Bekerja Dengan Laki-Laki


Monday, 30 Nov -0001


Orang sering berkata bahwa bekerja dengan kaum pria itu lebih rasional daripada bekerja dengan wanita yang cenderung lebih emosional, sehingga lebih mudah untuk bekerja secara rasional dengan pria.

 

Tapi dengan berjalannya waktu saya melihat, bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar. Mungkin para pria-pria itu memang mau terlihat “cool and collected” karena mereka dari kecil dididik demikian sehingga mereka berusaha terlihat demikian.

 

Kaum pria itu sebenarnya setelah saya amati mempunyai banyak emosi juga dalam bekerja, namun tidak diperlihatkan secara fisik, namun kita bisa melihat hasil dari emosi tersebut. Mari kita belajar dari 3 kasus di bawah ini:

 

Saya mempunyai 1 bawahan bernama Jack. Jack sudah mempunyai hubungan pacaran dengan Karenina, dan dari awal saya sudah mengatakan bawah jika kalian mempunyai  hubungan special di kantor, apapun itu hubungan kalian harus bisa menjaga kinerja kerja  secara professional.

 

Beberapa bulan berlalu dan mereka putus karena Jack merasa belum siap memberikan komitmen yang diminta oleh Karenina. Lalu semua berjalan seperti biasanya dan tiba tiba saya mendapat kabar dari jack bahwa dia mendapat kesempatan kerja di tempat lain dengan posisi dan gaji yang lebih besar. Karena saya tidak mau menego kembali posisi Jack maka saya biarkan Jack pindah ke perusahaan lain. Ternyata, saya baru tahu dari atasannya langsung bawah sebenarnya Jakc bukan mendapat jabatan dan gaji yang lebih tinggi diluar dan alasan utama dia keluar adalah supaya tidak bertemu Karenina lagi. Cukup emosional menurut saya walau dibungkus dengan tema “mengejar karir yang lebih baik”.

 

Lalu saya mempunyai anak buah laki-laki yang lain, Jimmy, yang saya tahu jabatannya akan saya naikkan. Namun dalam perjalanan untuk naik ke jenjang berikutnya, dia melakukan kesalahan. Dia berusaha menutupi kesalahan - kesalahan teman kerjanya. Padahal dia juga tahu bahwa kenaikan posisi itu bisa saya batalkan apabila saya menenemukan kesalahan tersebut. Jika mau berkata tentang logika bukannya seharusnya dia tetap saja bekerja dengan baik tanpa mengambil resiko tersebut? Jadi saya bisa juga mengatakan dalam kasus ini anak buah saya Jmmy itu baper.

 

Saya juga pernah bekerja dengan 2 atasan pria. Kedua atasan saya ini mengetahui bahwa salah satu rekan senior dalam manajemen perusahaan kami akan diminta untuk  mengundurkan diri,  tetapi setiap kali saya bertanya kepada mereka, mereka  seperti memberikan jawaban yang  berputar-putar. Akhirnya setelah saya desak, mereka mengatakan “Walau kami tahu apa yang harus kami lakukan tapi kami tidak tega karena kami kenal baik dengan orang ini”. Mereka ini adalah atasan- atasan dengan posisi yang sangat tinggi. Mendengar jawaban ini saya kaget juga. Tapi saya menyadari, semua orang punya perasaan dan punya toleransi.

 

Kalau saya lihat para kaum pria  itu bukan “less emotional” mereka merasakan hal yang sama dengan wanita, tapi cara mereka mengungkapkan perasaan itu berbeda dengan wanita. Mereka akan mengungkapkan perasaan itu dengan cara yang terlihat logis, sedangkan wanita terkadang menunjukkan emosi yang ada seperti apa adanya.

 

Jadi sekarang kalau saya di kantor bekerja saya tidak membeda-bedakan “Ohh karena mereka pria pasti mereka lebih logis, lebih tidak terbawa perasaan”. Tapi menurut saya semua orang mempunyai perasaan yang patut kita perhatikan dan kita jaga.  Tetapi kalau mereka melakukan hal hal yang tidak logis, saya tidak akan mengatakan “Kok pria begitu ya?” Tapi lebih, ya semua orang bisa terbawa perasaan yang penting bagaimana setelah itu kita menyelesaikan masalah yang ada.

 

Ekspektasi saya untuk pria lebih logis itu sudah tidak ada, dan juga ekpektasi saya bahwa wanita lebih baper juga saya kurangi karena banyak sekali wanita wanita yang saya lihat mengambil keputusan yang tepat didalam suasana emosi yang cukup keruh.

 

Tapi apakah laki-laki ingin merasa dirinya dianggap logis? Saya rasa iya, karena itu tadi ekpresi dari perasaan mereka biasanya dilogis logiskan. Jadi alangkah baiknya kalau kita bisa memberikan kehormatan yang mereka inginkan namun juga mengerti landasan utama mereka mengambil keputusan tertentu, dan jika keputusannya yang diambil kurang tepat, kita bisa mengarahkan secara diplomatis. Itu yang saya pelajari tentang cara bekerja dengan pria di kantor.

 

 

 

 

 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.