Berkali-kali Dikecewakan, Membuatku Tidak Percaya Dengan Laki-laki Lagi


Monday, 30 Nov -0001


Saya jadi ingat dulu ketika sebelum saya dipertemukan oleh Tuhan dengan laki-laki seperti suami saya yang sekarang ini. Saya harus berkali-kali merasakan patah hati dan kecewa dengan pria yang dulu sempat menjadi kekasih saya. Saya memang bukan termasuk perempuan yang memiliki banyak mantan pacar seperti teman-teman saya. Saya sudah 3 kali pacaran dan suami saya adalah pacar ketiga saya. Dua kali menjalin hubungan saya termasuk wanita yang kerap berusaha harus menjadi yang teristimewa untuk pasangan dan saya selalu menganggap serius hubungan tersebut, berharap bisa menikah muda yang menjadi target saya dalam hidup. Yaaa mungkin karena saya berharap lebih dari pacar saya kala itu sampai pada akhirnya mereka mencampakkan saya dengan beragam alasannya.
 

Dengan pacar pertama, saat itu saya masih kuliah. Pacar saya adalah ketua aktivis organisasi kemahasiswaan dia juga sambil bekerja sebagai news editor freelancer salah surat kabar ibukota yang super “sibuk” katanya, dengan pacar pertama tersebut saya hanya menjalin hubungan 6 bulan saja karena menurut saya pada saat itu kami pacaran tapi tidak seperti orang pacaran. Dia datang dan pergi sesukanya. Saya harus selalu ada untuknya dan saya hanya dibutuhkan ketika dia sedang minta dibantu untuk menyelesaikan tugas kuliahnya dan disuruh-suruh untuk ke sana ke sini melengkapi segala kebutuhan dia. Pada saat itu saya berpikir,  saya harus menghormati pacar saya ini agar dia juga menghormati saya dan kami bisa terus bersama bahkan saya inginnya bisa menikah dengannya  karena menganggap dia sudah settle “kala itu”. Terus saja seperti itu hingga saya memutuskan untuk menyudahinya karena menurut saya hubungan ini tidak bermutu , masa sih saya yang ngejar-ngejar dia, kapan dia ngejar saya.
 

Dengan pacar saya yang kedua nasib nggak jauh berbeda saya rasakan bahkan lebih perih, hanya bedanya laki-laki yang kedua ini menggunakan cara lembut yang tidak terbaca oleh saya kalau dia sedang memanfaatkan saya.  Hubungan yang kedua ini saya mengaggapnya hubungan yang  “serius” di tahun 2006 hingga pertengahan 2007, karena sudah masuk sampai  1 tahun pertama. Sebut saja pacar kedua saya ini namanya Aldo (bukan nama sebenarnya) dia hanya seorang pekerja di Barbershop. Kami berkenalan ketika saya pulang kuliah berpapasan dengan dia dan akhirnya saling sapa kemudian entah bagaimana kejadiannya kita akhirnya sepakat untuk pacaran.
 

Selama menjalin hubungan dengan Aldo, dia memang sangat perhatian pada saya jauh berbeda dengan pacar saya terdahulu, menelpon saya hingga berjam-jam dan selalu menanyakan kabar saya kapanpun dan dimanapun saya. Perasaan ABG yang labil seperti saya pada saat itu senang sekali rasanya diperhatikan, disayang-sayang, dibelai-belai diberi mimpi akan dinikahi pada tahun tersebut pokoknya dibuat terbang sesaat. Tapi yang namanya perhatian berlebih seperti itu pasti ada hal yang lebih juga yang saya beri ke Aldo. Karena memang tidak ada makan siang yang gratis toooh. Selama 1 tahun bersamanya tiap bulan saya selalu mengajaknya bertemu untuk jalan-jalan, membelanjakan kebutuhannya, beli pakaian, sepatu puncaknya ketika saya membelikannya handphone cukup mahal di zaman itu dan membiayai DP untuk dia melanjutkan kuliah D3nya, hingga saya tidak pernah memiliki tabungan dari hasil kerja saya mengajar freelance sambil kuliah di beberapa pusat bimbel saat itu. 
 

Pahitnya lagi, setelah itu semua saya berikan, dia berubah menghilang dari kehidupan saya, secara tiba-tiba nomor handphonenya tidak aktif, pekerjaan sebagai barbershop pun ditinggalkannya. Dia pergi meninggalkan saya tanpa kabar, saya datangi kampusnya pun tidak pernah kedapatan untuk bisa bertemu dia. Saat itu saya merasa down dan hancur “Pikir saya saat itu semua pengorbanan sia-sia. Waktu, materi, tenaga, pikiran saya terbuang oleh laki-laki bernama Aldo, saya tidak jadi dinikahinya, setelah semua sudah saya berikan”. Dua bulan kemudian dia menghubungi saya lagi dia mengatakan akan menikah karena dijodohkan oleh orang tua di kampungnya, makinlah saya hancur, dan galau sejadi-jadinya sampai saya tidak mau lagi mengenal  laki-laki.
 

