Berdamai dengan Diri Sendiri


Monday, 30 Nov -0001


CI-2014_04b-Dewi_Hughes_Berdamai_Dengan_Diri_Sendiri-img

Beberapa edisi sebelumnya, Urban Women sudah pernah ngobrol dengan Hughes tentang Kebahagiaan: Celebrate My Life Everyday dan Serenity & Attitude of Gratitude, kali ini Urban Women mendapat kesempatan sekali lagi ngobrol dengan Hughes tentang Kedamaian.

Hughes dan saya sama-sama memesan teh di sebuah toko kue di Jakarta Selatan. Ketika tehnya datang, waiter tersebut tidak sengaja menumpahkan es teh Hughes ke meja kami. Saat itu, di meja kami terdapat beberapa benda, tas bermerk yang masih baru milik Hughes, buku tebal pinjaman dari teman yang saya bawa dan 1 buah lap top milik teman kami. Tebayang kan, ada beberapa benda yang kalau terkena air, bisa rusak dan menimbulkan kerugian yang cukup lumayan? Untungnya, lap top aman, buku saya hanya kena sedikit air jadi masih bisa dikeringkan dengan tissue. Tas Hughes? Kecipratan airnya lumayan dan sedikit air masuk ke dalam tasnya, karena paling dekat dengan tempat tumpah. Herannya, Hughes menanggapinya dengan tenang, langsung ambil tissue dan membersihkan tasnya, lalu minta waiter tersebut untuk segera membersihkan meja dengan lap basah supaya tidak lengket. Terlihat jelas, waiter tersebut grogi.

Urbanesse percaya ga kalau setiap hal yang terjadi pasti ada tujuannya, bahkan yang buruk sekali pun, seperti teh tumpah tadi? Nah teh tumpah tadi, justru memudahkan kami ngobrol tentang kedamaian =)). Alasan Hughes dapat menanggapinya dengan tenang adalah karena sudah terlatih berpikir cepat menanggapi segala sesuatu, diawali dengan bertanya pada diri sendiri, “Ini masalah atau bukan?” Pertanyaan tersebut memicu Hughes berpikir, apakah kejadian tersebut layak dianggap sebagai masalah atau tidak. Jika kita bilang, it’s not a problem, then you are in the peace.

Bagaimana caranya membedakan sebuah kejadian sebagai masalah atau tidak? Menurutnya, sesuatu dapat dikatakan masalah kalau sudah tentang hidup dan mati. “Kalau tadi dia nodongin pisau, lalu miss, nah gue bisa marah. Kalau tadi kan karena careless,” Hughes menjelaskan dengan contoh kejadian tadi. Memang perlu latihan untuk memutuskan apakah itu masalah atau bukan.

Kejadian lain yang dialami Hughes adalah suatu hari ketika sedang di toko sepatu di sebuah mall dengan tas dalam keadaan terbuka dan Hughes sedang asik mencoba sepatu. Jadi, kapan saja orang bisa memasukkan tangan ke dalam tasnya dan mengambil barang didalamnya dengan mudah. Saat itu, di sebelah Hughes, ada seorang ibu yang juga sedang melihat-lihat, lalu memasukkan tangannya ke dalam tas Hughes, dan Hughes tau. Secara otomatis, conscious dan uncoscious Hughes segera bertindak untuk memutuskan apakah itu masalah atau bukan, dan memutuskan itu bukan masalah. Lalu Hughes mengambil tangan si ibu pelan-pelan dengan tenang, tanpa berteriak. Si ibu mengikuti gerakkan tangan Hughes, bergerak pelan. Tangan Hughes dan si ibu bergerak bersamaan, seirama dan perlahan keluar dari tas Hughes. Lalu Roy, suami Hughes datang dan bertanya, ada apa? Hughes menceritakan, “Ibu ini, memasukkan tangannya ke dalam tas saya.” Jawab si Ibu dengan nada tenang dan tanpa panik, “Ngga, Ibu enak aja nuduh saya.” Hughes menanggapinya dengan mimicking, mengikuti/meniru reaksi si ibu. Mimicking merupakan salah satu cara untuk membuat seseorang merasa tenang/calm. Lalu Hughes memberikan tangan si Ibu ke Roy, dan memeriksa isi tas, apakah masih lengkap atau tidak, ternyata tidak ada yang hilang. Hughes meminta Roy melepaskan tangan si Ibu. Tanggapan si Ibu? “Lain kali, jangan asal menuduh orang sembarangan,” dengan nada yang tenang dan tegas. Tanggapan si ibu ini membuat Hughes ragu, “Apakah saya sudah melakukan tindakan yang benar? Tapi saya yakin 100% tangan si Ibu tadi ada di dalam tas saya.” Hughes bersyukur karena saat kejadian tersebut, ia tidak teriak dan marah-marah, paling tidak, kalau tidak terbukti, ngga terlalu malu =)). Lalu petugas toko menghampiri Hughes dan ngasih tau kalau ibu tadi memang sering bertindak seperti itu dan belum berhasil terbukti. Informasi dari petugas toko menjawab keraguan Hughes dan meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah.  “I applaud myself,” aku Hughes karena sudah berhasil menciptakan peace dan membedakan kejadian tersebut sebagai masalah atau bukan. Bayangkan kalau Hughes tidak terbiasa be-respond cepat, tentu reaksinya akan negatif.

