Belajar Jadi Perempuan


Monday, 30 Nov -0001


Lahir dengan gender perempuan tidak otomatis membuat seseorang punya gaya dan cara hidup seorang perempuan. Saya sendiri mengalami hal ini. Baru ketika di usia 20-an saya mulai menghidupi identitas ini dalam keseharian saya. Memang agak terlambat. Baru belakangan saya belajar untuk mengembangkan hal-hal yang ada dalam kepribadian saya sebagai perempuan. Ternyata, rasanya menarik! Ketimbang sekedar mengetahui bahwa saya ber-gender perempuan untuk hanya menuliskannya pada formulir biodata, tanpa memaknai arti kewanitaan itu sendiri. Yang saya temukan, menjadi perempuan itu butuh belajar dan proses ini memang tidak akan pernah berhenti.

Bagaimana saya belajar menjalani peran saya sebagai perempuan? Dimulai dengan hal yang simple. Setiap hari saya belajar membangun kesadaran akan identitas saya. Hal-hal yang saya rasakan dan alami dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebuah petualangan, tempat saya berlatih.

Saya bisa belajar apa dari situasi/kejadian ini? Harus bagaimana saya bersikap? Kira-kira pertanyaan inilah yang seringkali menjadi refleksi saya. Saya belajar untuk mengembangkan kepribadian yang baik, yang memang seharusnya dimiliki oleh seorang perempuan.

Waktu ada orang yang melakukan hal jahat kepada saya, saya berusaha untuk gak membalas dan punya sikap kasih. Ini gak gampang! Waktu saya lagi merasa sedih karena suatu hal, saya belajar untuk bersukacita. Hati kecil saya yang seringkali mengingatkan.

Soal kedamaian, saya belajar untuk jadi perempuan yang gak dibebani oleh sesuatu yang memang saya tahu ujungnya gak memberikan kebaikan apa-apa bagi saya. Dikala hati ini dipenuhi oleh keinginan, saya belajar untuk menguasai diri.

Buat saya pribadi, gak mudah menjadi perempuan yang punya kelemahlembutan. Dibesarkan oleh ayah yang berdarah ambon, dengan sifatnya yang keras, sedikitnya mempengaruhi saya dalam hal berespon. Saya sebut dengan, ngotot. Tapi di sinilah saya belajar dan terus belajar untuk mengikis kebiasaan yang buruk, untuk bisa tenang, punya hati yang lembut dan tidak mempertahankan ego.

Mengenai kebaikan. Sebelumnya, saya ini adalah orang yang berpikir bahwa yang namanya melakukan kebaikan adalah ketika seseorang melakukan hal-hal yang besar, seperti menolong orang miskin, orang-orang sakit, yatim piatu, dsb. Belakangan saya baru sadar, kebaikan itu wujudnya bisa melalui hal-hal yang sepele. Tapi yang sepele itu, waktu dilakukan dengan sepeluh hati, wah! Akan sangat bermanfaat dan mengena di hati si penerima. Kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? Pertanyaan ini yang suka mengingatkan saya untuk senantiasa berbuat baik. Saya mengusahakan, paling tidak ada 1 kebaikan yang saya lakukan tiap hari. Misalnya, menjaga keponakan, mengantar adik, melayani orang tua, memberi perhatian kepada teman, dsb. Kelihatannya simple, tapi waktu dilakukan dengan sepenuh hati, puas rasanya.

Menjadi perempuan yang memiliki kemurahan hati, juga tidak mudah. Saya masih berlatih dalam hal ini, tidak menahan hal-hal yang baik kepada orang yang memang perlu menerimanya. Juga untuk menjadi perempuan yang punya kesabaran. Kadang-kadang perempuan bisa frustasi atau putus asa kalau tidak kunjung mendapatkan apa yang diharapkan atau diusahakannya. Selain sabar terhadap situasi ataupun orang lain, saya belajar bersabar terhadap diri sendiri, untuk setiap kelemahan dan proses yang saya perlukan, tidak menjadi orang yang mudah stress atau putus asa.

Proses belajar yang saya jalani, termasuk pula soal kesetiaan. Menjadi orang yang berada di tempat yang seharusnya dan dapat diandalkan. Saya melatih hal ini dari lingkup keluarga dan pekerjaan - tempat di mana waktu saya paling banyak habis. Saya terus belajar dan belajar untuk menjadi kakak, adik, anak, tante, yang bisa diandalkan, juga menjadi karyawan yang bisa dipercaya.

9 hal ini terus menerus saya latih; Kasih, sukacita, kedamaian, penguasaan diri, kebaikan, kemurahan, kelemah lembutan, kesabaran, dan kesetiaan. Tidak selalu berhasil memang, tidak jarang saya gagal.

Untuk itu, saya belajar untuk setiap waktu bisa memaknai jati diri saya sebagai perempuan; saya adalah perempuan dan saya perlu memiliki kualitas seorang perempuan. Setiap hari belajar jadi perempuan! Waktu saya tahu siapa diri saya dan harus seperti apa saya bersikap, maka saya akan jadi orang yang lebih peka dan mau belajar untuk berubah.

Urbanesse tentu tahu pangeran George-putera dari pangeran William dan Kate Middleton. Dari pribadi ini, saya juga jadi lebih paham bagaimana kualitas seorang perempuan memang perlu dibangun.

Analoginya seperti ini: George kecil terlahir sebagai anggota kerajaan. Ini sudah kodratnya. Secara status, ia adalah seorang pangeran, dan semua orang di seluruh dunia tahu hal itu. Tapi, untuk menjadi pangeran yang sesungguhnya, cucu dari pangeran Charles ini butuh yang namanya "proses". Ia perlu dibentuk. Dengan kesadaran akan identitasnya itu, ia nantinya harus menjalani proses pembelajaran selama bertahun-tahun supaya hal-hal yang dibutuhkan dalam kepribadian seorang pangeran ada dalam dirinya. Gambaran inilah yang membuat saya sendiri jadi lebih ngeh akan posisi saya saat ini sebagai perempuan.

Bayi kecil George, punya (jiwa) pangeran dalam dirinya yang perlu dibentuk. Saya, juga tidak berbeda. Inner beauty perlu dipoles, supaya terpancar keluar. Menjadi perempuan, perlu belajar. Bukan untuk mengejar kesempurnaan, tapi justu untuk menjadi diri saya yang seharusnya. Belajar terus, berlatih terus, sampai akhir hayat.

Kasih, sukacita, kedamaian, penguasaan diri, kebaikan, kemurahan, kelemah lembutan, kesabaran, kesetiaan kiranya menjadi bagian hidup saya (dan juga Urbanesse) sehari-hari!



Unknown

No Comments Yet.