Because You Deserve Peace


Monday, 30 Nov -0001


Buat semua yang pernah jatuh cinta (red: mabuk kepayang) mungkin bisa mengerti ketidaktenangan yang saya alami sekitar 3-4 tahun lalu -- suatu pertemuan yang singkat tetapi telah meninggalkan jejak sampai sekarang.  Mohon maklumi cerita yang agak panjang ini…

Ketika itu saya sedang dikirim training ke luar negeri, saya bertemu dengan seorang pria yang cukup menawan. Karena kami ditugaskan dalam satu grup, saya dapat mengenal lebih jauh si dia - pekerja keras, smart, ramah, dan sayang keluarga, dan dia juga berasal dari suatu tempat yang saya selalu idamkan sebagai paradise. Hubungan professional kami berkembang lebih karena kami sering hangout di luar jam training. Selama itu, saya terus berpikir ini adalah sesuatu yang “too good to be true”. Bagaimana tidak, di luar semua karakter yang saya sebutkan sebelumnya, fisik si dia juga menarik. Secara professional, dia termasuk yang terbaik di bidangnya dan dia sabar untuk mengajarkan kepada teman-teman satu grup yang tidak. Dan yang paling penting, dia juga tertarik kepada saya.

Di tengah whirlwind chemistry yang ada dan kenyataan bahwa training akan berakhir sebentar lagi, kami tidak pernah membahas akan kelanjutan hubungan ini. Kami sadar bahwa jarak di antara kami tidaklah memungkinkan untuk suatu hubungan yang lebih serius. Bila anda kenal dengan saya, anda tahu saya bukan tipe orang yang ‘pecicilan’, dan mungkin akan kaget karena saya membiarkan diri terhanyut suasana.

Sesampainya saya di Jakarta, saya kaget bercampur excited karena saya lihat akun g-chat saya menerima panggilan dari si dia. Chat kami yang berawal untuk sekedar ngobrol dan tahu lebih dalam tentang budaya dan gaya hidup masing-masing lalu berlanjut pada pertanyaan si dia akan potensi hubungan kami untuk tahap selanjutnya. Walaupun kami sudah membahas pro dan con dari hubungan jarak jauh ini dan tahu akan risikonya, kami terus chat selama 1 bulan ke depan. Kami saling menyesuaikan waktu lantaran perbedaan timezone, walaupun biasanya dia yang harus menunggu saya. Saya bahkan sempat berpikir untuk menggunakan cuti saya untuk mengunjungi si dia.

Tak lama kemudian, realita berbicara sebaliknya. Kesibukan kerjaan masing-masing ditambah adanya perbedaan waktu mulai membuat chat kami menjadi sangat berkurang. Email saya lama sekali baru dibalas dan dia sudah tidak terlihat online di waktu yang biasanya dia rela menunggu saya selesai kerja dan sampai ke rumah. Saya menjadi sangat bingung dan tersiksa akan status hubungan kami. Di satu sisi saya paham sekali akan kondisi hubungan kami yang fragile (pertemuan kami yang singkat, hubungan jarak jauh, asal dan budaya kami yang bertolak belakang), tetapi di sisi lain, saya masih berharap kami mampu membangun kepercayaan dan hubungan yang kuat bila memang kedua pihak mau berusaha.

Berbulan-bulan saya selalu menunggu kabar dari si dia. Saya berulang kali cek hp hanya untuk melihat apakah ada pesan yang masuk dari si dia. Hati saya selalu berdebar setiap kali hp saya berbunyi menandakan adanya SMS/chat yang masuk. Saya juga kerap cek wall facebook dia hanya untuk melihat apa dia menyapa teman-temannya yang lain, apa memang hanya saya seorang yang dicuekkin. Saya juga membaca semua komentar teman-temannya di Facebook, browse semua foto-fotonya untuk mengenali karakter dia yang sebenarnya.  Saya bisa sangat senang bila saya tidak bisa menemukan any red flag untuk menjustifikasi semua pemikiran yang negatif tentangnya.

Saya sering membaca ulang semua past conversation dan email kami hanya untuk mencari tahu apa ada maksud lain di balik kata-kata yang ditulisnya. Tidak jarang juga saya terbangun tengah malam, dan hal pertama yang saya lakukan yaitu meraih HP dan login ke gTalk atau Skype , saya selalu berpikir “What if dia online, apa yang harus saya katakan - haruskah saya marah kepadanya? Atau berpura-pura semua tidak pernah terjadi?” Sewaktu namanya tampak offline, saya bisa menangis tersungut- sungut sampai kemudian saya tertidur dengan sendirinya.

