it passion. Ini tidak hubungannya dengan status saya single or in relationship, I always love my job. Tapi begitulah, di mana kita berada kita harus menghormati budaya yang ada. Walaupun kadang saya tidak tahan juga menghadapi kenyinyiran orang-orang yang menjadikan status single saya sebagai bahan pembicaraan. Ada yang bilang bahwa itu bentuk perhatian. Entahlah, saya berpikir positif saja. Sempat komentar-komentar ini sukses membuat saya stress. Ditambah semua sepupu saya yang seumuran sudah menikah. Pada akhirnya saya mengambil sikap santai menanggapi tiap komentar tersebut. Saya berdoa dalam hati agar saya bisa kuat untuk sabar bertahan dalam masa penantian, tetap berharap, tetap percaya. Karena saya terlalu cuek, akhirnya orang-orang itu bosan komentar lagi.

Well, Urbanesse yang masih single, single itu bukan dosa kok, hanya norma sosial kita saja yang menganggap itu seperti sebuah aib atau cacat. Sebenarnya menjadi single banyak untungnya. Kita punya banyak waktu luang untuk diri sendiri. Puas-puasin dulu aja melakukan apa yang kita suka, mengejar karir yang kita mau, meneruskan pendidikan, dan lain-lain. Mencoba hal-hal baru. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan pada saat single. Syukuri waktu yang ada sekarang dan manfaatkan sebaik mungkin. Jangan sampai seperti seorang teman saya yang sering curhat, “Kamu enak sih, masih belum ada tanggungan, kalau aku ada anak dan suami yang harus diurus.” Nah loh, padahal sebelumnya saya berpikir bahwa kehidupan dia sudah stabil punya keluarga kecil dan tidak perlu menghadapi komentar-komentar orang. Ternyata ini hanya tentang cara bersikap. Sendiri itu kondisi, sepi itu situasi, namun kesepian pilihan hati. Meski kita sendiri bukan berarti kita merasa kesepian, karena masih ada keluarga, sahabat, teman dan bahkan saat tak ada seorang pun, kita masih punya Tuhan yang selalu menemani kita dalam proses menunggu. Makna dari menunggu adalah sabar. Jangan fokuskan pikiran pada waktu menunggu, tapi fokuskan pikiran pada hal-hal yang dapat dilakukan saat menunggu. Ketika kita menunggu untuk sesuatu hal yang layak ditunggu, dan dalam proses itu, kita belajar memiliki kesabaran. Kesabaran merupakan salah satu tanda kedewasaan, sebuah kualitas yang hanya dapat dimiliki seiring berjalannya waktu. Dan terus berdoa agar tetap memiliki kesabaran, kesabaran untuk menjadi sabar.



Unknown

No Comments Yet.