Jadi, hal utama yang perlu dimiliki seseorang untuk bisa memiliki kedamaian adalah bisa membedakan antara masalah dan tidak.

Hughes menceritakan bahwa menurut Sigmund Freud, ada 2 sifat dasar yang tinggal dalam diri manusia, kebaikkan dan kejahatan. Sifat mana yang lebih kuat, tergantung manusianya, mau mupuk yang mana. Kalau mupuk yang buruk, maka yang buruk yang menang dan mengontrol kehidupan Urbanesse, kalau mupuk yang baik, maka yang baik yang menang dan mengontrol kehidupan Urbanesse, pilihan ada di tangan Urbanesse J. Pilihan Urbanesse ini nantinya yang menentukan apakah Urbanesse akan menjadi seorang peace maker atau biang rusuh.

Ada banyak cara memupuk sifat baik dan sifat buruk terebut, salah satunya yang paling besar kesempatannya dan tanpa disadari adalah keadaan lingkungan sekitar. Misalnya, tayangan sinetron di TV. Umumnya  sinetron menunjukkan adegan kalau pasangan sedang ribut besar, ditunjukkan dengan saling membentak, bahkan tidak jarang dibesar-besarkan dengan kekerasan fisik seperti menampar. Contoh tersebut, tanpa  disadari mempengaruhi tingkah laku pemirsanya dalam kehidupan sehari-sehari. Akibatnya, tanpa disadari juga, saat sedang ribut besar dengan pasangannya, si pemirsa tersebut juga akan melakukan hal yang menyerupai adegan di tayangan sinetron tersebut. Dalam hal ini, tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan tayangan sinetron, hanya mengajak Urbanesse untuk lebih bijaksana memilih tayangan TV yang akan ditonton. Tidak hanya tayangan yang sengaja ditonton, yang tidak sengaja atau hanya sepintas atau sekejap mata terlihat pun dapat dengan mudahnya masuk ke alam bawah sadar manusia dan mempengaruhi tindakan sehari-harinya. Selain tayangan di TV, tingkah laku manusia yang dilihat langsung oleh mata kepala Urbanesse, baik sengaja atau tidak sengaja diperhatikan, juga berpotensi mempengaruhi tingkah laku Urbanesse dalam hidup sehari-hari. Contoh lainnya adalah, di film-film, jika seorang suami tidak menjawab telp dari istrinya beberapa kali, digambarkan bahwa sang suami sedang selingkuh. Sadar atau tidak, dalam kehidupan nyata, seorang istri yang menonton film tersebut, jika menelephone suaminya dan tidak dijawab, maka dugaan pertama kali yang muncul adalah, “Suami saya sedang selingkuh”, padahal masih ada banyak kemungkinan lain mengapa suaminya tidak menjawab telephone, mungkin si suami sedang dalam meeting penting sehingga tidak bisa menjawab telephone. Kalau sudah begini, keadaan jadi tidak enak, sang istri merasa gelisah, tidak tenang dan tidak ada kedamaian, “asik” dengan imajinasinya tentang dugaan bahwa suaminya sedang selingkuh. Tidak heran jika umumnya masyarakat bereaksi secara negatif dan tindakannya tidak orisinil, karena kejadian-kejadian negatif baik dari TV maupun lingkungan sangat mudah terekam oleh alam bawah sadarnya dan dipetik kembali saat ada sedang mengalami hal serupa.

Hughes sendiri mengakui bahwa hal ini lebih mudah baginya untuk dilakukan, mungkin karena ia sering memberikan traiining atau menulis artikel, dengan begini artinya apa yang dijadikan bahan training atau artikel sungguh-sungguh harus dipraktekkan Hughes dalam hidupnya sehari-hari, jika tidak, sama saja seperti seorang hipokrit, “Itu yang mendorong gue melakukannya. By doing it, gue akan bisa merasakannya sendiri dan bercerita ke orang lain. Working the talk, ngga OmDo. Sama ketika ngomong peace ke orang, you have to make peace,” jelas Hughes lebih lanjut.

BEDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Hughes banyak belajar tentang bagaimana berdamai dengan diri sendiri dan susah, “Rasanya sudah, tapi belum,” begitu katanya. Hal ini terjadi karena pengaruh dari media dan lingkungan sekitar, sehingga seringkali nilai baik kita dipengaruhi oleh nilai  buruk. Lalu bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri? Hughes menjawab dengan memberikan contoh ini,  A adalah peminum soda yang ingin berubah menjadi peminum air putih, apa yang harus dilakukan? Jika A terus berada di lingkungan orang-orang yang minum soda, maka setiap kali gelas A kosong, akan diisi kembali dengan soda, bukan air putih. A perlu berubah, salah satu caranya adalah mulai bergaul dengan orang-orang yang minum air putih, jadi setiap kali gelas A kosong, akan diisi dengan air putih, bukan soda. Ini yang dilakukan Hughes, secara ekstrim berhenti nonton TV sejak 5 tahun lalu, tujuannya untuk mengurangi pengaruh negatif dari tontonan televisi, sehingga memudahkan dirinya berdamai dengan diri sendiri. Urbanesse, tau ga kalau Hughes sekarang sedang kuliah S2 bidang entertainment communication, artinya ada beberapa tugas yang memerlukan dirinya nonton TV, nah lho! Lalu bagaimana dengan puasa nonton TV Hughes sejak 5 tahun lalu? Jawabnya, “Gue harus memastikan kalau acara itu memang diperlukan untuk kuliah.”

SUBLIMINAL

Menurut Hughes, hal lain yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi peace maker atau biang rusuh adalah subliminal. Subliminal merupakan bagian dari otak manusia yang bekerja di bagian alam bawah sadar. Misalnya dari kejadian teh tumpah sebelumnya, Hughes bisa saja memasukkan pesan subliminal di hari berikutnya ke teman-temannya dengan mengatakan, “L**** V****** gue kan kesirem teh kemarin, jadi kali ini pake C***nel” kesannya tidak sedang beriklan, tapi sebenarnya kalau pernyataan ini diulang-ulang akan menjadi iklan tanpa disadari. Baru saja terjadi di Amerika, ada seorang wanita yang sudah mengalami 28x operasi plastik karena terobsesi ingin menjadi Barbie. Setelah 28x operasi plastik, dokter bedah plastiknya tidak mau lagi melakukan operasi, hingga wanita ini minta supaya kepribadiannya saja yang dibuat jadi seperti Barbie. Urbanesse sangat mengerti kan Barbie itu hanya boneka, benda mati, jadi sudah terbayang juga akan seperti apa wanita ini jadinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hughes menjelaskan, “Karena figure Barbie sudah masuk ke alam bawah sadar berupa pesan, gambar dan suara yang membuat seseorang punya konsep tertentu tentang hal tertentu yang diulang terus menerus.”

Apa bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pesan subliminal ini? Bahayanya tidak langsung terlihat mata. Pernah ngga tiba-tiba Urbanesse sangat ingin makan kue coklat dari merk A, tanpa tau penyebab awalnya? Hal ini terjadi karena ada pesan subliminal yang diterima Urbanesse baik dari TV, majalah atau pun yang ada di sekitar kita, sehingga pada waktu tertentu Urbanesse merasa ingin sekali makan kue coklat dari merk A. Ada pesan subliminal yang masuk ke dalam diri manusia, sehingga dapat merubah perilaku orang-orang yang menerimanya.

Kalau setiap hari yang ditonton adalah gosip, peperangan, horor dan konflik di sinetron-sinetron, bagaimana bisa menciptakan damai? Karena pesan-pesan ini masuk ke subliminal dan Urbanesse tidak perlu nongkong di depan TV selama 1 jam, “Subliminal itu innocent, liat sepintas aja, kurang dari 1 detik, itu sudah masuk ke alam bawah sadar kita, dicatat oleh subliminal,” Hughes menjelaskan.

Subliminal merekam setiap hal secara detail, sehingga jika dihipnoterapi, dan ditanya berapa jumlah cake yang ada di tempat kami ngobrol, maka Hughes atau saya dapat menyebutkan jumlah yang tepat. Subliminal itu seperti spons yang menyerap apa pun. Dampak yang dialami dari pesan subliminal mungkin tidak langsung dirasakan, tapi akan dirasakan di masa depan.

