Bekerja di Dunia Pria, Pertahankan Wanitamu!


Monday, 30 Nov -0001


Semasa kuliah tidak pernah terpikir saya akan bekerja di dunia pria seperti  kontraktor. Apalagi saya lebih cenderung memiliki karakter 'wanita' ketimbang tomboy, meskipun kuliah di jurusan Teknik. Namun pengalaman kuliah kerja di proyek gedung perkantoran di daerah MT Haryono Jakarta telah membuat saya merasa lebih tertantang dan bersemangat untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang dunia kontraktor. Bagi sebagian teman, ini aneh. Karena kontraktor biasanya identik dengan dunia kerja pria, para insinyur sipil dan cenderung keras. Jam kerjanyapun kadang tak mengenal waktu. Dan bagi sebagian wanita yg telah lama bekerja di kontraktor, sifat mereka rata-rata tomboy, hanya mengenakan make up minimalis atau bahkan tanpta make up, dan gaya bicara ceplas ceplos, to the point dan suara keras  meniru cara bicara pria. Namun passion saya begitu kuat. Dan kebanyakan orang tertawa ketika saya bilang tetap ingin mempertahankan gaya feminin, tetap bermake up dan merawat muka, serta berbicara dan bersikap layaknya wanita. Bisa gak ya?

Singkat cerita, setelah lulus kuliah, saya diterima di salah satu BUMN ternama yang biasa mengerjakan proyek bangunan, jalan dan irigasi. Saya ditempatkan di sebuah proyek mall ternama  yg kebetulan sekali memakai sistem Design and Build, designnya belum matang dan dikerjakan sambil jalan, jadi peranan seorang arsitek di situ sangat besar sekali. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di proyek tersebut, saya bertekad tidak akan mengubah sifat saya. Saya harus BERANI MENJADI DIRI SENDIRI. Tidak harus serta merta meniru gaya rekan kerja pria, saya tetap wanita yang punya style sendiri dan mempertahankan karakter wanita. Tetap memakai make up walau tidak lebay, Pelembab, alas bedak, bedak dan lipstik, itu suatu keharusan. Kita tidak mau kan kulit muka jadi terbakar sinar matahari, jerawatan dan tampak cepat tua? Ya betul, sebagai wanita kita tetap menjaga penampilan. Karakter seorang wanita yang penuh kasih dan selalu membawa suasana sukacitapun segera mengisi hari-hari di proyek. Proyek juga menjadi jauh lebih segar, karena saya juga  memakai parfum beraroma segar. Hal itu membawa perubahan positif terhadap rekan-rekan pria juga lho, mereka jadi lebih rapi dan menjaga penampilan, tidak berpenampilan semberono seperti sebelumnya. Siapa sangka, kehadiran karakter wanita yang penuh kedamaian di proyek juga dapat membawa perubahan positif. Selain harus smart, ternyata penampilan dan gaya kita juga memegang peranan penting, termasuk bila kita memilih bekerja di dunia pria.

Hal selanjutnya yang menjadi pilihan saya adalah BE DIFFERENT. Maksudnya? Style saya harus beda dengan kebanyakan rekan pria. Terhadap rekan kerja dan pihak lain seperti Owner, konsultan, sub kontraktor dan supplier, kita dapat membangun hubungan personal. Tidak perlu menunggu meeting untuk menyelesaikan hal penting. Perlu inisiatif tersendiri untuk lebih menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, selama itu demi kebaikan semua dan tidak menyalahi prosedur. Dengan menerapkan karakter khas wanita yang penuh penguasaan diri, kebaikan dan kemurahan, kita dapat menyelesaikan berbagai masalah lebih cepat dan tanpa  friksi yang berarti.  Pada saat meeting, banyak masalah yang telah terselesaikan sehingga menghemat waktu. Semua itu karena hubungan personal yang telah saya bangun baik-baik dengan berbagai pihak. Termasuk dalam menghadapi para supplier yang "bandel", taktik ini juga saya terapkan. Hadapi mereka dengan suasana yang tidak tegang, bahkan kadang saya ajak bercanda dan bicara baik-baik. Hasilnya, merekapun menuruti keinginan kita tanpa banyak argumentasi. Lebih baik kan daripada harus adu otot?

