Be Gentle and Be Tough


Monday, 30 Nov -0001


pixabay.com

 

Lemah lembut adalah sesuatu yang sangat identik dengan sikap seorang perempuan. Mereka sosok sebenarnya dari sebuah kelembutan karena dari perempuanlah lahir kehidupan baru, hingga membesarkan dan menjadikan mereka sebagai pribadi-pribadi yang diharapkan memberi kebaikan bagi dunia. Lemah lembut erat kaitannya dengan merawat dan mengasihi. Itu sebabnya, perempuanlah yang menjalani tugas sebagai seorang ibu, dengan segala sikap kelemahlembutan mereka.

Saya sendiri tak pernah punya bakat untuk segala kelemahlembutan. Sebagai anak sulung yang berasal dari tanah Sumatera Utara, saya asing dengan segala bentuk kelembutan dan gemulai perempuan anggun. Dan satu hal lagi, saya sungguh temperamen dan bossy. Tapi itu dulu. Saya tak ingat kapan tepatnya, namun pastinya sejak saya mengenali fitrah diri saya dan melihat situasi sekeliling dengan berbagai sudut pandang. Saat masih kuliah, seorang senior pernah mengatakan agar saya bisa berjalan sedikit lembut dan memelankan suara saya, yang tentu saja hanya saya acuhkan. Bagi saya, menjadi lembut bukan sekedar berjalan lembut dan perlahan atau berbicara dengan suara yang mendayu, namun ini adalah sebuah sikap.

Saya yakin semua Urbanesse punya patokan dan sumber masing-masing tentang standar sebuah kelemahlembutan. Saya sendiri belajar tentang makna tersebut dari perempuan paling lembut dalam hidup yang pernah saya kenal, orang yang melahirkan saya. Di mata saya, Mama adalah sosok perempuan paling lembut namun juga paling keras terhadap hidupnya. Dulu saya hanya menyerap sikap kerasnya terhadap hidup, sehingga membuat saya begitu hitam dan putih dalam menyikapi segala sesuatu. Saya hampir tumbuh menjadi orang yang tidak mentolerir setiap kesalahan dan segala alasan dibaliknya, karena masa kecil saya yang tidak bisa dikatakan indah untuk ukuran anak kecil. Saya masih tumbuh dengan kemarahan masa kecil sehingga saya ingin semua orang bisa merasakan apa yang saya rasakan saat itu.

Namun meskipun keras kepala dan temperamen, saya tak pernah absen bercerita banyak hal dengan mama saya. Itu adalah saat-saat ketika saya mulai belajar banyak tentang makna sebuah kelembutan. Mama saya telah hidup dan mengarungi pernikahan yang mungkin tidak bisa dibayangkan oleh kebanyakan orang. Ia telah merasakan begitu banyak sakit dan penderitaan, ketika seharusnya pernikahan memberikannya seseorang dan sesuatu untuk melindunginya. Saya harus bersyukur kepada Tuhan, karena ia tidak pernah menyerah. Ia hanya bertransformasi menjadi perempuan yang bersikap keras terhadap hidupnya yang tidak ringan, namun tak pernah kehilangan sisi kelembutannya terhadap anak-anaknya. Ia tidak memberikan kami hidup yang sama seperti yang dialaminya, setidaknya tidak dari dirinya.

Dulu saya tidak bisa mentolerir kesalahan sedikitpun. Saya menjadi seseorang yang tidak begitu percaya kepada orang, sehingga membuat saya kewalahan karena harus mengerjakan segala sesuatu sendiri. Emosi saya juga gampang tersulut oleh SPG yang keterlaluan dalam menilai seseorang, atau makanan yang tidak sesuai dengan yang saya pesan. Namun semua mulai berubah karena masa kecil saya juga. Jika tadinya saya ingin orang lain merasakan penderitaan, kini saya mulai mengubah pikiran saya bahwa karena saya tahu rasanya seperti apa, maka saya tidak ingin menjadi orang yang menyebabkan penderitaan untuk orang lain.

Kini saya selalu mencoba melihat segala hal dari sepatu orang lain, agar bisa lebih berempati. Saya tidak akan mengatakan ini semudah membalik telapak tangan, karena prakteknya sungguh tidak segampang itu. Tapi setiap kali sirkuit emosi saya mulai memendek, saya akan cepat memperhatikan segala aspek yang mungkin bisa mengalihkan saya dari soal hitam dan putih.