Urbanesse pernah ga tiba-tiba merasa bete, pengen marah, ga mood, atau tiba-tiba kesel? Kalau pernah, coba diingat-ingat lagi, sebelumnya habis denger atau liat apa? Bukan baru-baru ini atau kemarin, bisa saja minggu lalu, bulan lalu bahkan bertahun-tahun lalu. Mungkin Urbanese akan berpikir, “PMS kalii,” hal ini juga yang saya tanyakan ke Hughes. Hughes menjelaskan bahwa ini tidak 100% benar, justru merupakan salah satu pesan subliminal yang tertanam bahwa setiap orang PMS akan mengalami hal-hal tersebut, sehingga setiap kali PMS reaksinya, “Hmm bete nih gue, bete,” Hughes mencontohkan. Padahal belum tentu, coba dilawan dengan berkata pada diri sendiri, “Emang gue mau dapet, tapi I’m happy,” Hughes kembali mencontohkan. Lalu bagaimana dengan wanita yang sudah BT dulu lalu baru sadar kalau tanggal tersebut adalah periode PMS? “Sama saja, ini juga akibat dari pesan subliminal, kepercayaan si wanita berubah, memang benar ada reaksi-reaksi hormonal, tapi ditambah juga dengan pembenaran-pembenaran dari subliminal. Mungkin saja kemarinnya baru nonton film drama tentang si cowo nyeleweng lalu naik kapal, kapalnya meledak. Setelah nonton itu, kan nangis-nangis, ini yang membuat diri kita sulit memiliki damai. Cara ngebersihinnya dengan meyakinkan diri sendiri bahwa saya sedang ada dalam keadaan damai. Itu juga masih bisa kebawa mimpi,” Hughes menjelaskan.

BAGAIMANA CARANYA MEMILIKI INNER PEACE?

Menurut Hughes, supaya punya inner peace, ada 2 cara yang dapat dilakukan, pertama adalah harus memastikan bahwa Urbanesse mampu mengontrol  pikiran sendiri, your power is in your mind. Kalau sedang dalam keadaan sadar memang mudah mengontrol pikirian, bagaimana kalau sedang tidak sadar? “Perlu banyak menanamkan sugesti positif ke diri sendiri. Pastikan pikiran-pikiran yang muncul di kepala lo adalah hal-hal positif, salah satunya adalah dengan bersyukur. Seperti kejadian tadi, ‘untung airnya ga masuk ke tas’.  Find something positif in everything happening in your life. Ini bener-bener ga bisa lo dapetin kalau membobardir diri sendiri dan subliminalnya dengan hal negatif,” Hughes menjelaskan.

Yang kedua adalah rekonsiliasi dengan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu. Jika tidak rekonsiliasi dengan masa lalu, Urbanesse tidak akan mendapat apa pun di masa kini maupun masa depan. Caranya? Dengan memaafkan masa lalu dan apa yang ada didalamnya. Banyak cara untuk rekonsiliasi, sederhananya seperti ini, semua orang pasti tau kalau Hughes berbadan besar dan tidak menganggap ini sebagai masalah. Misalnya, kalau hal ini jadi masalah buat Hughes,maka tanggapannya kira-kira akan seperti ini, “Ngga koq, gue ngga gendut,“ daripada bereaksi seperti ini, Hughes lebih memilih bereaksi seperti ini, “It’s oke, say whatever you want to say, im fine”, karena Hughes mau make peace. Dengan mengatakan it’s oke, akan lebih mudah untuk rekonsiliasi.

Bagaimana caranya supaya tidak melenceng, karena beda tipis dengan tidak bisa menerima kenyataan. Hughes kembali memberi contoh, ada orang kurus tapi bilangnya saya gendud, lalu sibuk diet, padahal tidak ada bagian mana pun dari dirinya yang menunjukkan kegendutan & waktu disuruh mengakui kalau dirinya kurus, ia tidak mau, karena merasa gendut. Ini yang namanya tidak menerima kenyataan. “Kalau gue kan emang  gendut, gue terima dan bilang it’s ok. It’s oke to be a big human being yang punya good heart & soul,” Hughes mencontohkan dirinya yang bisa menerima kenyataan.

Jadi, untuk bisa memiliki kedamaian dan menciptakan suasana damai dengan keadaan di sekitar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. Jika sudah bisa melakukan diri sendiri, artinya Urbanesse sudah bisa menerima dan memahami diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan begini, Urbanesse akan lebih bisa mengangani diri sendiri dengan jauh lebih baik. setelah itu, hal kedua yang perlu dimiliki adalah kemampuan untuk dapat memutuskan dengan cepat apakah sebuah kejadian merupakan masalah atau tidak. Selamat mencoba J.



Unknown

No Comments Yet.