Berproses Menjadi Wanita Dewasa


Monday, 30 Nov -0001


Hai urbanesse, tema urban women kali ini adalah menjadi wanita dewasa. Bagi saya kedewasaan merupakan sebuah proses, yang dibentuk dari pengalaman hidup, baik bahagia maupun sedih. Kedewasaan tidak bergantung pada umur, karena yang usianya masih 20an bisa jadi lebih dewasa dari yang usia 30 atau bahkan 40, tergantung cara pandang dan dia bersikap.
 

Bagi saya pribadi, proses menjadi dewasa merupakan pengalaman yang cukup panjang. Melewati banyak peristiwa – peristiwa yang cukup menguras emosi. Beberapa kisahnya sudah pernah saya tulis di urban women. Apakah setelah mengalami peristiwa – peristiwa tersebut serta merta membuat saya menjadi pribadi yang dewasa dan bijak? Tidak. Saya melewati tahapan – tahapan kematangan emosional. Mungkin ini terdengar klise, tapi ya memang ini yang saya lalui, paling tidak sampai usia saya 29 tahun sekarang. Oke, tanpa perlu panjang lebar, let’s share!


Proses yang saya lewati ketika melewati peristiwa yang buruk adalah penerimaan. Mengapa penerimaan? Karena dalam tahap ini, saya menyadari dengan sepenuh – penuhnya bahwa kejadian tersebut memang sudah ditakdirkan Tuhan. If it’s mean to be it will be. Apakah langsung seperti itu? Ketika kejadian tersebut terjadi, Bang! Dan saya langsung bilang, oh okey segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya. No, ladies. Saya pun mengalami emosi yang naik turun. Menangis, galau, marah, itu juga yang saya rasakan. Namun, secara bertahap saya belajar, it’s oke not to be oke. Memang ada kalanya hidup kita tidak berjalan sesuai rencana, misalkan ketika saya putus dengan tunangan saya, padahal 3 bulan sebelumnya adik saya baru meninggal dunia. Hancur? Pastinya. Tapi dengan menerima bahwa “mungkin” memang itu lah yang harus terjadi, ya sudah. Jangan melawan, karena semakin kita melawan maka rasa itu semakin sakit. Seperti yang dikatakan JK. Rowling “understanding is the first step to acceptance and only acceptance can there be recovery”


Ketika saya sudah menerima dan melepaskan, ada perasaan damai. Innerpeace. Selanjutnya adalah memaafkan. Memahami bahwa kita adalah manusia ada kalanya juga membuat salah. Memang terkadang ada perasaan ‘how can I forgive, when it hurts so much?’. Yah, sangat wajar sekali. Namun, ingatlah bahwa luka hati yang dapat disembuhkan ketika kita mampu memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri. Memaafkan memang tidak akan merubah masa lalu, tapi ini akan mempermudah masa depan. Mengingat – ingat hal buruk yang sudah terjadi, sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Pepatah bilang “sama saja dengan menggarami luka”.  Karena memaafkan bukanlah hal yang kita lakukan untuk orang lain, namun memaafkan karena kita berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dalam diri kita. Forgive your past, forgive your self and then move on ladies. What doesn’t kill you make you stronger, right?


Lanjut ke step selanjunya yaitu move away, move on and move up. Yup, ini mantra yang diberikan Pak Mario Teguh. Tapi memang ya hidup tidak semudah petuah Bapak motivator tersebut. Yang saya alami pada tahap ini cukup penuh tantangan. Seperti yang dibilang apabila kita ingin move on, kita harus move away terlebih dahulu. Saya beruntung, karena pekerjaan saya sebagai analis laboratorium, cukup menyita pikiran, waktu dan energi. Kantor tempat saya bekerja memiliki 4 wilayah kerja, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara. Sehingga hampir tiap minggu saya ditugaskan untuk melakukan monitoring kualitas lingkungan ke daerah tersebut. Tim kami berangkat hari Selasa dan pulang hari Jumat, Sabtu atau Minggu, tergantung jarak lokasi monitoring dan jenis parameter sampel. Sedangkan hari Senin digunakan untuk laporan dan persiapan monitoring selanjutnya. Bahkan pernah, saya masuk kantor hanya 4 hari saja. Iyup, hanya tiap hari Senin. See, ketika pusat perhatian kita teralihkan kepada hal – hal positif dan kita bertanggungjawab penuh terhadap kegiatan tersebut.


Maka, yang namanya sedih, galau, beserta rombongan akan menjauh dengan sendirinya. Iya sih, kadang sesekali teringat, kadang kepikiran namun dengan cepat pula focus saya kembali kepada kualitas sampel dan kepuasan costumer. Jadi, move away itu tidak harus dengan cara menghindar. Oke, kalau dia bukan bagian dari circle kita tapi bagaimana kalau patner kerja. Masa iya harus resign, pindah bidang atau pindah divisi? Dan ini juga berlaku untuk semuanya, maksud saya tidak hanya relationship, juga untuk aspek kehidupan kita yang lain. Ladies, before you move on, you must move away, but not run away.