Namun saya tidak akan mengatakan bahwa untuk menjadi seseorang yang penuh cinta kasih dan kelembutan lantas kita harus mentolerir segala hal tidak benar yang terjadi di sekitar. Dalam terminologi self leadership, ada yang namanya circle of concern (COC)  dan circle of influence (COI). COC adalah hal-hal dari luar yang tidak bisa kita kontrol, misalnya kecelakaan beruntun, air yang ditumpahkan oleh waiter, atau bencana alam. Sementara COI adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri kita, sebuah proses jeda emosi tentang bagaimana kita memilih response dari COC yang ada. Apakah kita akan marah-marah atau memberikan pengertian kita, sepenuhnya ditentukan oleh COI ini yang tentunya berasal dari nilai-nilai yang kita yakini.

Ketika saya misalnya memaklumi sikap seorang pengendara di jalan yang menyalip ugal-ugalan, bukan karena saya takut, saya hanya mencoba mencari banyak alasan tentang kenapa ia harus melakukan hal seperti itu, sehingga saya tak perlu marah-marah tak jelas di jalanan. Ketika saya tidak diladeni di sebuah toko sepatu karena sang SPG menilai penampilan saya dan menyimpulkan bahwa saya tidak bisa membayar, saya memang sempat terdiam. Saya yang dulu mungkin akan segera mendamprat orang yang bersangkutan. Namun bukan keadaan dari luar yang saya izinkan untuk menentukan sikap saya, tapi sepenuhnya nilai-nilai personal saya sendiri.

Tentu saja, sebagian mungkin akan berpikir, apakah kita harus jadi seseorang yang pasif untuk menjadi perempuan yang lemah lembut? No, justru disinilah sikap asertif dalam komunikasi menjadi kesempatan untuk diterapkan. Selama ini, kita sebagai bangsa timur masih segan untuk mengungkapkan pendapat atau mengkritik orang lain. Sehingga sikap lemah lembut seringkali diartikan sebagai sikap pasif dan pasrah. Katakanlah misalnya ketika seorang waiter menumpahkan air secara tidak sengaja dan kita hanya mengatakan; ok tidak apa-apa, ini cuma air. Masalah selesai dan kita berharap ia lebih berhati-hati ke depannya. Namun sebagian lagi bisa menafsirkan ini sebagai sebuah pemakluman bahwa tidak apa-apa jika membuat kesalahan. Betul, tidak ada yang salah dalam membuat kesalahan. Yang salah adalah ketika sikap lemah lembut kita disalahartikan bahwa kita akan selalu memaklumi semua kesalahan seperti itu. Saya pribadi biasanya tidak pernah membesarkan hal-hal kecil seperti ini, tapi saya juga mengatakan kepada yang bersangkutan bahwa jangan sampai ‘kesalahan-kesalahan’ kecil ini terjadi lagi.

Menjadi lemah lembut bukan berarti seperti apa kata senior saya saat kuliah dulu, berjalan lemah lembut dan memelankan suara. Bagi saya, lemah lembut adalah memahami semua hal yang tidak diinginkan dari berbagai sudut pandang dan membiasakan berempati. Lemah lembut bukan untuk menunjukkan kita sebagai perempuan hanyalah sekedar makhluk yang lembut. Dalam tataran yang lebih global, kita menggunakan kelemahlembutan kita dalam bermacam hal positif lewat berbagai posisi dan aktivitas. Lady Di, Oprah Winfrey, Mother Teresa adalah sebagian kecil wujud perempuan lembut, namun sejatinya memiliki karakter kuat dalam menjalani pilihan hidup mereka.

Saya mungkin tidak akan pernah bisa berjalan gemulai seperti model, karena memang saya tidak bisa. Saya juga tidak bisa berbicara lembut layaknya Putri Solo, karena saya orang Sumatera. Saya percaya, kelemahlembutan sejatinya berasal dari hati, yang kemudian diterjemahkan lewat tindakan yang membumi. Bagi saya, kelemahlembutan terkadang memerlukan sikap tangguh untuk menjadikannya sempurna. Sekali lagi, saya percaya ada banyak versi tentang kelembutan dari semua Urbanesse. Dan saya pikir cara terbaik mengeksplorasinya adalah memberikannya kepada dunia.

 

IKA LUBIS



Unknown

No Comments Yet.