Sampai saya lulus kuliah dan akhirnya bekerja pada tahun 2009, saat itu saya benar-benar ingin fokus bekerja dan bekerja saja tanpa memusingkan urusan percintaan dengan laki-laki yang hanya memanfaatkan saya. Pikir saya saat itu semua laki-laki yaaa sepert Aldo, saya takut kenal lagi dengan orang seperti dia. Setahun berlalu saya single, saya lebih memiliki banyak waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman, saya tidak kesepian karena ada keluarga dan sahabat yang membantu saya pulih dari rasa kecewa dan putus asa karena patah hati, saya bisa menyalurkan hobbi berenang saya, lebih realistis dalam memandang hidup dan yang pasti saya bisa memiliki tabungan untuk masa depan saya dan mempunyai waktu bebas kapan saja saya mau melakukan travelling ke kota-kota yang saya suka.
 

Pada saat itu saya berprinsip “tidak mau lagi percaya dengan laki-laki karena mereka mendekati saya hanya untuk memanfaatkan saya saja” Pernikahan pada saat itu buat saya adalah “tidak mungkin terjadi”. Di pertengahan 2009 saya pun memiliki seorang sahabat laki-laki, dia bekerja di kantor cabang. Kami dekat sebagai sahabat ketika seringnya bertemu pada saat dia mengantar surat ke kantor saya. Sahabat saya ini adalah seorang office boy (OB) merangkap kurir di kantornya sebut saja namanya Dani (bukan nama sebenarnya). Meski dia hanya seorang OB plus kurir saya sangat senang bersahabat dengan dia, dia banyak membantu saya dalam mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan kantor saya, komunikasi pun intens hingga kami tanpa sadar saling curhat tentang masa lalu masing-masing dan tidak canggung untuk bercerita tentang kelemahan dan kelebihan yang ada dalam diri kami. Dia sudah memiliki pasangan, bahkan pacarnya tanpa ragu-ragu dia kenalkan kepada saya. 
 

Kami sering nonton pameran di TIM atau hanya sekedar jalan-jalan ditaman Suropati hingga kami tahu sama tahu karakter masing-masing, bahkan ketika dia sedang ribut dengan pasangannya dia menjadikan saya teman curhatnya untuk berbagi keluh kesahnya, meminta masukan dari saya.  Begitupun saya dengan padatnya pekerjaan saya, saya kerap curhat tentang pekerjaan ke dia.

Singkat cerita, Dani yang menurut saya sebenarnya memiliki otak yang cukup cerdas serta kemauan belajar yang cukup besar, saya jadi berpikir “Dani ini seandainya melanjutkan kuliah dia pasti akan menjadi orang kepercayaan bosnya, karena dia pintar dalam menyampaikan argumennya apalagi yang berhubungan dengan IT”.


Mungkin memang sudah jalannya, di kantor saya ada program pengembangan kapasitas untuk karyawan yang beruntung, kebetulan kantor Dani juga mendapat program tersebut, tanpa pikir panjang saya meminta dani untuk percaya diri mengajukan permohonan untuk mendapatkan program tersebut agar dia bisa melanjutkan kuliah lagi.  Saya bantu Dani membuat proposalnya dan mencari kampus unggulan pilihannya, dana beasiswa untuk kuliah pun turun dan ditanggung kantornya hingga beres.  Atas izin Tuhan pula akhir 2014 Dani pun lulus kuliah sarjana tepat waktu dan di wisuda. Berkah lainnya dia pun di naikkan jabatannya sebagai  IT Support di kantornya. Sebagai sahabat saya senang.


Seiring berjalannya waktu, kami semakin hari semakin dekat. Dani mengembalikan lagi rasa percaya diri saya terhadap laki-laki dan menghapus underestimate saya dengan yang namanya Love Relationship apalagi “Pernikahan”. Cara saya menyayangi dia tidak seperti dengan pacar-pacar saya sebelumnya, saya tampil natural dengan karakter saya begitu pun dia mungkin kita bisa sejalan karena berawal di persahabatan jadi sudah tidak ada yang saling ditutupi dan dibuat jaim apalagi sampai berusaha keras untuk tampil mati-matian mengambil hatinya. Dari Dani saya belajar mencintai “tanpa kompromi, seperti teman dan apa adanya diri saya”


And then
 pada awal 2015 kami sepakat untuk menikah, Perjalanan dari 2009 yang berawal dari persahabatan mendekatkan kami hingga kami bisa mengetahui sifat terburuk dan sisi terbaik masing-masing.  Saya sadari menikah bukanlah akhir tapi awal baru dari proses perjalanan hidup, saya tidak perlu takut, karena Tuhan bersama saya. Masalah memang pasti akan datang, saya dan sahabat yang kini jadi suami akan berusaha meminimalisir masalah tersebut dan sama-sama belajar mengecilkan sifat ke-aku-an. 


Jika saya ditanya Seberapa Pentingkah laki-laki dalam hidup?  Saya akan menjawabnya, “Penting tidak pentingnya tergantung diri kita yang mengontrol. Karena lelaki yang akan menjadi pasangan kita, merupakan cerminan dari pribadi kita. Tuhan akan memberi kita laki-laki baik dan hebat jika kita sudah memilih untuk menjadi pribadi yang baik dan hebat” Jika belum mendapatkan laki-laki sepert itu, Keep Calm..mungkin Tuhan sedang memberi kita jalan agar kita bisa terus memperbaiki diri, untuk menyambut pasangan yang terbaik dari yang terburuk, Maka tetaplah terus menjadi pribadi yang baik dan ikhlas”.



Anonim

No Comments Yet.