Then, move on.
Pasti sudah sering banget dengan kata satu ini Move on. Tapi apa sebenarnya move on. Move on bukan berarti melupakan. Ingatan tidak bisa dihapus (kecuali mengalami amnesia, demensia, Alzheimer atau gangguan otak lainnya). Kenangan dan masa lalu sudah menjadi bagian hidup kita. Lalu? Terima saja. Dan jalani hidup kita sebaik – baiknya. Saya paham dan sangat mengerti, proses move on itu tergantung pribadi yang menjalani. Saya perlu waktu 2 – 4 tahun. Tapi sahabat saya, dia mengaku hanya perlu waktu 1 bulan saja (saya belajar banyak dari dia).  Saya bukan penganut teori “waktu yang akan menyembuhkan segalanya”. Karena ada saja orang yang belum bisa move on, padahal yang dia alami sudah terjadi puluhan tahun yang silam. Mungkin karena rasa sakit yang ditinggalkan sangat dalam dan membekas.


Bagi saya pribadi proses penyembuhan merupakan komitmen. Kita berkomitmen untuk menjadi better person, itu perlu kesadaran dan tindakan nyata. Contoh yang saya lakukan, saya berusaha focus dengan pekerjaan dan berhenti stalking mantan (oke bukan berhenti, tapi mengurangi). Karena saya sadar, saya berpikir “apakah yang saya lakukan ini membuat saya bahagia?” jika tidak, hentikan! Cari hal – hal yang membuat kita merasa atau menjadi lebih baik. Selain yang berkaitan dengan pekerjaan, saya mempelajari hal – hal yang menarik minat saya. Random memang, tapi selama itu bermanfaat, why not? Saya belajar menulis, memasak, fotografi, neuro science, psikologi, marketing dan manajemen keuangan. Saya belajar itu dan saya menyukainya. Bukankah menambah wawasan juga dapat membuka cakrawala berpikir dan membuat kita menjadi lebih bijak. Bahkan ada beberapa orang dari proses move on mereka, malah menemukan passion yang selama ini terpendam dan akhirnya membuat karya. Wow! Ayolah karena patah hati tidak selalu identic dengan meyedihkan, look Adelle and her awards!


Selanjutnya move up. Nah...pada proses ini biasanya ada semacam trigger yang mengharuskan kita untuk keluar dari zona nyaman kita. Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda – beda. Untuk saya sendiri ada kombinasi antara drama kantor dan drama pribadi. Oke sedikit saya jelaskan, untuk drama kantor, yang lumrah terjadi di kantor tentang bullying, tidak dihargai atasan, envy dengan siapa yang sering dimasukan dalam tim monitoring, dan lain sebagainya. Walaupun saya nyaman dengan tugas dan pekerjaan saya, namun hal tersebut membuat saya mengevaluasi apa yang sudah dilakukan “apakah memang ini yang saya inginkan” jawabnya iya. “apakah saya puas?” 100 persen yes. “apakah saya ingin seperti ini seterusnya?” hei, wait! Saya tidak mau. Saya tidak bisa membayangkan melakukan hal yang sama selama 10 sampai 20 tahun lagi beserta drama yang sama. Oh no. Saya harus move up. Dan spesifik reason lainnya adalah drama pribadi, biasalah balada wanita single di usia mendekati 30. Tuntutan pernikahan. Saya tidak melarikan diri, I just think “di tempat ini belum bertemu, mungkin dia berada di tempat lain”. Saatnya putri keluar dari kastil. And then, saya memutuskan untuk ikut seleksi beasiswa tugas belajar dan (Alhamdulillah) diterima. Di tahun 2015, saya pun resmi tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Lingkungan. Even though saya belum bertemu dengan si calon Ph.D (perfect husband and daddy), never mind heehee. Saya menikmati hidup saya sekarang dengan drama baru lainnya (bisa dibaca di artikel bye, ladies dan keep calm miss baper). Dan pada akhirnya, jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Pencapaian yang kita peroleh sekarang tentu berbeda dari orang lain. Don’t compare your chapter one to someone else’s chapter 20. Yang terpenting adalah you must up and up.


Dari setiap permasalahan yang ada adalah belajar berfokus dengan apa yang bisa kita lakukan terlebih dahulu, setelah beradaptasi. Karena saya teringat nasehat salah satu dosen (yang Beliau juga seorang penari tradisional Jawa) “apabila kita ingin mendapatkan gerakan yang sempurna, maka lihatlah ke dalam diri sendiri, tapi apabila kita ingin harmoni maka lihatlah dan lihatlah lingkungan sekitar (music dan penari lain)”. Maksud Beliau, ketika kita ingin memiliki hidup lebih baik, maka lihatlah kedalam diri kita sendiri, namun tidak boleh egois, kita manusia sebagai makhluk social yang hidup berdampingan dengan manusia dan alam sekitar. Kita harus juga pandai membaca situasi dan kondisi. Tidak bisa dipungkiri lingkungan juga sangat mempengaruhi proses pendewasaan. Ingat,  be bold but not overbearing.

 


Well ladies,
pendewasaan adalah proses seumur hidup. Selesai yang satu, maka akan datang lagi urusan yang lain. Benar kata Lenka “trouble is a friend”. Setiap fase akan memiliki masalahnya sendiri. Dan sekali lagi setiap orang tidak akan sama.
Everyone have their own paper test. So, stay hungry, stay foolish. And remember this ladies, always ask the God, who give us the paper test, he always have the answer. The Great answer. Trust me, it’s work!



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.