Mengatasi persoalan di lapangan yang seringkali terjadi, dapat juga dengan gaya kita sendiri. Tidak perlu ngotot. Banyak sekali persoalan koordinasi lintas bidang karena berkaitan dengan struktur, mekanikal elektrikal serta finishing arsitektur. Semua bisa didiskusikan intern dulu dan bagaimanapun juga, keputusan sedapat mungkin tetap berada di tangan saya sebab mata konsumen awam tidak akan melihat kolom dan balok struktur yang bermasalah atau pipa mekanikal yang malang melintang di atas plafond atau di dalam dinding, tapi mereka terpukau pada  keindahan finishing akhir arsitektur. Setelah semua masalah diselesaikan secara intern, kekompakan tim kerja tentu menjadi jauh lebih baik. Dalam menghadapi setiap masalah yang diberikan oleh Owner atau pihak lain, tim kami telah memiliki penyelesaiannya dan "satu hati". Tentu saja semua tetap berpatokan pada kontrak yang ada dan kita tidak rugi.

Bagaimana dengan menghadapi masalah yang berhubungan dengan pekerja lapangan seperti mandor dan para pekerjanya? Tetap saya gunakan style sendiri yang berbeda dengan rekan pria. Kelemahlembutan seorang wanita ternyata bisa menjadi senjata ampuh. Selalu mendengar apa keluhan dan kesulitan mereka, kemudian jelaskan keinginan kita pada mandor, agar pekerjaan yang dilakukan tidak salah, dengan demikian dapat lebih menghemat waktu dan biaya. Para mandor dan rekan kerja lebih cepat mengikuti keinginan kita apabila kita bertutur kata dengan lembut, tidak memerintah. Misalnya banyak sekali terjadi masalah dalam pemasangan dinding keramik, lantai keramik dan sanitary kamar mandi apartemen karena menuntut presisi dan ketelitian tingkat tinggi. Kesabaran kita adalah kunci utamanya. Para pekerja lapangan harus diberi penjelasan sedetail mungkin agar tidak terjadi kesalahan atau bongkar pasang keramik. Dan saya bersyukur, mereka jarang protes.

Tak jarang pula, bila terjadi permasalahan dengan pekerja lapangan yang berakibat suasana menjadi panas, para rekan pria meminta saya untuk menyelesaikan. Walau tak semudah membalikkan telapak tangan, ternyata perkataan yang lembut dan empati kita dapat dengan cepat mencairkan panasnya suasana dan persoalan dapat lebih mudah diselesaikan. Win win solution. Bingo....!

Terakhir, jadilah BINTANG. Berapa banyak wanita yang bekerja langsung turun ke lapangan pd suatu proyek?  Bisa dihitung dengan jari. Kalaupun ada beberapa pegawai wanita, kebanyakan bertugas di kantor proyek sebagai administrasi keuangan, personalia atau sekretaris. Jarang sekali arsitek wanita menginjakkan kaki di proyek dan bersedia ikut susah payah bekerja dengan kondisi proyek yang sedang dilaksanakan. Bila kita dapat mencuri perhatian para pihak yang terlibat disana dengan style kita, dengan penuh kesetiaan dan dedikasi tinggi, bisa ditebak, semua orang pasti mengenal dan mengingat kita. Hal ini dapat terjadi di berbagai bidang pekerjaan, bukan hanya di kontraktor saja. Menurut saya dan beberapa teman yang sama-sama memilih bekerja di dunia pria, tantangan disana lebih banyak tapi sekaligus banyak sekali pengalaman mengasyikkan yang terjadi. Godaan tentu juga banyak. Dan kita harus tebal kuping mendengat celotehan dan cara bercanda mereka yang suka kelewat batas. Namun para rekan kerja lelaki itu lebih melindungi dan memperhatikan kita sebab wanita merupakan sesutu yang langka ada di sana. Perubahan di diri saya juga nyata terlihat setelah langsung berkecimpung di dunia kerja pria. Saya menjadi lebih sabar, bisa mengendalikan emosi, tetap optimis dan sukacita apapun keadaannya, dalam menghadapi masalah seberat apapun.

Jadi, urbanese jangan takut bila harus bekerja di dunia pria, sebab dengan tetap mengandalkan otak dan kemampuan kita, ditambah style unik kita untuk tetap sesuai kodrat sebagai wanita dengan segala plus minusnya, kita dapat menjadi bintang di dunia kerja pria. Namun yng harus diingat adalah, bagaimanapun kita mempertahankan sifat feminin, kita juga harus dapat menyesuaikan dengan gerak cepat pria dan dilarang manja. Buktikan bahwa kita adalah wanita feminin yang smart, mandiri dan dapat diandalkan dalam mengtasi berbagai persoalan yang ada dalam pekerjaan.



Unknown

No Comments Yet.