Saya seakan-akan memiliki dua suara hati yang berbeda. Di satu sisi, saya merasa bahwa si dia benar-benar tulus terhadap saya; bahwa semua tindak tanduknya memiliki alasan yang kuat. Namun di sisi lain, saya berpikir apakah selama ini dia hanya mempermainkan saya, apa pandangan teman saya akan si dia memang benar – bahwa dia bukan pria yang dapat dipercaya, pria yang suka mempermainkan perasaan wanita.… Semua pikiran itu terus berulang di benak saya. Saya semakin tidak bisa mengenali suara mana yang bisa saya percaya, karena masing-masing ada pembenaran yang tidak bisa saya tolak.

Konflik pikiran yang tidak kunjung berhenti membuat saya menjadi sangat tidak tenang. Semua itu hanya karena saya menunggu suatu jawaban – kebenaran itu sendiri. Saya tidak habis pikir mengapa dari awal saya membiarkan diri terhanyut begitu saja. Ketidaktenangan ini berlanjut hampir setahun lamanya, sampai suatu waktu saya berdoa untuk minta pertolongan, saya juga cerita kepada teman-teman terdekat saya. Semuanya mengingatkan saya untuk menerima kenyataan yang ada, tidak usah menunggu atau mengharapkan sesuatu yang tidak jelas, dan keep moving on. Memang susah awalnya bagi saya, apalagi selama ini saya terus merasa si dia tidak bermaksud untuk melukai saya.

Saya tertegun ketika saya banyak membaca artikel mengenai the power of thoughts. Saya menyadari bahwa “peace is to be found within, and unless one finds it there he will never find it at all. Peace lies not in the external world. It lies within one’s own soul”. Sejak saat itu, saya mulai rela melepaskan semua harapan, kebimbangan, ketidakjelasan – semua pembenaran yang mungkin saya buat semata-mata untuk menyenangkan diri sendiri. Saya sangat plong begitu saya menapakkan kaki untuk keluar dari lingkaran setan itu karena saya tahu semua berawal dari diri saya sendiri. Pemikiran-pemikiran yang tidak saya kontrol dengan baik itulah yang menjadi awal dari permasalahan saya.

Saya sebenarnya mendapatkan satu kesempatan terakhir untuk bertemu dengan si dia. Momen itu adalah suatu closure yang saya sangat nantikan. Tepatnya hampir dua tahun yang lalu, saya sedang menghadiri konferensi di kota tempat dia dulu bekerja. Saya SMS ke no dia yang saya punya dulu tanpa mengetahui apa dia memang berada di kota itu, ataupun dia masih memiliki nomor yang sama. Saya sangat speechless ketika saya menerima SMS balasan dari si dia bahwa dia juga sedang ada keperluan kerjaan di kota itu pada minggu itu. Dalam hati, saya sudah merasa semua pertemuan ini sudah diatur. Kami kemudian janji bertemu untuk dinner bersama dengan teman-teman seangkatan training lainnya malam itu, tetapi, tiga teman kami lainnya bail. Alhasil kami hanya dinner berdua. Tetapi mungkin tidak seperti yang Anda harapkan, mulut saya serasa tidak mampu untuk mengungkit atau menanyakan kepahitan yang saya rasakan selama satu tahun itu. Dia sendiri juga tidak berinisiatif untuk menjelaskan apa pun. Dan tidak habis pikir lagi, dia masih bisa mengenggam tangan saya seakan-akan dia tidak pernah berbuat salah. Sebenarnya pada saat itu, saya bisa saja confront si dia dan mencurahkan semua keluh kesah saya dan meminta kejelasan. Karena akhirnya, dirinya benar-benar ada di depan muka saya, tidak hanya dalam angan-angan saya. Tetapi, saya sudah bertekad untuk move on untuk kebaikan saya sendiri.

Sekarang ini, saya sudah tidak berhubungan dengan si dia. Saya sudah berhenti menanti-nantikan balasan email, SMS, maupun chat-nya. Ijinkan saya untuk menutup sharing saya dengan kiasan berikut “Forgive others not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace.”

 

 Sumber Gambar: Keyoh[/caption]



Unknown

No Comments Yet.